beranda

Senin, 04 Juni 2012

Nunung Hartati 'Anung De Lizta', PRT yang Jadi Penulis



Sudah Buat Sepuluh Buku

Ada api
Dalam hati
Tak kan ku mati
Dengan rasa dengki

Penggalan-penggalan tulisan seperti ini selalu saja muncul di wall facebook De Lizta, gadis asal Cilacap yang bekerja menjadi PRT di Singapura. Bahkan beberapa buku dengan nama dirinya sebagai penulis ada di album foto fb nya.


''Penggalan-penggalan tulisan itu adalah isi dari Novel kedua yang sedang saya buat. Kalau foto-foto buku itu adalah hasil karya saya yang sudah dicetak. Ada yang ditulis sendirian, berdua dengan teman juga kumpulan tulisan dari penulis lain,''kata pemilik nama asli Nunung Hartati, Kamis (22/3) di rumah majikannya di kawasan Chinatown, Singapura.

Menantang Mimpi TKI (Tinta Kehidupan Indonesia-TKW) menjadi novel pertama saya tahun 2011. Novel ini banyak terinspirasi dari kehidupan seorang TKW. ''Ini benar-benar pengalaman pribadi yang saya tuangkan dalam tulisan. Banyak kisah yang saya ceritakan, ketika saya tidak punya pilihan lagi dan harus menjadi PRT ke luar negeri, ''cerita Nunung yang mulai bekerja di Singapura tahun 2001.

Memang tak terbayangkan oleh perempuan berkerudung ini akan bekerja keluar negeri. Umurnya saat itu masih belia (15 tahun) dan baru saja tamat SMP. Tapi karena melihat keras keras Surip Salbiyah, ibunya yang berjualan kue di pasar, Nunung memutuskan harus bekerja ke luar negeri. ''Saya ingin perbaiki perekonomian keluarga. Saya ingin bantu ibu. Sejak saya kecil ibu sudah bekerja sendiri. Ibu sudah berpisah dengan ayah saya. Makanya saya tidak tahu ayah saya yang mana. Saya juga punya 2 kakak tiri yang juga diasuh ibu. Makanya kami ini sangat miskin,''kata Nunung yang mudah terinspirasi jika mengalami hal-hal yang menyedihkan.

Nyaris saja harapannya pupus. Nunung sempat ditolak, namun karena kekerasan hatinya untuk bekerja, membuat pihak PJTKI, PT Jasa Tama Dana Mandiri yang ada di Jakarta mau mengirimkan ke Singapura. ''Saya tunjukkan kalau bisa  ngepel, nyuci kamar mandi, masak, nyetrika, nyapu. Kata mereka saya lulus tes. Kemudian saya dikirim ke penampungan TKI di Tanjungpinang. Tiga bulan dipenampungan, sya akhirnya diberangkatkan ke Singapura,''kata Nunung.

Di Novel itu juga saya ceritakan pengalaman tidur juga mandi bersama-sama 50 orang ibu-ibu di penampungan. ''Saya sampai menangis ketika ditelanjangi ibu-ibu itu,''kata Nunung yang selalu kangen dengan ibunya disaat puasa Ramadan.

Kini sebelas tahun sudah Nunung bekerja pada sebuah keluarga keturunan China. ''Dari pertama masuk Singapura, majikan saya yah satu ini. Mereka orang baik. Anaknya dua. Mereka sudah remaja. Yang peremuan umur 17tahun, yang laki-laki 18 tahun. Yang laki-laki sudah lulus politeknik. Sekarang lagi pada main di depan laptopnya masing-masing,''kata Nunung yang baru saja keluar rumah membeli tisu.

Nunung yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya juga langsung membuka laptopnya. ''Tadi baru saja bersihkan kamar mandi, nyuci teras, nyuci jendela, dan masak,''tutur gadis kelahiran tahun 1986.

Dari majikannya ini pula, Nunung disekolahkan hingga tamat SMA. ''Mereka membiayai sekolah saya hingga lulus paket C Setara SMA dan sekarang saya juga sedang disekolahkan lagi di Bisnis Entrepreneur Ciputra,''kata Nunung lagi.

Kegemarannya menulis, juga sangat didukung majikannya. Buku-buku yang sudah terbitkan Nunung juga dibeli majikannya. ''Saudara dan temannya juga disuruh beli,''tutur Nunung yang juga aktif dalam Himpunan Laksana Rumah Tangga Indonesia di Singapura (HPLRTIS).

Nunung lalu menceritakan awal mula ketertarikannya pada dunia tulis menulis. ''Waktu itu tahun 2011 bulan Juni, awalnya cuma buat kenang-kenangan sendiri karena pada waktu itu kontrak saya mau habis dan tidak mau menyambung lagi. Tapi karena keadaan bangkrut akhirnya saya memutuskan nyambung kontrak lagi 2 tahun. Saya coba-cari-cari kegiatan. Dan belajar menulis di Writing Revolution. Belajarnya lewat online saja,''kata Nunung.

Tulisan pertama kali yang lolos dalam lomba sudah dibukukan. Judul bukunya Sehangat Dekapan Cinta Ramadhan. ''Ini true story. Pengalaman jauh dari keluarga saat bulan puasa. Inspirasinya datang karena saya kangen dengan ibu. Biasanya buka puasa selalu dibuatkan kolak. Walau kami miskin, kolak tetap ada,''kata Nunung yang sudah membuat 8 buku Antologi (kumpulan tulisan dari beberapa penulis).

Diakui Nunung, ia sudah memenangkan 3 lomba cerpen dan  puisi sesama komunitas penulis di beberapa grup di FB. Yang lain hanya lolos bukan juara. ''Saya juga pernah jadi pemenang Menulis selama 20 Menit waktu  Bunda Pipiet Senja ngadain seminar di Singapura,''kenang Nunung.

Kini, Nunung sedang mempersiapkan novel keduanya dan buku antologi 'Alam Imajiner' yang merupakan proyek pribadinya. '' Ini hasil lomba cerpen grup Aku Anak Rantau yang saya gelar. Saya sendiri jurinya. Dan pemenangnya akan dapat hadiah buku ini. Sekarang lagi dalam proses pengerjaan oleh penerbit,''kata Nunung sumringah.

Jika nanti bukunya siap, ada sekitar 12 buku yang sudah memuat karya Nunung. Sedangkan sepuluh buku yang sudah dicetak sebelumnya adalah Menantang Mimpin TKI (Tinta Kehidupan Indonesia-TKW), Untuk Sang Bintang (Untuk Ibu-Kumpulan Cerpen bersama Wildah Hilmatur Rahmi), Antologi (Senandung Sahabat, Unforgetable Momen, 99 Surat untuk Presiden, Tuhan Sampaikan Cintaku, Merah Darah Putih Puisi, Fragmantasi Ciuman di Bawah Hujan, Alam Imajiner, Sehangat Dekapan Cinta Ramadhan, Mutiara Relung Hati dan Dalam Genggaman Tangan Tuhan.

Sejak kapan,Nunung mulai aktif membukukan hasil tulisan-tuisannya ? Ia mengaku sejak kenal Dwi, penulis juga teman di FB. Ia yang  memberitahukan Nunung agar mengirimkan tulisan ke LeutikaPrio self publising. Dengan biaya sendiri, Nunung membuat buku yang tadinya tidak untuk dijual.

 ''Ternyata, teman-teman di Singapura banyak yang order buku pertama saya itu. Seingat saya, buku Menantang Mimpi TKI (Tinta Kehidupan Indonesia-TKW)  saya pesan 50 eks,''kata Nunung yang  suka menulis kisah-kisah nyata.

Sudah berapa banyak bukunya yang terjual, Nunung mengaku tidak tahu. Karena penjualan buku diurus PJ. PJ lah yang mengkoordinasi penjualan bukunya. ''Saya hanya dapat informasi kalau buku-buku sudah dicetak dan sudah dijual di toko buku. Nah, kalau sekarang buku  Dalam Genggaman Tangan Tuhan sudah bisa di beli di toko-toko buku Gramedia. Saya menjadi salah satu kontributor dalam buku itu bersama dengan penulis lainnya,''kata Nunung yang ingin menjadi guru TK di kampung halaman.***

Tidak ada komentar: