Ia sangat terinspirasi oleh kedermawanan gurunya. Hingga puluhan pengobatan gratis digelarnya.
Jam di dinding masih menunjukkan pukul 06.00 WIB. Aleng tampak sibuk menyiapkan ramuan yang akan dibawanya untuk pengobatan gratis. Sedangkan Jamal asisten Aleng mengemas puluhan botol berisi minyak Brajamusti Alami kedalam tas. Tak lupa Jamal memasukkan mangkok, arak dan seikat lidi.
Tepat pukul 08.00 WIB, keduanya berangkat mengunakan mobil pribadi Aleng. Dari rumahnya di Perum Garden blok O No. 6 Batam Center, Aleng membawa mobilnya menuju Sengkuang. Hari itu, Minggu 3 Oktober 2010, Aleng melakukan pengobatan gratis untuk warga RT 03 RW 09. ''Ini sudah kesekian kalinya saya melakukan pengobatan gratis. Saya sampai lupa sudah berapa kali. Tapi yang pasti, selama setahun 2 kali.,''kata Aleng.
Saat tiba, Aleng melihat di meja pendaftaran, kartu antrian sudah pada angka 500 an. Segera saja, Aleng memanggil pasien pertama. Seorang pria berumur 60 tahun dipapah oleh dua orang warga didudukkan di depan Aleng. ''Dia tak bisa ngomong. Badannya juga tak bisa digerakkan. Dia bilang kalo stoke,'' cerita Aleng sambil melihatkan foto-foto pengobatan gratis saat itu.
Aleng lalu mengambil minyak Brajamusti Alami. Di balurkan ke seluruh tubuh pria itu. Mulai dari punggung, pinggang hingga kaki. ''Dia menjerit kepanasan setiap kali minyak itu saya oleskan. Tapi tak lama setelah seluruh badannya di oleskan minyak dan dipijat. Dia bisa menggerakkan bagian tangan dan kakinya,'' kata Aleng. Akhirnya pria itu pulang tanpa dipapah lagi karena sudah bisa berjalan sendiri.
Saat Aleng menceritakan pengobatan gratis yang pernah digelar beberapa waktu yang lalu itu, seorang pria berpeci putih masuk. Dia langsung duduk dilantai dan membuka celana panjangnya. Jamal, asisten Aleng mengambil semangkok arak dan sebotol minyak Brajamusti Alami dan seikat lidi. Sambil menunggu, dia memperkenalkan diri. H. Yusril, begitu dia menyebut namanya pada Batam Pos. Dia sedang melakukan terapi. Ini sudah berjalan 2 tahun. ''Saya stroke. Dulu waktu dibawa kesini, saya dipapah dan tidak bisa apa-apa,'' kata pria berumur 65 tahun. Pada bulan ketiga setelah pengobatan, Yusril mengaku ada perubahan. Tangan dan kakinya bisa digerakkan. Sebenarnya ini semua akibat makanan. Begitu Yusril mengingat penyebab penyakitnya itu. Dia bukan perokok dan tidak suka kopi. Bahkan dia rajin olahrga tenis. Tapi dia mengaku setiap kali selesai main tenis, dia makan mie pangsit. Semenjak sembuh, Yusril berpantang makanan. ''Saya hanya makan nasi, tempe dan kecap,''katanya sambil sesekali meringis karena kakinya sedang dipijat dan diberi minyak oleh Jamal.
H Yusril adalah satu bukti dari ratusan pasien yang sudah disembuhkan Aleng. Bukti lain juga ada terlihat dari foto-foto yang ada di backdrop besar berukuran 2 x 3 m yang terpasang di dalam ruang prakteknya. Ada pasien tumor,kista, kanker, belum punya keturunan baik itu di Jakarta, Singapura, Malaysia, beberapa kota di Sumatra juga Kepulauan Riau. Ia mengaku tergerak melakukan ini karena melihat banyak sekali orang sakit dari kalangan tak mampu. Biaya berobat yang mahal, menjadi masalah bagi mereka yang tak mampu. Tak heran, setiap kali menggelar pengobatan gratis, ratusan orang datang berobat. Aleng mengaku bisa menghabiskan dana hingga Rp 20 juta untuk gelaran itu. Ia punya keyakinan bahwa tak akan miskin hanya karena berderma. Justru rezeki akan berlipat ganda karena berderma.
Jiwa sosial ini sudah dirasakan Aleng kecil. Sejak umur 10 tahun, keinginannya untuk membantu orang lain cukup besar. Ia mau membantu pamannya yang punya keahlian Kungtao (tangan kosong), agar bisa punya keahlian menyembuhkan penyakit. Aleng salalu membantu pamanya mengambilkan arak. Kesempatan berdekatan dengan pamannya itulah, menjadi waktu belajar. Setiap kali pamannya menangani pasien, Aleng tak menyia-yiakan untuk bertanya dan mempelajari ilmunya. Untuk memantapkan ilmunya, Aleng belajar ilmu Kungtao ke Bengkalis.
Walau harus sembunyi-sembunyi (karena dilarang beroperasi). Alhasil, umur 12 tahun, Aleng sudah fasih dan bisa mengobati penyakit akibat terkilir ataupun jatuh. Ia pun kembali membantu pamannya. Pagi harinya jualan ikan di pasar, sorenya Aleng sudah ada di tempat praktek pamannya di Jl. Patimura Bengkalis.
Ketika pamannya meninggal, Aleng terpaksa meninggalkan kota kelahirannya itu. Ia merantau ke Dumai, lalu ke Pekanbaru juga ke Medan. Di kota-kota itu, Aleng menjadi penjaga toko kelontong dan kedai kopi. Dan disaat umurnya menginjak 24 tahun, Aleng pindah ke Batam. Ia kerja di toko Utama, penjual alat-alat bangunan di Nagoya. Satu tahun juga pria yang tak tamat sekolah SD ini bekerja di toko itu dan pindah ke salah satu developer di Tiban sebagai mandor. Tak ingin menjadi karyawan, Aleng mencoba berbisnis sendiri. Ia jadi calo paspor. Lima tahun ia berkecimpung didunia pembuatan dokumen ini. Bahkan Aleng juga pernah membuka jasa Penyalur Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI).
Suatu saat, Aleng bertemu orang Singapura yang menawarkan berjualan panci (teflon). Ia pun tertarik, dan sering bepergian keluar kota untuk berjualan panci. Omset yang didapat Aleng pun mencapi 30 juta. Namun ia mengaku uang yang didapat habis dijalan saja.
Hingga suatu malam, Aleng teringat akan keahliannya dalam mengobati penyakit. Ia kemudian terfikir untuk memperdalam ilmu ramuan untuk kanker, tumor juga kista. Dan Malaysia jadi tujuan Aseng untuk menuntut ilmu. Ia tahu di Malaysia, ada seorang guru terkenal untuk ramuan. Guru itu sudah berumur 80 tahun dan berasal dari Cina. Pho She Bian namanya. Guru inilah yang sangat menginspirasi Aleng untuk terus membantu orang tak mampu. ''Dia sering buat pengobatan gratis, walau kadang dibayar juga oleh orang lain,''kata Aleng.
bahkan ditugasi membuat resep dan mengurut pasien.
Ciptakan Ramuan
Merasakan ilmunya telah cukup. Alengpun kembali ke Batam. Awalnya Ia buka praktek di Bengkong. Pasien pertama, adalah abang kandungnya. Ramuan Brajamusti yang diolah Aleng dari cabe monyet dan ramuan dari Cina di cobakan ke abangnnya. Tadinya, abangnya itu sakit kepala. Rasa sakitnya sampai keujung kaki. Lalu, Ia coba oleskan minyak Brajamusti kebagian yang sakit. Sepuluh menit kemudian, Aleng coba menelpon abangnya itu sudah jalan-jalan ke Nagoya. Semangat Alengpun muncul. Ia makin percaya diri untuk memberi obat itu. ''Sebenarnya obat itu muncul dari mimpi. Lalu saya coba kombinasikan dengan yang lain. Hasilnya luar biasa. Cairan menyerupai gel ini dapat menyembuhkan beragam keluhan penyakit.
Disaat Aleng menerima pasien. Kami pun (saya dan Yusuf, fotografer) sempat mencoba keampuhan minyak Brajamusti itu. Yusuf yang mengeluhkan kakinya sering kram, dicoba diolesi minyak oleh Jamal, asisten Aleng. Pria asal Jawa Tengah ini menyiapkan terlebih dahulu arak di dalam mangkok kecil. Dan segera mengoleskan minyak itu. Sebelumnya Ia menanyakan bagian tubuh yang sakit. Dari bagian itulah, Jamal mulai melakukan terapi. Saat diolesi, minyak itu terasa dingin, tak samapi satu detik, minyak itu mulai terasa panas. Dan makin panas sekali. Yusuf sampai menjerit karena tak tahan akan panasnya yang luar biasa. Jamal segera menepuk-nepuk bagian tubuh yang diolesi tadi. Hasilnya panas yang tadi terasa sangat menyengat hilang. Dan Yusuf merasa kakinya lebih nyaman. Terapi kemudian dilanjutkan. Jamal melanjutkan pada bagian lain. Terutama di telapak kaki. Karena menurut Jamal, sumber penyakit bisa dideteksi di bagian telapak kaki.
Saya pun penasaran dan ingin mencoba. Karena keluhan saya selalu dibagian tengkuk, Jamal segera mengoleskan minyak dibagian tersebut. Luar biasa....saya pun menjerit kepanasan. Tapi tak lama setelah ditepuk, panas tadi hilang. Jamal juga mengoleskan arak pada bagian tengkuk tadi agar panasnya cepat hilang. Tengkuk, bahu dan punggung yang tadinya terasa berat karena masuk angin, menjadi plong...ringan. Tak ada lagi rasa pegal. Saya pun mencoba pada bagian kaki. Saat dipijat bagain telapak kaki, sakitnya luar biasa. Saya pun tak tahan dan minta menghentikan pijatan itu. Jamal pun mengalihkan pijatannya ke kaki. Setelah betis dan lutut diterapi, Jamal kembali memijat telapak kaki. Hasilnya, tidak adalagi rasa sakit. Jamal pun beralih ke kaki bagian kiri. Saat diberi minyak Brajamusti, lulut saya tiba-tiba keluar bercak biru. Menurut Jamal, ada angin di pembuluh darah. ''Sering ada keluhan di daerah ini ya, tapi dibiar-biarkan saja,''tanya Jamal. Saya pun mengangguk. Memang sudah lama sekali lutut kiri saya sakit. Tapi sering hilang dan timbul, saat sakit jalan pun sambil meringis.
Tak hanya minyak Brajamusti., Aleng juga membuat ramuan-ramuan lain untuk mengobati beragam penyakit. Seperti yang ada di dalam lemari kaca di pojok ruangan prakteknya. Rempah-rempah berbungkus kantong plastik tersusun rapi dan dipisahkan berdasarkan penyakitnya. Ada ramuan U Hua Chao (untuk tumor dan kanker benjolan), Obin Chao (untuk kista ovarium ovarian), ramuan Obin Caho (untuk Myoma Uteri) dan ramuan untuk kesuburan dan keturunan. Selain rempah-rempah, di kulkas ada juga ramuan cair yang siap diminum. Ramuan itu dibuat Aleng
dari temu mangga, kunyit putih dan tanpa bahan pengawet. Obat ini bisa mengobati kanker dan tumor. Aleng juga menunjukkan tanaman di pekarangan belakang rumah. Daun Chit Chi Cam dan daun U Ming Chan ditanamnya sendiri. Bibit itu dibawa dari Cina dan dibudidayakan sendiri. Daun Chit Chi Cam (setangkai tujuh daun ini bisa menyembuhkan kista, myoma, tumor. Daun ini berkhasiat menghancurkan tumor ganas. Cara mengkonsumsinya cukup dikunyah-kunyah saja. Untuk masing-masing ramuan Aleng membuatkan paket harga. Misalkan paket obat untuk tumor, kanker dan benjolan yang diminum 1 bulan Rp 1.500.000. Sedangkan paket obat untuk kista Rp 850.000. Minyak Brajamusti yang dikemas dalam botol kecil dijual Aleng perbotol Rp 200.000. Karena pasiennya sudah tersebar di beberapa kota di Indonesia dan negeri tetangga, Aleng sering menerima order obat. Ia bahkan sering mengirim pesanan obat ke Australia. Bulan Juni ini, Aleng akan ke Taiwan untuk mensosialisasikan minyak Brajamusti ini.
Hatiku Selalu Tergerak Ingin Membantu
Kepedulian Aleng terhadap orang tidak mampu cukup besar. Ia sangat memanfaatkan keahliannya itu untuk membantu orang-orang tersebut. Tak hanya pengobataran gratis yang menhabiskan biaya puluhan juta. Ia kerapkali mendatangi satu persatu rumah orang tak mampu untuk memberi pengobatan. Biasanya Aleng mendapat info dari koran. Saya ingat, beberapa tahun lalu, Aleng pernah menelpon ke redaksi Batam Pos. Ia membaca berita seorang penderita kanker. Ia menyarankan agar orang tersebut ke tempat prakteknya. Karena ia bisa bantu mengobati tanpa biaya. ''Saya suka tak tahan lihat orang tak mampu sakit. Saya tahu mereka menderita karena sakitnya itu. Mau berobat tak punya uang. Hati saya selalu tergerak ingin membantu. Makanya dengan keahlian saya ini saya bisa bantu,''kata Aleng.
Ia mengaku bisa bantu mengobati kanker stadium 1 hingga 2. Tapi kalau stadium 4 itu mukjizat. Aleng sangat percaya kuasa Tuhan. Aleng juga menyarankan pasiennya untuk tidak melakukan kemoterapi. Karena efeknya justru merusak sel yang baik. Ia justru menyarakan agar berpantang makanan saja. Seperti saran yang diberikan pada Manawari. Pria berumur 50 tahun ini menderita kanker getah bening. Ia datang dengan kondisi leher bengkak. Pria yang tinggal di Nongsa ini bahkan sudah melakukan 2 kali kemoterapi. Tubuhnya makin kurus dan pendengarannya pun makin berkurang, suaranya juga sengau.
Melihat kondisi Manawari, Aleng menyarankan melakukan pengobatan. Ia lalu memberi harga diskon hingga Rp 500 ribu.
Aleng meyakinkan bahwa penyakit Manawari bisa berkurang dalam sebulan. Namun jika tidak ia menyarakankan agar tidak kembali. Artinya pengobatan yang diberikan tidak cocok dengan Manawari dan menjaga ke tempat lain. ''Saya paling tak suka tipu-tipu. Jadi kalau tak ada perubahan dalam satu bulan saya tak menyarankan minum obat dari saya lagi. Dia tak cocok dengan saya,''kata Aleng.
Aleng juga tidak pernah memberatkan pasiennya dengan keharusan mengambil satu resep. Ia bisa memberi setengah resep menurut kemampuan keuangan. Tak jarang juga ia memberi gratis. ''Saya paling senang melihat orang sembuh. Artinya ilmu saya berguna dan saya pun tambah bersemangat membantu,'' kata Aleng menutup pembicaraan. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar