beranda
Senin, 11 Juni 2012
Di Balik Panggung Reog Suryo
Tidak Ada Magic, hanya Mengasah Gigi
Berawal dari rindu kampung halaman, lalu dibuatkan grup reog. Walau harus jatuh bangun, mereka tetap bisa eksis hingga sekarang.
Suara gamelan itu makin jelas terdengar dari gang di dekat sekolah Laksamana Perumahan Bida Ayu, Tanjungpiayu. Tepat di teras rumah bernomor 29/ blok E itu, beberapa pria dan dua orang bocah laki-laki asyik memainkan alat musik tradisional. Satu per satu gadis-gadis cilik juga mendatangi rumah milik Jembar, yang dijadikan sekretariat reog Suryo Manggolo.
Setelah lengkap personilnya, latihan rutin itu dimulai, Jembar langsung mengambil posisi di depan gong (Kenong), Agus di depan gendang, Juari dan Bejan memegang angklung, mbah Sutris menempelkan terompet pada mulutnya, Samsul memegang alat pemukul Kenong dan Paidi di depan Kenting.
Dari dalam rumah, Eko Edwin Susanto (23), koordinator tari mengenakan selendang dan kuda kepang yang terbuat dari bambu. Guru TK yang piawai menari ini juga mengenakan selendang pada delapan penari Jathil lainnya. Martha Fitri Cahyani, Endah Febriana, Santi, Karina, Risna, Nelda, Endang dan Mita adalah siswa SD, SMP juga SMA di Batam. Setelah selesai mereka langsung berbaris di halaman rumah.
Alat musikpun mulai dimainkan. Widodo juga mulai menyanyikan sebuah lagu berbahasa Jawa berjudul Warung Doyong. Teguh yang berperan sebagai warok muda (pengawal/punggawa Prabu Klono Sewandono), bersama Toharo juga M Yusuf muncul diawal atraksi. Mereka seolah-olah sedang mengawal raja.
Warok adalah orang yang sakti mandraguna dan kebal terhadap senjata tajam. Penari warok adalah pria dan umumnya berbadan besar. Warok muda mengenakan baju hitam-hitam (celana gombrong hitam dan baju hitam yang tidak dikancingkan) yang disebut Penadhon. Warok tua mengenakan kemeja putih sebelum penadhon dan membawa tongkat, sedangkan warok muda tidak mengenakan apa-apa selain penadhon dan tidak membawa tongkat. Senjata pamungkas para warok adalah tali kolor warna putih yang tebal.
''Warok tampil sekitar tujuh menit. Jumlah personilnya 12 orang. Sepuluh orang warok muda dengan ciri berkumis dan berbadan gempal. Sedangkan dua orang lagi adalah warok tua yang dikenal sebagai sesepuh, '' kata Jembar yang didampingi Tomo, Ketua Reog Suryo Manggolo kepada Batam Pos, Selasa malam lalu.
Kemudian disusul penampilan eko dan teman-teman. Mereka adalah penari Jathil. Biasanya dibawakan 10 orang perempuan. Tari Jathil diibaratkan pasukan berkuda. Mereka juga menggawal Prabu Klono Sewandono yang sedang menuju perjalanan ke Kerajaan Kediri. Penari Jahtil umumnya perempuan. Mereka digambarkan sebagai prajurit wanita yang cantik dan berani. Ketika tampil, kostum yang dikenakan penari Jathil adalah kemeja satin putih sebagai atasan dan jarit batik sebagai bawahan. Mereka mengenakan udheng sebagai penutup kepala dan mengendarai kuda kepang (kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu).
''Kadang kalau ada panggilan manggung pagi, sering kelabakan. Seperti beberapa waktu lalu kami harus pentas jam delapan pagi. Sedangkan sepuluh penarinya harus di make-up. Makanya sejak jam empat pagi, sudah mulai di make-up oleh penata rias kami, ibu Ika,'' kata Jembar lagi.
Eko yang baru bergabung dengan Reog Suryo Manggolo sekitar delapan bulan lalu mengaku, sangat senang. ''Pekerjaan saya tidak terganggu. karena latihannya selalu malam minggu, dan panggilan pentas sering hari libur,'' kata wanita yang akan membuka sanggar tari di samping rumah Jembar.
Malam makin larut, jam menunjukkan pukul 10 malam, atraksi masih berlanjut. Satu teko kopi panas dan satu nampan gorengan disajikan istri Jembar. Aroma kopi pun menyeruak dan membuat para pemain musik semakin semangat. "Ea....ea...ea.., serempak mereka berteriak mengiringi tarian Jathil.
Kini giliran Bujangganong menyusul keluar setelah tari Jathil. Dibawakan dua pria dewasa dan dua anak laki-laki. Supri dan Wanto menjadi Bujangganong dewasa dan Aziz serta Arip adalah Bujangganong kecil. Aziz yang masih duduk di kelas II SD ini sangat fasih menari. Bersama Arip, siswa kelas V SD yang juga pintar memainkan gendang memperlihatkan gerakan-gerakan tari seorang patih.
''Ngak susah kok menarinya. Saya nggak pernah kursus tari. Liat saja sudah bisa menari,'' kata anak pertama Jembar.
Bujangganong adalah seorang patih dari Prabu Kelono Sewandono. Dia digambarkan sebagai patih yang bertubuh kecil dan pendek, namun cerdik dan lincah. Patih Bujangganong disebut juga penthulan. Penarinya tidak memakai baju, hanya rompi berwarna merah dan topeng berwarna merah juga.
Seharusnya Prabu Klono Sewandono muncul. Biasanya diperankan Yanto, seorang pekerja bangunan. Namun malam itu, Yanto tidak datang, hingga adegan itu dilewatkan. Lalu disusul penampilan pembarong. Bugis yang seorang satpam, juga Bungkil, Sonan, Hartono, Prapto (para pekerja bangunan) dan Tomo (supr pribadi) berperan sebagai pembarong.
Pembarong, penari yang memiliki peranan paling penting dalam tari Reog Ponorogo. Pembarong yang nantinya akan membawa Dadak Merak (topeng kepala singa dengan hiasan burung merah dan bulunya di atas kepala singa) yang tingginya 2,5 meter. Dan beratnya mencapai 50 kg.
''Tidak ada unsur magic. Yang dibutuhkan hanya latihan. Biasanya saya rajin olahraga juga fitness. Tujuannya untuk menguatkan fisik, kaki juga gigi,'' kata Bugis, pria berbadan subur ini.
Malam itu Bugis tidak turun menari. Dia datang dan hanya duduk di teras sambil terus memainkan ponselnya.Namun saat tampil di Pelantikan Ketua Kuthiba dan Kokhutiba beberapa waktu lalu di Mega Legenda, Bugis sangat atraktif. Ia bisa meliuk-liukkan Dadak Merak kemudian jatuh dan bangkit lagi. Bugis tampil mengenakan celana panjang hitam tanpa baju. Selama membawa Dadak Merak, Bugis harus menggigit kayu di bagian dalam kepala singa untuk mengangkat Dadak Merak.
Tak heran, seorang pembarong haruslah orang yang sangat kuat, karena dia harus bisa menundukkan Dadak Merak hingga menyentuh lantai dan mengangkatnya lagi ke posisi tegak. Dadak Merak disimbolkan sebagai Singobarong, dan secara umum Dadak Merak inilah yang membuat tari Reog Ponorogo menjadi sangat unik, karena bentuk topengnya yang sangat besar dan khas serta adanya filosofi di dalamnya. Karena itu, pembarong benar-benar harus memiliki keterampilan dan kemampuan yang tinggi agar bisa menghidupkan Singobarong yang dimainkannya.
Agar semua atraksi berjalan lancar dan selamat. Sebelum berangkat manggung, semua alat musik dikumpulk juga dadak merak, dan mbah Gembong akan berdoa mohon keselamatan. Ada sesajen juga kemenyam dibakar di dekat alat-alat itu. '' Kalau kostum tidak diikutkan, semuanya disimpan di lemari. Karena bisa-bisa pemainnya sakit,'' kata Jembar.
Karena itu, kata Tomo, yang didampingi pembina Reog Suryo Manggolo, Darto, mereka ingin kesenian daerah ini dilestarikan, walau di daerah perantauan. Tomo juga mengisahkan pertamakalinya grup reog ini berdiri. ''Awalnya tahun 1992, karena kangen kampung halaman lalu dibuatkan kesenian ini. Dulu sulit sekali cari donatur yang mau mendanai pembelian seperangkat alat musik dan kostum reog. Karena harganya mahal sekali. Makanya reog ini mati segan hidup tak mau,'' kata Tomo.
Hingga satu tahun lalu, Soerya Respationo, wakil Gubernur Kepri ini menyumbangkan dana Rp50 juta. Yang kemudian dibelikan seperangkat gamelan, dadak merak juga kostum. ''Kebetulan nama yang kami pilih hampir sama dengan nama depan beliau.Namun sebenarnya kami pilih Suryo Manggolo karena mengandung arti yang baik yaitu prajurit terdepan,'' ujarnya.
Tomo berharap pemerintah juga turut mendukung pelestarian budaya ini. Saat ini, kami hanya berorientasi sosial saja. '' Honor tampil sebesar Rp5 juta, hanya bisa dibagikan ke pemain sekitar Rp50 ribu perorang dari total 40 orang pemain. Setelah dikurangi biaya transportasi dan lain-lain,'' kata Tomo.
Tak heran jika pemainnya masih bekerja di tempat lain. Ada yang menjadi tukang bangunan, penjual sate, supir pribadi, satpam, supir lori pasir, teknisi ATM, penjual kambing, pegawai service elektronik juga pencari batu. ''Kalau bekerja masih bisa dapat Rp100 ribu perhari, nah, dari reog hanya Rp50 ribu. Itupun dua kali dalam seminggu saja, tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari,'' tambah Jembar.
Walau begitu, reog Suryo Manggolo selalu mengharumkan nama Batam di kancah nasional pada gelaran Gerebek Suro setiap 1 Muharam di Ponorogo. Mereka selalu hadir dan ikut menampilkan atraksi reog bersama perkumpulan reog dari seluruh Indonesia. ''Biayanya besar sekali, sampai Rp80 juta. Biasanya kami bergerak sendiri cari donatur ke man-mana. Setiap tahun wajib mengikuti gelaran ini,'' kata Jembar lagi.
Sudah selayaknya, kata Tomo, di Kepri ini diadakan festival reog. Hadiahnya memperebutkan piala Presiden. ''Untuk pengembangan reog ini, kami tak pernah membatasi pada orang Jawa saja. Asalkan bisa menari, punya kemauan boleh bergabung. Dulu saja, ada orang Sumatera Barat dan Utara, tapi karena kesibukkannya bekerja di PT, tidak lagi diikutkan, '' kata Jembar.
Menurut Jembar, mulai bulan depan sudah dibuka sanggar tari untuk mengajari anak-anak yang ingin belajar tari. Eko yang akan menjadi instrukturnya. Jiak berminat bisa mendatangi sekretariat reog Suryo Manggolo. ***
Riwayat Reog Ponorogo
Berawal dari Meminang Putri
Berawal dari kisah di sebuah negeri Bantarangin, Ponorogo. Seorang raja muda yang arif dan bijaksana, gagah perkasa dan tampan serta terkenal saki mandaraguna bernama Prabu Klono Sewandono terpikat hatinya pada seorang putri dari kerajaan Kediri. Ia ingin sekali meminang putri yang bernama Dewi Songgolangit itu. Namun Prabu Klono Sewandono harus memenuhi permintaan Dewi Songgolangit yaitu tontonan unik dan aneh. Prabu Klono Sewandono pun menyanggupi. Dan berangkatlah rombongan yang terdiri dari patih yang bijak bernama Bujang Ganong, prajurit berkuda (Jathil) juga rombongan pemusik gamelan Gagrak Anyar menuju kerajaaan Kediri.
Di tengah perjalanan, tepatnya di Gunung Klotok, Kediri, Prabu Klono Sewandono dihadang Raja Singo Barong yang juga meginginkan Dewi Songgolangit. Maka terjadilah pertarungan sengit. Dengan kesaktiannya Singo Barong berubah wujud menjadi seekor harimau raksasa yang mengerikan dan buruk merak bertengger di kepalanya meliuk-liuk mengaum dasyat ibarat petir.
Prabu Kelono Sewandono pun maju dengan membawa ajimat senjata sakti berupa cemeti yang terkenal dengan sebutan Pecut Samandiman. Cemeti itupun disabetkan ke angkasa dan menggelegarlah ibarat petir menyambar angkasa. Keduaya bertarung sengit, yang terlihat hanya bayangan dan suara gemuruh angin. Tak lama terdengar ledakan dasyat cambuk sakti menghantam harimau, dan terseok-seoklah harimau dan burung merak menggelepar di atas kepalanya.
Dengan senyum kemenangan Prabu Kelono Sewandono menuntun Raja Singo Barong dan diajak bertemu Putri Songgolangit. Perkawinan agungpun dilangsungkan, diiringi gamelan, 144 kuda kembar (jathil) dan binatang berkepala dua jelmaan Raja Singo Barong. Sejak itu, diabadikanlah menjadi kesenian Reog Ponorogo. (agn)
.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar