Harus Serba Bisa
Keinginan Kartina meraih masa depan yang baik membuat.perawat ini rela bertugas di pulau terpencil. Walau ia harus menghadapi bahaya di laut dan kesepian jauh dari keluarga..
Pagi itu masih gelap di Pulau Belinyu. Jarum jam menunjukkan pukul 06.00 WIB. Kartina bergegas masuk kedalam perahu motor (pompong) sambil menggendong anaknya yang berumur 3 tahun. Soerata, suaminya meletakkan tas ke dalam pompong. Tak hanya itu, Soerata juga mengepak dua karung beras dan bungkusan besar berisi cabai, bawang merah, telor dan sedikit sayuran. Semuanya diatur di dalam dek pompong yang panjangnya 3 meter. Dalam pompong itu sudah ada guru agama beserta keluarganya. Total dalam rombongan itu 7 orang.
Tak lama, setelah semua barang bawaan masuk di dalam pompong. Rombongan kecil itupun berangkat ke Desa Pekajang. Desa yang terletak antara Pulau Singkep dan Bangka di selat Karimata. Butuh waktu 5 jam untuk sampai dipulau yang masuk Kabupaten Lingga ini. Pompong itu disewa warga Desa Pekajang Rp 600 ribu untuk menjemput tenaga medis dan guru yang akan bertugas di daerah tersebut. ''Memang pompong itu di carter oleh warga Pekajang untuk menjemput kami,'' kata Tina.
Perjalanan dari Pulau Belinyu ini adalah lanjutan setelah perjalanan 12 jam dari Pelabuhan Kijang ( Tanjungpinan). Di dalam pompong. Tina memilih berbaring. bersama putranya. Dibawah lindungan terpal sepanjang 1 meter, Tina berbaring tepat diatas mesin. Awalnya Tina tidak mabuk. Tapi karena gelombang mencapai 3 meter di laut Cina Selatan, ia akhirnya benar-benar mabuk. ''Saya memang tidak punya gambaran perjalanan yang harus ditempuh menuju Desa Pekajang. Makanya saya kaget. Apalagi ketika pompong dihantam ombak besar. Saya pasrah, ''kata Tina yang kini sedang hamil 2 bulan.
Perjalanan itu akhirnya memakan waktu 6 jam, karena pompong terus diterjang ombak tinggi.
Tina pun akhirnya bertugas di puskesmas terpadu (pustu) Desa Pekajang. Hanya Tina dan Herman yang bertugas di puskesmas itu. Mereka berdua dikirim dalam program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan) tahun 2008.
Desa dengan penduduk 174 jiwa ini sangat menantikan kedatangan mereka. Terbukti, kata Tina, mereka langsung menerima kedatangan kami dengan baik. Bahkan kami tidak diberi kesempatan istirahat. Puskesmas yang juga menjadi tempat tinggal Tina dan Herman tidak pernah tutup. Jam berapa pun mereka datang mengetuk pintu minta diobati. Tina yang hanya lulusan perawat ini pun dituntut serba bisa. Ia harus bisa menolong persalinan. ''Untung saja saya pernah bekerja 2 tahun di salah satu klinik bersalin di Tanjungpinang. Pengalaman itulah yang membuat saya berani,''kata wanita kelahiran Daik, Kabupaten Lingga.
Sedangkan Herman, teman sejawatnya, lebih sering bertugas mengantarkan pasien ke RS Belinyu di Pulau Bangka. ''Jika ada pasien perlu dirujuk, Hermanlah yang mengantarkan. Biasanya menunggu pagi hari, pasien dibawa dengan pompong,''jelas Tina.
Pilihan rumah sakit terdekat justru di Pulau Bangka. Karena untuk sampai RS. Lapangan Daik butuh waktu 10 jam. Sedangkan di RS Belinyu Pulau Bangka hanya 4 jam. Jika ombak besar, perjalanan pun bisa ditempuh 6 jam.
Tak hanya kendala itu, Tina sering kekurangan obat. Karena stok obat baru bisa diambil 3 bulan sekali.
Tina mengaku sering memesan obat ke Pulau Bangka. ''Saya menggunakan obat-obat pribadi yang dipesan ke pulau terdekat. Karena penduduk disini sering kena demam berdarah, karena itu saya harus punya stok obat untuk penyakit itu,''kata Tina lagi. Sepi dan tidak ada hiburan juga dirasakan Tina. Untung saja Soerata dan Adil, suami dan anaknya ikut ke Pekajang. ''Hanya anaklah yang jadi hiburan saya,''kata Tina.
Jika ingin menelpon oranngtua dan keluarga ia harus menelpon ke wartel. ''Seperti membeli voucer juga. Biasanya sekali menelpon habis Rp 100 ribu. Kalau pemilik wartel kehabisan voucher, kita juga tidak bisa menelpon, ''kata Tina lagi. Di desa pekajang, ponsel tidak bisa digunakan, karena tidak ada sinyal sama sekali.
Tak hanya itu listrik di pulau ini juga sangat terbatas. Hingga ia jarang sekali bisa menonton tv. Karena itu Tina sering kekurangan informasi sejak berugas di Desa Pekajang. Biasanya, aparat desa yang datang memberitahu jika ada informasi dari puskesmas Induk di Daik.
Untuk memenuhui kebutuhan sehari-hari. Tina bergantung dengan stok yang sudah dibawanya saat pertamakali datang. ''Stok bahan makanan disini sering putus. Biasanya saat ombak besar. Makanya saya sering titip surat untuk orangtua di Daik melalui nelayan. Isi suratnya, minta dibelikan beras dan bahan makanan lain. Dan nanti akan dibawa oleh nelayan itu saat kembali ke Desa Pekajang,''cerita Tina.***
Tiga Tahun Tanpa Gaji
Ini adalah kali kedua, Tina bertugas di pulau. Sebelumnya Tina di Daik, Kabupaten Lingga sebagai tenaga sukarela di Puskesmas. Lulusan D3 Sekolah Keperawatan Depkes 2003 ini bekerja selama 3 tahun sebagai tenaga sukarela. Status inilah yang membuat Tina tidak menerima gaji..''Dia memang pernah mengeluh sedih. Melihat teman-teman sesama perawat menerima gaji,''celetuk Soerata, suami Tina.
Memang sesekali Tina menerima honor. Itupun jika ada kegiatan sunatan massal atau P3K bersama instansi pemerintah ataupun Kepolisian. ''Saya pernah terima honor Rp 100-150 Ribu untuk kegiatan 2 hari,''cerita Tina.
Walau tak bergaji, Tina menjalani tugasnya ini dengan sepenuh hati. Hampir semua pekerjaan yang berhubungan dengan pelayanan medis dikerjakan Tina. Ia mengaku keputusannya sudah bulat . Mengabdi untuk kota kelahirannya.Sekaligus jalan untuk mencapai masa depan yang lebih baik. ''Saya sangat ikhlas. Selain menambah pengalaman, saya juga bisa tahu untuk sukses itu memang tidak mudah. Jadi saya anggap memang harus bersusah-susah dahulu baru kemudian senang,'' kata Tina yang sedang menunggu pembagian SK PNS nya.
Dukungan Soerata, membuat Tina bertahan bekerja di Daik bertahun-tahun. ''Dia sangat mengerti posisi saya. Kami memang berprinsip susah senang harus bersama, ''kata Tina lagi. Soerata rela meninggalkan pekerjaannya sebagai tenaga sablon di Tanjungpinang. Dan memilih ikut pindah ke Daik. Disana ia bekerja menjadi buruh bangunan.
Tina juga pernah ditugaskan di Desa Tanjung Dua, Penuba dan Desa Pekaka. Masing-masing dijalani Tina selama 2-4 bulan.
Saat di Desa Pekajang, suaminya juga tak memiliki pekerajaan tetap. Ia lebih banyak memancing dan membuat ikan asin.
Walau suami selalu menemani, Tina seringkali cemas. Isu perampokan dan pembunuhan membuat Ia dan penduduk desa Pekajang cemas dan takut. Apalagi hanya ada 1 polisi dan 1 banbisa. (agn)
5 Kali Ikut Tes CPNS
Keinginannya menjadi pegawai negeri sipil cukup besar. Lima kali sudah pelaksanaan tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) diikuti Kartina. Dan tes kelima pada tahun 2009 inilah, Tina berhasil lolos. Itupun setelah melampirkan surat keterangan pernah menjadi tenaga sukarela di Daik. Ketika di temui di rumahnya di Batu 11 Tanjungpinang, Selasa (22/2) Tina terbaring lemah. Padahal kedatangannya ke Tanjungpinang untuk menjalani tes kesehatan dan mengambil SK. Tina yang hamil 2 bulan, tidak bisa banyak bercerita. Bahkan wawancara dengan Batam Pos lebih banyak dengan sms dan bertanya dengan suaminya. Tina hanya menutup rapat mulutnya. Karena jika terbuka sedikit saja ia sudah muntah.
Tina memag tidak bisa berlama-lama dengan kondisi itu, Ia harus segera kembali ke Pekajang. Karena SK PNS nya di desa Pekajang itu. Tina adalah anak kedua yang bekerja. Kakak tertuanya adalah guru di desa Pekajang. Profesi Tina sebagai perawat sangat membanggakan orangtuannya yang hanya seorang buruh bangunan. Karena itu, Tina sangat bersyukur menjalani profesinya. Ia bahkan rajin membaca buku kebidanan dan alternatif obat untuk menambah ketrampilannya.
Kini Tina sudah menerima gaji Rp 1,5 juta perbulan. Bahkan insentif daerah terpencil bisa didapat Tina hingga Rp 12 juta/tiga bulan. ''Ini semua hasil dari perjuangan selama ini,''kata anak keempat dari lima bersaudara ini (agn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar