Gara-gara BlackBerry, Behel Gigi dan Rambut Berponi
Diakhir tahun 2011, Batam kembali dikejutkan oleh kasus perdagangan manusia (human trafficking). Kasus ini menjadi sangat ramai diperbincangkan karena pelaku dan korban sama-sama anak-anak baru gede (ABG). Mereka diantaranya masih berstatus pelajar di salah satu sekolah menengah pertama di Batam, namun ada juga yang drop out sekolah. Motifnya hanya karena ingin memiliki BlackBerry, gigi berbehel dan rambut berponi.
Gadis-gadis belia yang masih berumur 14 tahunan ini mau saja dibooking om-om, dan menyerahkan kehormatannya senilai Rp8juta rupiah. Berbeda dengan korban trafiking yang tidak lagi sekolah, mereka terpaksa menjual diri karena alasan ekonomi. Sebagai tumpuan keluarga, mereka harus menghasilkan uang. Sedangkan ijazah hanya sekolah dasar. Kesempatan inilah yang kemudian dimanfaatkan para
pelaku/trafficker. Memang kelompok masyarakat ekonomi lemah (Miskin) seperti ini, paling mudah terbujuk rayu, melalui iming - iming pekerjaan dengan gaji besar. Padahal kenyataanya, mereka hanya dijadikan sebagai PSK. Ada yang ditempatkan dilokalisasi atau panti pijat di Kepri, maupun luar negeri.
Pada bulan Juli, tiga anak asal Papua yan masih berumur 11 tahun diduga menjadi korban trafiking. Natalia, Rosalia, dan Rosalina ini dibawa dari Papua oleh orang yang mengaku bernama Anjar Sumira. Pamitnya ke orangtua anak ini mau disekolahkan ke Australia. Nyatanya sampai Jakarta, anak-anak ini diserahkan lagi ke orang yang namanya Asri.
Selanjutnya, Asri membawa tiga anak ini ke Batam. Di Batam, mereka ditempatkan di rumah Asri di Nongsa. Sebulan berlalu, Asri membawa tiga anak ini ke selat nenek. Di Selat Nenek ini mereka ditampung di pondok pesantren Miftahul Sada. Disana ia diperlakukan seperti santri didikan yang lainnya. Mereka diajari baca quran, salat, dan bahasa arab. Namun, tanpa alasan apapun, tiga anak ini kemudian ditinggal begitu saja dipelabuhan Sagulung.
Anak-anak ini kemudian ditemukan oleh warga Sagulung. Dan ketiganya diamankan di Mapolresta Barelang di bawah pengawasan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Kasus penipuan dengan dalih pekerjaan ataupun kehidupan yang lebih baik seperti diberi pendidikan yang lebih tinggi memang menjadi sangat menarik bagi mereka yang tidak berpunya. Tak heran jika tiga gadis ini mau saja diajak. Untung saja mereka belum sampai terjebak didalam dunia prostitusi.
Berbeda dengan Slv (14), gadis kelas III SMP negeri di Batam ini harus menerima kenyataan dirinya menjadi 'santapan lezat' om-om penyuka daun muda. Kasus ini terbongkar setelah Slv tidak pulang ke rumah hingga dua hari. ''Saya kebingungan ketika kehilangan dia. Semua temannya sudah ditanyai, tapi tidak ada yang tahu.
Kemudian saya coba tanya salah satu gurunya. Dari sinilah, saya dapat informasi kalau anak saya sudah tidak perawan. Dan dia juga pernah di booking om-om,'' cerita He, ibunda Slv, saat menunggui putrinya di periksa di ruang unit I Satreskim Polresta Barelang, Rabu (7/12) siang.
''Saya kecolongan. Padahal dua hari menjelang kejadian, saya larang ke mana-mana. Waktu itu dia minta izin pergi ke ulangtahun temannya. Saya larang karena sudah malam, dia ngotot sambil nangis-nangis. Saya bilang ini Batam, bahaya keluar malam,''kata He yang baru enam bulan memindahkan Slv dari Bandung.
Malam itu, ibunya tak berfirasat buruk sedikitpun. Ia memberi izin anaknya untuk jalan-jalan lihat pawai takbir (besok Hari Raya Idul Adha). ''Zah yang menjemput pakai motor Mio. Saya juga lihat beberapa temannya yang lain bergoncengan di atas motor. Ternyata mereka tidak jalan bersama-sama. Anak saya berdua saja dengan Zah, teman sekelasnya,''cerita He.
Malam itu, awal mula petaka bagi putri pertamanya. Tiga orang pria yang dikenalkan Zah mencabuli Slv di hotel Bali. Slv tak berdaya. Menelpon Zah, teman yang tadi membawanya jalan-jalan pun tidak bisa, karena ponselnya tak lagi aktif. Malam itulah, keperawanan Slv direnggut paksa.
Setelah kejadian itu, tak ingin memendam kisah pilunya, Slv menceritakan kejadian itu pada teman-temannya. Di taman empang Green Land itulah, Slv mencurahkan isi hatinya pada teman-teman sekolahnya. ''Mereka pun saling cerita. Dari obrolan itu, mereka mendapat informasi kalau ada jual beli keperawanan. Harganya 8 juta, anak-anak ini pun tergiur,''cerita He ketika istirahat sejenak dari ruang pemeriksaan.
Mendengar obrolan Slv dan empat temannya itu, Mn datang dan berkenalan. ''Mn bilang kalau dia bisa mencarikan om-om yang mau membooking mereka. Mn pun memberikan nomor telepon Pu, temannya seorang mahasiswi yang akan mempertemukan dengan pelanggan. Dia bilang kalau perawan
tarifnya Rp8juta, kalau tidak hanya Rp800 ribu saja. Anak saya yang tidak perawan lagi, menerima uang Rp800ribu dari pembooking bermobil mewah. Sedangkan Sf temannya dibayar Rp8juta karena mau melepas keperawanannya. Transaksi esek-esek itu dilakukan di Hotel 89. Hotel yang sudah
sangat dikenal sebagai tempat pelajar yang mau diajak shortime (transaksi seks kilat). Saya kok miris dengarnya, mereka sudah biasa menyebut kata-kata itu,''kata He lagi.
Setelah transaksi, Slv bersama teman-temannya makan-makan dan belanja susai pulang sekolah. Duitnya pun ludes. Slv tidak bisa membayar uang tip untuk Mn. Sementara Mn yang menjadi perantara antara Slv dan Pu (yang mempertemukan Slv dan pria yang memboking), itu terus menelpon menagih uang jatahnya. Karena terus dikejar-kejar, Slv pilih kabur dari rumah. Inilah yang akhirnya membongkar praktek penjualan ABG sesama pelajar di Batam. He mengaku dapat info dari guru Slv.
''Karena semua teman tidak tahu keberadaan Slv, makanya saya ke rumah gurunya. Dari pak guru itulah saya tahu kejadian yang sudah menimpa anak saya. Gurunya bilang, anak saya itu datang ke ruangannya. Ia mengaku kalau tidak lagi perawan. Ia memilih mengaku saja terlebih dahulu, daripada ketahuan saat tes keperawanan. Tes keperawanan yang didengar anak-anak padahal hanya pancingan saja agar mereka mengaku telah menjual diri,''kata wanita asal Bandung.
Menurut Eri Syarial, anggota KPAID Kepri, ia juga mendapat informasi yang sama ketika berkunjung ke SMP tersebut. Beberapa guru mengaku mendengar siswi-siswi di sekolah ini banyak yang menjual keperawanannya pada om-om.
Motivasinya, kata Eri, karena ingin dianggap anak Batam. Anak Batam itu menurut interogasi gurunya, adalah anak yang menggunakan BlackBerry, giginya dipasangi behel dan rambutnya harus berponi. Dari tuntutan gaya hidup seperti ini, kata Eri lagi, anak-anak itu menjadi sangat tergiur ketika ada yang bercerita dapat uang Rp8juta hanya dengan merelakan keperawanan. Dengan uang sebanyak itu, mereka akan bisa membeli BlackBerry atau memasang kawat gigi (behel) yang harganya berkisar antara Rp4-5jutaan.
''Jadi motif trafficking untuk kalangan pelajar lebih pada gaya hidup. Yaitu punya ponsel yang bagus dan mempercantik penampilan,''kata Eri yang ketika dihubungi via ponsel sedang menanggani kasus di Moro.
Berbeda alasan ABG yang tidak lagi sekolah namun menjual diri. Menurut pengakuan mereka yang rata-rata berumur 15 hingga 18 tahun itu, kata Eri lebih pada faktor ekonomi. Dari enam anak yang diamankan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Kepri dari penginapan Kusuma Jaya, Pelita, Minggu (4/12) pukul 23.00 WIB lalu. Mereka beralasan tidak tahu harus bekerja apa lagi. Ijazah yang mereka miliki hanya SD dan SMP. Sedangkan mereka dituntut menjadi tulang punggung keluarga. ''Dengan bekerja seperti
ini, mereka dengan mudah mendapat uang dan tetap dapat menghidupi keluarga.
Lalu bagaimana latar belakang keluarga pelajar juga ABG yang terjerumus dalam prostitusi ini? Menurut pengakuan He, ibu kandung Slv, anaknya bukan termasuk anak yang suka keluar malam. Setiap kali pergi keluar rumah dia selalu minta izin. Ia juga selalu mengenalkan teman-temannya.
''Tapi waktu Zah, sering main ke rumah saya melihat anak ini tidak baik. Dia sering tiba-tiba datang dan pergi tanpa pamit. Saya juga bilang ke anak saya untuk tidak bergaul dengan Zah lagi. Tapi anak saya bilang Zah ini anak yang baik. Dan ternyata perasaan saya benar, dia yang menjerumuskan anak saya hingga menjadi seperti ini,''sesal He.
Diakui He, ia selalu memantau Slv. Saat diluar kotapun, He tak lupa menelepon Slv. ''Anak saya empat, dia paling besar. Dia yang menjaga adik-adiknya. Dia suka di rumah main dengan adik-adiknya itu. Tapi kalau temannya datang dan mengajak pergi, dia pasti minta izin,''kata He.
Untuk ponselpun, He selalu membelikan. ''Hape yang dipakai anak saya ini sudah yang ketiga. Saya belikan lagi kalau hapenya sudah rusak. BlackBerry pun sudah pernah saya belikan, memang buatan China sih. Nah, kalau yang terakhir ini Nokia senter (Nokia 1202). Harganya cuma Rp150ribu. Saya bilang dia, kalau saya tidak mau membelikan ponsel lagi, karena saya kesal ponsel kok sering rusak. Dan memang casing ponselnya sudah nggak karuan, tombol-tombolnya saja ngak terlihat lagi tulisannya,''kata He
yang berdandan casual.
Menurut He, dia tidak melihat perubahan apa-apa pada anaknya. Baju-bajunya masih yang saya belikan. Ponselnya juga masih sama. ''Saya tanya uang sebanyak itu (Rp800ribu) dipakai untuk apa. Dia bilang untuk makan-makan dengan teman-teman sekolahnya. Dia bilang itu uang haram jadi ngak boleh dibawa pulang,''tutur wanita berambut pendek ini.
Tagor Sitanggang, SH, kuasa hukum Mn, juga menceritakan keseharian gadis yang disebut-sebut sebagai perantara. Menurut Tagor, Mn tidak seperti yag diberitakan. Dia tidak hidup mewah. Dia anak yang sederhana. Dia juga tidak menggunakan mobil. Bahkan setiap harinya, Mn masih minta uang saku Rp20ribu. Mn adalah anak tunggal dari keluarga sederhana. Rumahnya di komplek Baloi Ditpam hanya sewa.
Bapaknya buruh, ibunya jualan nasi di pasar. ''Anak ini memang suka nongkrong dengan teman-temannya. Hampir setiap hari dia keluar rumah dan ngumpul-ngumpul dengan temannya,''kata Tagor.
Selain Tagor, siang, itu, ibu Mn turut mendampingi, wanita bertubuh besar dan berkulit putih itu sangat berbeda jauh dengan Mn yang terlihat kurus dan berkulit kuning langsat. Wanita itu duduk di sofa berbeda namun masih berdampingan dengan Mn. Sedangkan di samping Mn duduk Slv. Seperti pengakuan beberapa teman akrabnya menyebutkan hubungan Mn dan orangtuanya tidak harmonis. Ia kerap dimarahi. Mn juga
sering tidak masuk sekolah. Bahkan teman-teman Mn banyak dari geng motor. Walau begitu, Mn termasuk anak yang pintar. Dia bisa berbahasa Inggris. Di sekolahnya, Mn hanya suka bergaul dengan teman-teman genknya. Karena itu Mn sering disebut anak yang sombong.
Walau masih di bawah umur, mereka bisa membuat transaksi cukup rapi. Menurut Eri, mereka membuatnya seperti MLM (multi level marketing), ada jaringan-jaringan atau kaki-kaki yang menghubungkan ke pelanggan. Pelajar yang mau dibooking harus menghubungi beberapa perantara. Seperti
kasus Slv, Mn lah yang menjadi perantara antara Slv dan Pu, mucikari yang juga seorang mahasiswi. Dan dari Pu inilah mereka dipertemukan dengan penikmat daun muda.
Sama halnya dengan penjelasan Pjs Kapolresta Barelang AKBP Yohanes Widodo yang menyebutkan transaksi yang dilakukan pelaku dengan cara berantai. Bahkan dengan kemudahan teknologi sekarang, foto-foto pelajar yang akan dijadikan pemuas nafsu itu bisa dilihat lebih dulu oleh pemakai. Mn
menyimpan dalam ponselnya. Jumlahnya hingga 150 orang perempuan ABG. Selain itu menurut keterangan polisi, Mn juga menyimpan sejumlah nomor telepon pelanggan yang kebanyakan pria impor.
Berbeda dengan ABG yang putus sekolah dan sudah berprofesi sebagai PSK. Mereka tidak menggunakan jaringan melainkan dikoordinir seorang germo (yang biasa disebut mami). Dari mami inilah mereka terima order. Setiap kali transaksi mereka menerima pembayaran Rp1juta dan wajib menyetor Rp150ribu untuk maminya. Agar mudah dikoordinir, ABG-ABG ini harus tinggal bersama-sama di satu rumah atau
penginapan. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar