Ada yang cuek, bahkan juga terang-terangan melarang anaknya. Padahal si anak begitu mendambakan bisa sekolah. Tanpa usaha apa-apa membiarkan putrinya yang berumur 10 tahun drop out dari sekolah. Padahal jika mau usaha sedikit saja, ia bisa menyekolahkan anaknya.
Dari upah kerja sebagai pembantu rumah tangga plus tips memijat, uang masuk SD Negeri sebesar Rp 500 ribu bisa dibayarkan. Tapi karena tidak ada kemauan tadi, akhirnya si anak tidak belajar hampir 2 tahun. Hingga seorang yang peduli datang membantu. Akhirnya Lisa bisa sekolah lagi. Satu tahun juga, ia sekolah dan sekarang di kelas 3. Tapi sayang, saya dengar dia tidak sekolah lagi. Alasannya tidak jelas.
Menurut teman-temannya, Lisa sering tidak masuk sekolah. Bukan karena sakit melainkan sering dibiarkan tidak sekolah karena ditinggalkan ibunya. Sedih sekali mendengarkan itu, Lisa pasti makin minder. Padahal untuk membangkitkan kepercayaan dirinya sangat sulit. Ingat hari pertama mengantarkanya masuk sekolah lagi, ia ragu. Malu, ketika melihat teman-teman satu kelas lebih kecil dibandingkan tubuhnya. Namun akhirnya ia melupakan itu dan menikmati hari-hari di sekolah. Memiliki teman-teman sekolah, membuat pekerjaan rumah hingga berenang bersama teman-teman. Matanya selalu berbinar setiap kali berangkat sekolah. Tapi, kini ia harus terpuruk lagi. Saya tidak bisa membantu lagi karena saya kehilangan kontak.
Nah, kalau yang satu ini membuat saya salut luar biasa. Kembali ke Rosma, wanita yang tinggal di Tanjunguma itu ternyata memiliki 4 anak. Paling kecil 4 tahun, kemudian kelas 2, kelas 3 dan yang paling besar kelas 4. Sejak suaminya meninggal dunia, dan meninggalkan hutang, Rosma berjuang seorang diri menghidupi anaknya. Ia coba minta bantuan biaya sekolah ke beberapa lembaga sosial. Dari uang Rp 400 ribu yang didapat, ia bayarkan sebagian untuk biaya sekolah. Sisanya untuk modal jualan. Maksudnya, agar ia tidak perlu lagi minta bantuan. Ia mengaku malu. Walau susah, ia tak mau terus susah. Lebih baik tangannya memberi daripada meminta.
Padahal, Rosma kerapkali sedih melihat anaknya bergantian memakai sepatu ke sekolah. Ia memang belum mempunyai uang lebih untuk membelikan sepatu. Tapi, suatu saat ia akan belikan. Ia sudah mulai menyisihkan uang untuk itu.
Dukungannya yang besar membuat anak-anaknya tidak malas ke sekolah. Semangat itulah yang seharusnya dipunyai para orangtua. Kondisi sesulit apapun pasti ada penyelesaiannya. Asal kita masih mau berusaha. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar