Orang tulus berduit itu biasa. Tapi akan menjadi luar biasa jika yang tulus justru dari kalangan tidak berada. Saya rasakan sekali ketika beberapa kali bertemu Rosma. Wanita pengupas bawang di Toss 2000. Dialah yang memberitahukan saya soal Dewi, wanita yang sakit karena melahirkan.
Dan dari dia juga saya tahu Mak Latah, wanita penari Joget Dangkong. Mendengar suka duka Rosma dan Mak Latah melestarikan budaya Melayu, saya pun trenyuh. Jika mereka berlebih tidak masalah. Tapi mereka hanyalah ibu rumah tangga yang sesekali mencari uang tambahan dengan mengupas bawang dan berjualan koran.
Mereka ikhlas ketika tak dibayar. Yang penting mereka bisa joget dan memperlihatkan ini pada yang muda. Siapa tahu ada yang suka dan mau belajar. Itu sebenarnya misinya.
Saya jadi teringat kata- kata Ippho Right Santoso ketika ikut seminar 7 Keajaiban rezeki di Novotel Hotel beberapa waktu lalu. Katanya, bersedekah tak harus menunggu kaya. Ippho memang mengajak kita menggunakan otak kanan dalam berfikir. Yaitu urutan tak penting. Artinya tak harus kaya dulu baru bersedekah.
Dan Rosma sudah mengunakan ini. Disaat keinginan membantu orang lain ada namun uang tidak punya. Ia gunakan tenaga. Hasilnya luar biasa. Ketulusan yang diberikan membawa berkah bagi Dewi. Semua orang Batam tahu dan akhirnya membantu Dewi.
Kini Rosma ingin memberitahu kalau ada kesenian Melayu yang tidak diperhatikan. Bahkan nasib penarinya juga tidak ada yang peduli. Namun ia tak begitu berharap. Yang penting, mereka bisa joget dan hati juga senang.
Ketulusan itulah yang masih lekat di hati wanita-wanita sederhana di kawasan kumuh Tanjunguma. Mereka hanya berfikir dapat membantu orang lain walau kondisi mereka juga berkekurangan. Mereka bahkan lupa kalau dinding kamar bolong. Atap rumah hanya seng, kalau siang hari panasnya luar biasa. Atau lantai dapur jebol karena lapuk. Yang utama, hati riang karena orang lain juga senang. Semoga yang berada tak lupa menjadi seperti mereka. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar