beranda

Senin, 11 Juni 2012

Rizky, balita korban kekerasan ibu kandungnya.


Mulai Bicara dan minta diajak main

Siang itu, Sabtu sekitar pukul 10.30 WIB, saya akhirnya bisa bertemu Rizky, balita korban kekerasan ibu kandungnya di salah satu kamar di lantai dua di Rumah Sakit Bersalin Kasih Ibu Batam Center. Berdua dengan rekan saya, Lilis Lishatini kami akhirnya diberi izin menengok bocah malang itu. Sebelumnya kami sempat kesulitan karena selalu diminta surat izin dari kepolisian oleh seorang petugas keamanan di rumah sakit itu. Namun untung tak kemana, tak sengaja kami bertemu Dr. Amir Hakim pemilik rumah sakit itu di depan pintu masuk rumah sakit. Kamipun diberi izin menengok ditemani perawat Yosi.

Kami langsung naik ke lanti dua diantar menuju sebuah kamar yang letaknya diujung ruangan. Ketika pintu dibuka, perawat Yosi langsung menyapa sambil menuju salah satu tempat tidur  tepat berada didepan pintu kamar mandi. ''Hai Rizky, lagi ngapain,'' tanya Yosi. Saat itu Rizky sendirian berada di dalam kamar. Ia tengah berbaring sambil memegang pesawat mainan yang kami belikan ketika pertama kali menengok Rizky. Mainan itu kami titipkan pada perawat Yosi ketika kami belum boleh melihatnya. Ternyata dia sangat suka. Mainan itu terus digenggamnya. Sedangkan mainan lainnya ada disekeliling tubuhnya. Ketika perawat Yosi mendekat, ia mencium aroma kurang sedap. ''Oh.. Rizky pup ya,'' sambil ia melihat pampers yang dipakai Rizky. ''Mbak, tolong Rizky di ceboki,''kata perawat Yosi pada seorang perawat jaga. Sambil digandeng, Rizky pun dibawa kedalam toilet. 

Tak kurang dari lima menit, Rizky sudah selesai dan keluar dari kamar mandi. Didepan toilet, Rizky berdiri tanpa celana. Tampak kakinya yang kurus dan bekas-bekas luka di kakinya. Dia pun dingkat keatas tempat tidur. Diatas tempat tidur itu tampaklah makin jelas bekas-bekas kekerasan yang dilakukan ibu kandungnya. Kemaluannya pun bentuknya seperti tak umumnya. Mungkinkah, itu juga terkena saat dipukul ibunya. Karena bisa saja, ibunya memukul tanpa tentu arah. Ah..betapa kejamnya.

Setelah mengenakan celana, kami pun mulai bermain. Rizky yang tetap berada diatas tempat tidur mulai saya ajak bermain. Pesawat itu saya buat seolah-olah terbang dan akan mendarat. Awalnya tidak ada respon. Ketika saya ulang untuk ketiga kalinya, dia pun mulai mau menanggapi. Ketika pesawat itu datang ia sambut dan ditabrakannya pesawat itu dengan mobil-mobilan yang ada ditangannya. Ia senang... dan mulai tertawa. Begitu seterusnya. Ia mulai asyik. Sambil bermain, Lilis rekan saya yang juga mantan anggota Komisi Perindungan Anak Indonesia (KPAI) ini mencoba menawari roti yang ada dimeja. Wajahnya langsung tertunduk, tapi matanya melirik roti itu. Tadinya kami taruh saja didekatnya. Tapi tak juga disentuh. Kamipun teringat cerita perawat Yosi. ''Dia tak mau menyentuh makanan itu. Tapi kalau ditinggal sendirian, makanan itu langsung dilahapnya dengan cepat,'' kata Yosi saat pertama kali kami ketemu.

Akhirnya, Lilis memcoba mencuil roti bakar itu dan memasukkan kedalam mulutnya. Dia langsung melahapnya. ''Oh Rizky mau yah, ayo makan lagi,'' kata Lilis. Ketika suapa ketiga, Rizky tak mau membuka mulutnya. Dia hanya memalingkan mukanya saja. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. ''Rizky mau minum,''tanya Lilis. sambil menyodorkan segelas air putih. Ternyata mulutnya terbuka, dia langsung minum air itu. Setelah itu kami tawari untuk main lagi. ''Coba dijalankan pesawatnya, ayo kita main di lantai,'' kata Lilis. Kami pun pindah kebawah. Rizky makin terlihat senang. Apalagi ketika ia menabrak-nabrakan mobil dan  kereta api mainan itu. Dan salah satu dari mainan itu terpelanting ke dinding. Dia langsung tertawa keras. Kamipun coba mengingatkan kalau mainan itu nanti rusak kalau dimainkan seperti itu. Tapi dia sepertiya tak peduli. Dia tetap mengulanginya lagi.

Karena tidak ada permainan lain, kami coba alihkan dengan melihat tv. Didalam ruangan itu ada tv yang selalu menyala.Ketika kami pertama kali masuk kedalam ruangan dengan tiga tempat tidur itu, tv itu sedang menayangkan film kartun. Tapi Rizky tak tertarik. Ia malah berbaring membelakangi TV. Dia hanya bengong.
Kebetulan film kartun Spongebob baru saja mulai. Saya langsung saja mengajak bocah yang baru saja berulangtahun ke 4 tahun ini melihta tayangan itu. Sambil berdiri dia menengadah melihat TV yang tergantung dipojok ruangan. Sambil memasukkan mainan kedalam mulutnya, Rizky akhirnya ngomong. ''Apa itu...apa itu..apa itu,'' tanyanya. Saya pun menjelaskan kalau itu namanya Spongbob. Yang warnanya kuning dan dari spon. Hidupnya dilaut.  Dia mendengar, tapi tetap bertanya. ''Apa itu... apa itu... begitu terus.

Bosan nonton TV, Rizky kami ajak main kejar-kejaran. Dengan sedikit terpincang-pincang, Rizky mengejar Lilis. Dan tertawa terbahak-bahak ketika Lilis menjatuhkan badannya kelantai. Ia terus mengajak berlarian. Lilispun mulai kepayahan. Dan mengajak istirahat sebentar. Tapi Rizky terus mengajak berlarian dengan terus mendekati Lilis. Sedang asyik bermain, dua orang reporter Batam TV meliput Rizky. Melihat ada orang baru, Rizky mendekatkan badannya ke tubuh saya. Dia minta dipangku. Tapi tak lama, dia pun mulai minta diajak main seperti tadi. Selama disorot kamera, Rizky sepertinya tak terganggu. Asalkan proses pengambilan gambar dilakukan saat dia bermain. Kameramen Batam TV sempat mencoba meminta saya melihatkan luka-luka-luka di punggung, kuku dan lengannnya yang patah. Tapi Rizky langsung menggerakkan tubuhnya seolah tak mau melihatkan. Dan ketika wartawan Posmetro datang, Rizky juga bereaksi sama. Dia memilih mendekat ke saya. Ketika ditanya, Rizky tak pernah mau menjawab.

Tamu lain juga datang saat kami masih disana. Dua orang wanita dan seorang pria dari kepolisian. Mereka datang membawakan banyak sekali makanan. Rizky langsung tertarik dengan Astor. Makanan ringan berbentuk stik berwarna coklat itu langsung dimakannya. Tidak seperti awal ketika kami  bertemu Rizky. Dia mulai berani. Bahkan dia minta dipangku oleh seorang anggota polisi yang datang. Sambil terus mengunyah astor, juga jeli, Rizky sering minta air putih. Segelas air putih itupun ludes. Saya coba minta lagi ke pantri yang terletak disebelah ruangan itu. Ketika saya datang, dia sudah menunggu untuk minum lagi. Ketika ditawari susu cair Frisian Flag Rizky tak menolak.

 Diminumnya pelan-pelan susu rasa coklat itu.Sambil menemani Rizky makan, kamipun membicarakan Ema, ibu kandung Rizky yang sekarang ada ditahanan. ''Saya sempat bilang kedia(Ema) saat ketemu dikantor polisi.Kalau marah dengan bapakya jangan anak yang jadi sasaran,''kata seorang anggota dari Kepolisian yang datang menjengguk.

Ketika asyik ngobrol, Rizky tiba-tiba berdiri dan menuju kepangkuan saya. Dia langsung merebahkan tubuhnya dan mataya ditutup. Akhirnya saya coba gendong dan mengayun-ayunkan tubuhnya. Diapun mulai terlelap. Segera saya letakkan diatas temat tidur. Diatas tempat tidur matanya sempat terbuka. Tapi ditutupnya lagi. Sambil menunggu Rizky tertidur nyenyak saya tunggui dia disamping tempat tidur. Selama tertidur Rizky tak bisa tenang, kakinya terus bergerak. Dan itu yang membuat dia akhirnya tak bisa tidur nyenyak. Dan kurang dari lima menit Rizky terbangun, ia ternyata ngompol. Dan akhirnya tak mau tidur lagi.

Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Makan siang Rizky akhirnya datang juga. Nasi, sayur asem, sepotong ikan tongkol dan dua potong tahu juga pisang. Saya tawari Rizky makan. Tapi tak ada jawaban. Dia hanya menatap nasi makanan itu. Tanpa menunggu jawaban saya suapi saja bocah yang tubuhnya kurus ini. Nasi, ikan dan sayur saya ambil sedikit lalu saya berikan ke depan mulutnya. Dia langsung membuka mulutnya. Tapi ketika sendok berisi nasi dan lauk itu saya coba masukkan ke mulutnya. Dia hanya menengadah dan membuka mulut selebar-lebarnya. Saya khawatir dia akan tersedak kalau caranya makan seperti itu. Tapi sepertinya dia terbiasa disuapi dengan cara seperti itu saat disuapi ibunya. Untuk minumpun, dia tak minta. Hanya inisiatif saya saja memberikan. Ketika dia tidak suka dengan ikan, dia hanya memalingkan muka tanpa suara. Rizky ternyata suka makan. Dia mau saja ketika disuapi.

Selesai makan, saya ajak Rizky main lagi, saya tata aneka makanan ringan pemberian polisi tadi  diatas meja. Dan menyebutkan satu persatu namanya. Ciki, astor, susu, roti, beng-beng...begitu saya tunjuk. Pelan-pelan Rizky mengikuti apa yang saya katakan. Bibirnya berucap... beng-beng..sambil tertawa.
Hari makin siang, saya harus kembali bekerja, dan harus meninggalkan Rizky. Tapi saya tak tega, karena Rizky baru saja bisa bergembira. Untung saja, seorang perawat datang menemani Rizky bermain. Saya pun bisa meninggalkan dengan lega. ****

Tidak ada komentar: