Tidak disangka, ditengahnya gemerlapnya kota Batam, ada segelintir orang yang jauh dari kecukupan. Bahkan bisa dibilang sangat terbelakang. Untuk hidup sehari-hari saja, sulitnya minta ampun. Jika tidak ada lagi makanan, mereka naik ke pohon nangka.
Terkadang mereka langsung makan mentah-mentah tapi kadang juga direbus dulu. Beras bulog menjadi sangat berharga. Yang punya tanaman kacang panjang atau ikan ditukar ke toke menjadi beras. Yang tidak punya apa-apa hanya bisa pasrah dengan keadaan. Anak-anaknya tidak sekolah.
Diusia yang seharusnya bisa membaca, anak-anaknya justru diam seribu basa. Tidak bisa bicara apa-apa. Yang hanya dia tahu kata-kata makan atau minum. Yang lain tidak tahu sama sekali. Apalagi untuk kesehatan. Mereka juga tidak paham sama sekali. Disaat anaknya sakit, uang tidak ada. Kepanikan itulah yang kemudian membuat ibu Azis, sakit jiwa.
Suaminya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya Azis kehilangan ibu yang normal, ibu yang bisa menjaganya. Kini Azis benar-benar sangat terlantar. Ibunya hanya tidur dan tidur saja. Azis dibiarkan dengan kelaparan. Tidak mandi berhari-hari. Tidak ada kasih sayang. Yang ada hanya pukulan yang diterima Azis. Ayahnya suka sekali marah dan memukul Azis. Jika sudah begitu, Azis memilih lari. Dan tidur di bale-bale rumah orang lain. Untung saja, Azis masih punya tetangga yang peduli. Ia masih diberi makan.
Saya pun miris melihat Nisa, Lilis, Siti, Azis djuga Dwi ketika belajar di mushola. Tas ransel yang mereka bawa rata-rata berlobang. Pakaian yang mereka kenakan, adalah pakaian yang paling terbaik yang mereka punya. Padahal itu juga dibeli di pasar seken di Piayu. Apalagi pakaian yang dikenakan Azis, sebenarnya lebih pas dijadikan kain lap. Tapi itu juga yang paling terbaik dipunyai Azis.
Ketika ditanya tentang mall, tak satupun pernah menginjakkan kaki kesana. Mereka hanya tahu pasar tradisional. Ketika daiajak jalan-jalan dengan mobil bersama Angelina, guru sukarela di kampung nelayan baru itu, mereka senang sekali. Serasa mendapatkan sesuatu yang berharga. Bagi Azis dan teman-teamn kebaikan, kesabaran Angelina mengajari mereka akan menjadi hal yang selalu diingat. Dan akan menajdi pelajaran hidup bagi mereka. Bahwa menolong tanpa pamrih akan membawa kebahagiaan bagi orang lain juga diri sendiri. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar