beranda

Senin, 11 Juni 2012

Pencinta Reptil di Batam

Melebihi Merawat Bayi

Pintu salah satu ruko di Pasar Mega Legenda itu terbuka lebar. Tidak biasanya ruko di Blok A1 no37-36 itu terbuka. ''Ini kebetulan saja, ingin bersih-besih. Biasanya saya buka pintu ruko ini hari Minggu,''kata Hendri pemilik hewan-hewan reptil yang ada didalam ruko itu.

Siang itu, Selasa (18/10), Hendri sendirian saja di dalam ruko. Karena biasanya, teman-teman anggota Batam Reptil Community (BRC) juga datang membersihkan hewan-hewan peliharaannya masing-masing. Beberapa anggota BRC memang menitipkan ular peliharaannya di ruko milik Hendri ini.

Hendri yang sedang asyik membersihkan aquarium beberapa kali kedatangan pengunjung. Mereka mengira toko hewan. ''Saya tadi mau cari ikan hias. Eh ternyata bukan pets shop ya,''kata seorang wanita bersama suaminya.

''Setiap kali buka, selalu saja ada yang datang. Umumnya, mereka memang mengira toko jual hewan. Biasanya saya menawarkan mereka untuk membawa anak-anaknya kesini, mlihat-lihat ular, kadal juga biawak. Kan juga rekreasi sekaligus belajar mengenal hewan,''kata Sarjana Tehnik Mesin Industri ini.

Kesukaannya pada bintang reptil ini bermula ketika Hendri menerima hadiah ular sebagai kado ulangtahun dari pacarnya. ''Sejak pemberian itu, saya mulai memelihara ular. Waktu itu umur masih 19 tahun. Makanya ular yang saya pelihara jenis berbisa. Saya masih suka dengan tantangan. Kalau sekarang jenis piton saja, yang tidak ada bisa. Karena umur sudah tua. Dulu, tangan saya ini nyaris busuk akibat gigitan ular peliharaan saya itu,''kata Hendri mengenang masa lalu ketika tinggal di Jakarta.

Kini koleksi ular milik Hendri hanya tersisa 27 ekor dari total keseluruhan 75 ekor, kebanyakan jenis Burmesse Pyton (ular berbadan bulat dengan warna-warna cerah seperti kuning). Koleksi terpanjang yang dimilikinya 2,5 meter. ''Dulu sebelum diruko ini, 75 ekor ular itu saya taruh dikamar. Ular-ular itu saya masukkan dalam kontainer plastik yang sudah dilobangi. Lalu saya susun. Karena diprotes papa dan melarang saya memelihara ular didalam kamar. Makanya saya pinjam gudang papa yang tak terpakai ini. Saya bersihkan lalu saya atur barang-barangnya. Sekarang tempat ini justru menjadi sekretariat kedua BRC setelah sekretariat pertama di rumah ketua BRC yang ada di toko Dunia Flora dan Fauna di Nagoya,''kata Hendri lagi.

Ular-ular itu tidak satupun dijual Hendri. Ia hadiahkan atau ia berikan pada teman yang minta. Ular-ular langka ini dipelihara sangat baik oleh Hendri. Masing-masing diletakkan dalam kontainer yang bersih. Bahkan makannya tikus putih yang juga dijaga kebersihannya. Ular-ular milik Hendri ini dibeli sejak bayi. Kira-kiranya sebesar telunjuk (30 cm) harganya sekitar Rp3 jutaan. Tak heran jika Hendri tak mau menjual ular-ular peliharaannya. Ia memilih merawat sampat besar.

Tahun 2004, Hendri mulai melirik kadal. Kadal pertama yang dibelinya di Amerika seharga Rp 9 juta. Kadal itu masih bayi ukurannya sebesar Bahkan saat pindah ke Batam, Hendri membawa 2 pasang kadal jenis Bearded Dragon (kadal asal Australia). Di Batam, salah satu kadal jantan mati. Tapi dari perkawinan dua pasang kadal itu, Hendri punya 38 ekor kadal. Kini kadal berwarna orange dan bermuka naga ini tinggal 7 ekor.

Tujuh ekor kadal itu diletakkan jadi satu di aquarium berukuran 1 meter. Aquarium itu di buat seolah-olah gurun pasir. Karena tidak ada tanaman hanya batu dan pasir. Kadal jenis ini paling suka tinggal di lingkungan yang kering, berbatu, kawasan semi-gurun atau hutan terbuka (yg penuh semak-semak).

Hendri juga mengajari kadal dan ular-ular peliharaannya itu buang air besar di tempatnya. Kadal-kadal itu dimasukkan dalam kontainer plastik yang berisi air. Benar saja, tak lama kadal atau ular yang ada di dalam tempat tadi mengeluarkan kotoran.

''Mengajarinya sama seperti ke anak. Dulu waktu masih baby, setiap dua jam setelah makan, kadal dan ular itu saya masukkan kedalam kontainer. Karena terbiasa mereka tidak pernah mengotori kandangnya,''kata Hendri yang setiap hari selalu menyambangi ruko itu.

Hendri juga bercerita betapa sulitnya merawat telur kadal yang akan menetas. Ia bisa satu hari tidak tidur. Karena menunggui telur-telur akan menetas. Kulit-kulit telurnya tidak bisa lepas sendiri. Harus kita yang bantu mengelupasinya. Bahkan ketika telurnya berubah menjadi penyet atau tidak bulat lagi harus segera dikupas kulitnya, agar bayi kadal tidak mati. ''Makanya saya harus lihat situasi dulu sebelum memutuskan mengawikan kadal. Karena saya butuh banyak waktu untuk menunggu proses menetasnya bayi kadal itu,''kata Hendri.

Dia mengaku kesukaannya pada reptil ini memang hobi gila. Hendri memang banyak meluangkan waktu untuk merawat semua hewan peliharaannya itu. Setiap jam 05.00 WIB ia sudah datang ke ruko untuk menghidupkan lampu yang ada di aquarium. Dan nanti saat pukul 18.00 WIB, Hendri datang lagi untuk mematikan lampu. Dan setiap harinya ia pasti meluang waktu untuk memandikan kadal dan ularnya minimal 3 jam. ''Kadang-kadang sampai jam 2 malam, rasanya kok asyik saja. Daripada saya melakukan hal-hal buruk diluar sana. Masih lebih baik ini kan,''kata pria yang  selalu menghabiskan uang Rp1 juta untuk membiayai makan seluruh hewan peliharaannya

Sesekali di ruko itu terdengar suara benda jatuh. Sesekali suara itu hilang. Tapi kemudian muncul lagi. Ternyata suara itu berasal dari seekor biawak berukuran setengah meter jenis Tegu yang berasal dari Argentina. Biawak itu hilir mudik diruangan itu. Ketika diberi tikus, dengan sigap ditangkapnya dan langsung digigit. Biawak ini terlihat jinak, walau banyak orang didalam ruangan ia tidak menggigit.''Namanya bleky. Saya pelihara dia sejak baby. Panjangnya masih 25 cm. Sekarang umurnya sudah 1,8 tahun. Saya sebut dia penjaganya ruko ini. Makanya saya sengaja melepas bleky tanpa dimasukkan kandang,''kata Hendri lagi.

Ketika Hendri asyik melihat tingkah laku Bleky, sebuah mobil berhenti didepan rukonya. Turun dari mobil itu dua orang pria dan seorang wanita. Salah satu dari pria itu menggendong seekor kera. Ternyata, mereka adalah anggota Batam Reptil Community. Pria yang membawa kera bernama Boni tadi seorang guru olahrga SMAN 3. Wahyudi namanya, penyuka ular sawah ini datang bersama Lisa, istrinya yang sedang hamil 5 bulan dan Samuel, anggota BRC yang juga mengkoleksi ular piton karpet.

Karena keterbatasan tempat, Wahyudi yang ditanya Batam Pos mengaku sudah melepas 4 ekor ular sawah ke hutan. ''Dirumah sudah ngak muat lagi. Disekolah juga sudah ada satu. Yang disekolah untuk pelajaran biologi. Makanya saya lepas saja. Baru-baru ini saya baru lepas 1 ekor ular sawah yang panjangnya 3,5 meter. Ular itu saya lepas di hutan seberang perumahan Cendana Batam Center,''kata pria yang piawai menangkap ular.

''Melalui komunitas ini, kami ingin melestarikan hewan reptil khususnya ular. Karena ada beberapa spesies ular langka. Makanya kami siap bantu menangkap ular yang mungkin nyasar masuk kerumah warga. Kami usahakan untuk tidak membunuh ular. Karena dengan membunuh 1 ekor ular berarti menghidupkan 20 ekor tikus,''kata Wahyudi.

Rully (25) anggota BRC yang baru saja datang ikut ambil bagian dalam obrolan itu. Penggemar ular pohon ini ternyata sangat menyukai hewan reptil berwarna hijau. Ia mengaku lebih aman memelihara ular ketimbang anjing. Menurut pemilik usaha Distro di Mega Mall ini, gigitan anjing sama saja ketika menggigit makanan atau tuannya. Sama-sama ganas. Kalau ular tidak, dia akan ganas jika menggigit makanan atau musuh.

Rully kemudian mengambil satu ekor ular warna hijau itu dari kontainer yang ada dibawah meja. Ular-ular milik Rully sengaja dititipkan di tempat Hendri. Ular pohon itu memang terlihat indah dengan warna hijaunya. Ketika diambil Rully dari kontainer, ular itu langsung melingkar ditangannya. Kepalanya saja yang bergerak kesana-kemari. ''Ini namanya Grino. Dia baik kok. Ngak ada bisanya. Lihat luka ditangan saya ini bekas gigitannya. Tapi ngak apa-apa. Sudah mau kering kok,''kata Rully sambil memperlihatkan tiga titik luka yang sudah mengering di lengan kirinya.

Rasanya tidak lengkap kalau tidak memelihara Tarantula, begitu kata Hendri. Ada beberapa tarantula dari luar negeri yang dipelihara Hendri. Mulai dari Tarantula yang menggulung mangsanya menjadi seperti kepompong. Juga Tarantula yang mengeluarkan bulu yang membuat influenza hingga sebulan. Tarantula itu diletakkan Hendri didalam wadah plastik tertutup yang juga dilobangi dindingnya. Sebagai medianya, Hendri memberi tisu yang disemprotkan air agar selalu lemban.

Hendri memang sangat serius merawat hewan-hewan peliharaannya itu. Ia selalu menyiapkan scout emulsian untuk vitamin, Combi untuk obat batuk, juga obat tetes mata untuk mengobati mata biawak. ''Dokter hewan saya adalah om google. Pokoknya setiap saat browing internet jika punya masalah dengan hewan-hewan peliharaan itu,''kata Hendri lagi. ***

1 komentar:

Unknown mengatakan...

mas/mba...

aqu baru dua minggu tinggal di batam,
mau tanya dhunk,
untuk batam reptile community,
belum ada situs/blog resmi nya ya...?

saya interest mau joint batam reptile community,
karena sebelum nya saya ( di surabaya ) juga punya reptile,
ball phyton dan carpet phyton.