Donat, Perayu Anak Belajar
Kampung Nelayan Baru itu persis di tengah danau dekat pintu 4 Kawasan Industri Mukakuning, Batam. Letaknya, jauh dari hingar bingar kendaraan. Kira-kira 10 kilometer masuk ke kampung itu. Perjalanan ke sana harus menyusuri danau yang kanan dan kirinya hutan. Tidak ada secuil jaringan listrik pun.
Warga yang berjumlah 20 kepala keluarga (kk) ini hanya menggunakan lampu teplok. Warga juga menggunakan kayu bakar untuk memasak. Rumahnya pun sangat sederhana. Dibuat dari kayu berbentuk rumah panggung. Rumah-rumah itu tanpa ruang tamu, hanya kamar yang ditutup kain saja. Saat siang hari, anak-anak dibiarkan tidur di luar kamar. Sedangkan ibu-ibunya memasak di bawah rumah atau di samping rumah. Untung saja sinyal ponsel bisa diterima. Hingga komunikasi dengan keluarga di luar kota tetap terjaga.
Itulah tempat Angelina mengajar anak-anak Kampung Nelayan Baru. Pagi- pagi Sarjana Ekonomi itu harus berangkat ke sana. Dalam satu minggu, Angelina bisa datang tiga kali. Saat datang bersama Batam Pos Selasa (15/3) lalu, Angelina rela tak mengantarkan anaknya Jundi ke sekolah. Padahal, putranya berumur 4,5 tahun ini akan berkunjung ke Kantor Pemadam Kebakaran BP Kawasan Batam bersama teman-temannya dari RA Raudatul Qur'an. Angelina memilih berangkat diantar suami ke pintu empat Kawasan Industri Mukakuning. Saat itu pukul 08.00 WIB, Angelina meninggalkan rumahnya di Perum Puri Agung 3 Blok B4 No 68.
Pasangan suami istri itu akhirnya berangkat membawa buku pelajaran, boneka tangan, Iqro, pulpen juga donat. ''Kue-kue ini akan dibagi setelah belajar. Kalau tidak bawa makanan, mereka tidak mau belajar,'' ata Angel yang sudah satu tahun mengajar di tempat anak-anak kurang mampu tersebut.
Tak hanya Angelina, Tini yang tidak bisa ikut mengajar datang mengantarkan kue agar-agar dan kertas serta pensil mewarnai. ''Saya gak bisa ikut, karena anak saya takut naik sampan. Dia pernah saya ajak mengajar ke pulau itu dan nyaris tenggelam. Waktu itu sampan terbalik, untung saja dia cepat ditolong,'' kata wanita yang selalu mengajar bahasa Inggris itu.
Setiba di sana, Aziz, Lilis, Nisa, Siti juga Dwi sudah tak sabaran ingin belajar. Dari tengah danau suara mereka sudah terdengar. Lilis bahkan sudah siap dengan baju kurung berwarna hijau muda dan tas di punggung. Diantar ibunya, Lilis yang masih berusia 4 tahun terlihat gembira menyambut kedatangan kami. Sedangkan teman Lilis yang lain berlarian ke rumah masing-masing berganti pakaian. Sambil menunggu, Angelina menyapu lantai mushola dan membuka kain penutup jendela.
Bangunan berukuran 5x4 m ini menjadi tempat Angelina mengajar. ''Bangunan ini dibuat oleh para pemancing yang datang ke pulau ini. Tapi sayang sekali tidak dirawat. Kalau hujan bocor dan lantainya tergenang air,'' kata wanita kelahiran Jakarta ini.
Mushola itu terletak di tepi danau. Dari tempat sampan merapat, kami harus melewati jembatan kayu. '' Saya pernah jatuh di sini. Kaki saya meginjak kayu yang lapuk, '' kenang Angel. Perjalanan kemudian dilanjutkan menyusuri jalan setapak. Setiap kali melewati rumah warga, Angelina berhenti untuk mengajak anak-anak belajar. Dari dua rumah warga yang dilewati, hanya satu anaknya yang mau belajar. Yang satu lagi, tidak mau diajak belajar. Bahkan orangtuanya pun tidak membujuk anaknya. Tidak sampai sepuluh menit perjalanan kami terhenti di bangunan yang tidak terawat.
Di mushola yang tidak pernah digunakan untuk ibadah inilah Angelina menunggu murid-muridnya. Di dalam bangunan itu ada aki dan cd player yang tak terpakai di atas meja kayu. Sedangkan di bawah meja ad dua papan tulis yang lapuk terkena hujan. Papan tulis dibuat sendiri oleh Angelina, ia potong menjadi kecil agar mudah dibawa dengan sampan.
Kampung Nelayan Baru ini memang menjadi tempat favorit bagi pemancing ikan. Untuk sampai ke tempat ini, harus menggunakan sampan terlebih dahulu. Pakde Jum, salah satu warga di kampung nelayan itu kerap kali menjemput Angelina dengan sampan milik warga. Angelina mengaku harus sabar menunggu. Suatu kali, Angelina dan Agustini, teman tenaga guru sukarela di pulau itu menunggu dijemput hingga satu jam. ''Pakaian sudah basah kuyup karena kehujanan. Lihat saja di sini yang ada hanya pohon untuk berteduh. Tak heran kalau hujan lebat, pasti basah semua,'' kata istri dari Rahmat Yunipurwanto.
Begitulah pengorbanan Angelina untuk anak-anak di Kampung Nelayan Baru. Walau sendiri, Angelina tetap mengajar. Saat itu hanya lima anak yang datang belajar yaitu Azis, Nisa, Siti, Lillis dan Dwi. Sedangkan Agil dan Riki tidak datang. ''Mereka biasanya mencari keong. Inilah sulitnya menyadarkan pentingnya belajar. Biasanya anak-anak laki-laki yang sudah berumur 9 tahun, harus membantu orangtuanya. Padahal hasil dari menjual keong hanya 1000 rupiah saja, '' kata Angel lagi.
Memang saat kami datang dan berjalan menuju mushola, seorang bocah laki-laki yang bersembunyi di balik pohon pisang. Ia hanya tersenyum saja ketika ketahuan bersembunyi. Saat diajak belajar, bocah itu hanya menggelengkan kepalanya. Ia bilang akan mencari keong dulu.
''Saya tidak tahu bagaimana masa depan mereka kelak. Sudah lah kondisi di sini memprihatinkan seperti ini. Makan saja sulit, apalagi bersekolah. Ditambah lagi orangtua juga tidak mendukung anaknya belajar. Lengkaplah sudah nasib buruk anak-anak di sini, '' kata istri dari Rahmat Yunipurwanto, karyawan Lembaga zakat DSUA.
Kata Angelina, ada sekitar 15 anak yang belajar. Tapi kadang seperti sekarang ini, hanya beberapa anak saja. Itupun hanya anak perempuan. Umur anak-anak di Kampung Nelayan Baru ini mulai dari 4 sampai 15 tahun. Sebenarnya mereka sangat suka belajar. Bahkan mereka sering minta agar saya datang setiap hari. Yang paling membuat Angelina haru saat melihat seorang anak yang tinggal di pulau kecil depan Kampung Nelayan Baru.
Di pulau itu, Dian, bocah berusia 6 tahun ini tinggal bersama orangtua dan dua adiknya yang berumur 1 dan 3 tahun. '' Dian paling suka main ke Kampung Nelayan Baru. Karena di sini ia punya teman. Bahkan bisa belajar. Dulu pertamakali datang belajar, dia tidak bisa bicara. Diajak ngobrol, dia hanya mengguman. Dia hanya bisa bilang 'mau makan' saja. Memang Dian sering ditinggal sendiri oleh orangtuanya. Di pulau itu memang hanya Dian dan orangtuanya saja. Karena itu Dian jarang berkomunikasi. Akibatnya Dian seperti bisu,'' cerita Angel.
Yang paling menyedihkan diajak pulang. Terkadang Dian harus diseret-seret. Bahkan ketika sampan sudah di tengah danau, Dian meloncat lagi ke air dan berenang kembali ke Kampung Nelayan Baru. Dian juga sering menangis minta diantar, namun karena sampannya sudah bocor, ibu Dian tidak bisa mengantarkan. Tapi kadang Dian nekat dan berenang sampai keseberang.Kondisi orangtua Dian memang sangat sulit. Bahkan saat melahirkan tali sampan pun digunakan untuk mengikat tali pusar.
Anak-anak di Kampung Nelayan Baru ini juga kurang gizi. Hampir 80 persen daya tangkapnya kurang. Angelina merasakan sendiri ketika mengajarkan sesuatu. Butuh waktu dua minggu untuk mengajarkan satu materi saja. Anak-anak disini sering hanya makan nangka yang direbus saja, karena orangtuanya tidak mampu membeli beras dan lauk pauk.
''Butuh kesabaran untuk mengajarkan mereka. Saya memaklumi kondisinya. Walau sulit, saya tetap mengajar. Baik itu membaca, bahasa Inggris, Iqra juga origami,'' mantan warga Bekasi ini menambahkan.
Angelina juga mengajari anak-anak bernyanyi, menggambar dan senam. Saat kunjungan kemarin, Angelina mengajak anak-anak senam I Love You Full. Lagu itu diputar dengan ponselnya, lalu Angelina memberi contoh gerakan. Anak-anak sangat senang sekali. Mereka tertawa dan loncat-loncat.
Agar dapat terus membantu pendidikan di pulau itu, Angelina selalu menyisihkan uang belanjanya. Biasanya untuk membeli alat tulis dan hadiah-hadiah kecil berupa kue. Gajinya suaminya yang hanya Rp 2 juta tidak bisa mensupport kegiatan Angelina. Karena itu, Angel berjualan siomay untuk mendapatkan dana agar tetap dapat membantu pendidikan ana-anak di kampung nelayan baru.***
Si Calon Pilot Hanya Makan Nangka
Keadaan bocah ini sungguh kasihan. Tidak ada yang mengurus. Ibunya sakit jiwa dan ayahnya hanya bisa memarahi kalau ada di rumah. Aziz harus mengurus dirinya sendiri. Untuk makan saja, ia harus minta dari satu rumah ke rumah yang lain. Jika tidak ada lagi makanan yang bisa diminta, Azis hanya makan nangka. Ia bisa memanjat pohon sendiri dengan cepat. Karena tidak ada yang memperhatikan, Azis seringkali tidak mandi. ''Waktu itu dia datang belajar dengan kondisi badannya gatal-gatal. Katanya dia sudah tidak mandi satu minggu. Bajunya pun tidak diganti. Lalu saya nasehati tentang pentingya mandi. Dia paham. Tapi yah karena tidak ada yang memperhatikan, Azis mandi tanpa sabun, bajunya juga dicuci sendiri tanpa sabun, '' kata Angel lagi.
Selasa siang lalu, ibunya masih tidur di dalam rumah panggungnya. Kondisi rumah itu sangat kumuh dan berantakan. Teko, gelas juga piring berserakan di ruangan yang juga kamar tidur.Kasur tipis dan kumal kecoklatan itu juga berantakan. Azis tanpa asyik bermain di rumah sebelah. Ia sepertinya tidak memperdulikan keluarganya. Tapi saat ditanya soal ibunya, Azis selalu tertunduk dan tidak mau menjawab. Azis yang suka menggambar pesawat ini hanya berkata kalau dia sangat sayang dengan ibu dan ayahnya.Karena itu Azis ingin sekali menjadi pilot. Di usia Azis yang ke tujuh, selayaknya Azis sudah kelas 1 SD, namun karena kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan, Azis tidak akan bisa sekolah. Azis memang sangat lamban dalam memahami pelajaran. Untuk seusianya, Azis seharusya bisa membaca, mengenal huruf dan angka. Namun, Azis belum tahu angka 1-10. Apalagi membaca. Azis juga tidak mengenal warna. Bahkan nama-nama hewan pun tidak ada yang diketahui Azis. (agn)
Meski Hujan Wely Tetap Sekolah
Kegigihan Wely membuat Angelina tergerak memberi bantuan biaya sekolah, melalui lembaga amil zakat Dompet Sosial Ulil Abab (DSUA) . Wely yang kini duduk di kelas 8 SMP tidak pernah absen sekolah. ''Hujan sekalipun, Wely tetap berangkat sekolah. Padahal, jika musim angin dan hujan, sampan sulit didayung. Bisa sampai 1/2 jam untuk sampai di seberang. Tapi itu juga tak membuat Wely menyerah. Dia tetap sampai ke sekolah, '' kata Masitoh, ibu Wely.
Ketika kami diantar Wely pulang dengan sampan, Wely sempat bercerita tentang kesukaanya. Ternyata anak sulung dari dua bersaudara ini sangat suka olahraga. Padahal ia sangat mahir bercocok tanam. Di pekarangan rumah, tumbuh subur labu, kangkung juga kacang panjang yang ditanam Wely. Ia ingin suatu saat kelak bisa berprestasi dibidang olahraga. Ketika ditanya bagaimana ia menyisiasati waktu belajar. Wely memilih waktu setelah sholat Maghrib dan setelah sholat subuh. Ia tetap harus belajar walau dengan penerangan lampu teplok. Usahanya tidak sia-sia, Wely masuk rangking 12 besar. Ia mengaku bersyukur dengan kondisi ini. Keadaan orangtua yang pas-pasan membuat Wely juga selalu berhemat. Uang saku yang diberikan Rp 5000 setiap harinya, digunakan sesuai kebutuhan. (agn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar