
Mungkin hampir setahun juga anakku ini mogok sekolah. Dia tiba-tiba nggak mau berangkat kesekolah lagi. Jika diantar ayahnya, pasti tak mau masuk kedalam sekolah. Kalau ditanya, alasannya temannya nakal.
Sampai akhirnya bu gurunya, datang kerumah, menanyakan alasan Mahirah tak mau sekolah. ''Katanya Putra nakal, '' kataku ketika bu Avi gurunya datang kerumah. ''Ah, Putra aja sudah nggak masuk beberapa hari ini, '' katanya. Dari situ, saya sempat bingung...jadi apa yang membuat anakku ini tak nyaman belajar di sekolahnya itu. Padahal dulu dia paling rajin kesekolah.
Lama juga pertanyaanku ini tanpa ada jawaban. Hingga suatu ketika ada acara di salah satu TV yang membahas masalah anak yang tak mau sekolah. Dengan host Shanaz Haqque, dan seorang psikolog yang saya lupa namanya. Mereka memberi tips cara mengetahui sebab musabab anak ogah sekolah. ''Coba anak diajak menggambar. Buat gambar orantuanya. Tanyakan pada dia apakah dia sayang dengan orangtuanya ini. Kalau dia mengatakan sayang dengan wajah gembira, berarti tidak ada masalah dengan kedua orangtuanya. Lalu buat lagi gambar teman-temannya. Coba sekali lagi, tanyakan komentarnya. Jika ia menjawab dengan cara yang sama seperti yang pertanyaan pertama. Berarti tidak ada satupun temannya disekolah yang membuat dia jadi tak nyaman. Lalu giliran gambar gurunya,''kata psikolog itu.
Nah, sudah kuduga. Anakku kurang respek. Dia spontan bilang, tak suka dengan gurunya itu. ''Bu guru jahat,''kata anak sulungku ini.
Wah..ini berarti dia ada masalah dengan gurunya. Kutanyakan lagi, kenapa kakak nggak suka. Dia bilang Putra dimarahi dengan bu guru. ''Olala...anakku ternyata tertekan melihat temannya di marahi. Ini jadinya. dia pilih tak mau sekolah lagi.
Jadilah, sejak itu...aku membiarkan dia dirumah saja dengan kegiatan yang dari pagi hanya nonton TV. Takut juga kalau anakku nggak bisa apa-apa. Karena yang ditonton film kartun saja. Apalagi sejak ayahnya, nyantol TV kabel teman sebelah rumah. Dari pagi yang dilihat cartoon Network saja. Yang dilihat Tom and Jerry, Ben10, Susypack, Pinkpanther. Kesemuanya tidak ada unsur pendidikannya. Trus gimana nih...??
Akhirnya, saya coba lagi ngajak Mahirah hunting sekolah. Saya coba ditempat teman. Dia punya sekolah dengan kurikulum yang menarik. Ada satu hari khusus, hanya kegiatannya mengunting dan menyanyi. ''Wah, anakku pasti suka nih,'' pikirku. Keesokkan harinya, langsung aku ajak dia. Hari pertama, kubiarkan dia main dibawah dulu. Adaptasi , maksudku. Nah, hari kedua, dia tak mau juga naik. Aku sudah mulai panik. Dan ternyata dugaanku tak meleset. Dia benar-benar tak masuk sekolah.
Yah, sudah aku pasrah. Seminggu kemudian, sepupunya coba disekolah lain. Di tempat ini anakku malah tak mau masuk. dia tetap pintu gerbang saja. Ya sudah.. bundamu ini tak bisa memaksa.
Hingga tanpa disengaja, ketika suamiku melihat-lihat kursi jati di salah satu ruko di pasar Mega Legenda, diseberangnya kulihat ada kursus piano. Kuajak anakku kesana. Dia langsung tertarik. Katanya dia mau sekolah musik saja. Setelah kutanya biayanya. Akhirnya kuambil saja. Total biaya uang pendaftaran, uang kursus, dan uang buku hampir Rp 500 ribu. Ah..masih lebih murah ketimbang di mall. Lagian lebih dekat saja.
Hingga senin lalu, 22 Juni 2009 anakku mulai belajar. Setiap jam 18.00 WIB, kakak sekolah. Hanya 1 minggu sekali. Rasanya kurang. Tapi nggak ada pilihan. Yang penting dia menyukai dulu. Dari luar ruangan saya dengar dia menyebutkan jumlah ketukan dari salah satu not. 45 menit juga dia didalam ruangan.
Biasanya sudah nggak betah. Tapi, kemarin, dia kelihatan senang. Dirumah, buku pelajarannya terus dibawa-bawa. Memang buku itu dikemas cukup menarik. Ada stiker-stiker yang ditempel dengan cara mencocokkan satu dengan yang lainnya. ''Bu, Mahirah tolong dirumah, ajarin angka 1 sampai dengan 4, trus huruf dari a sampai g,''kata bu guru itu.
Aku pun mengiyakan permintaan ibu guru baru Mahirah itu. ''Gimana rasanya kak, Kakak suka nggak. Tadi belajar apa saja,''tanyaku. "Iya kakak suka sekolah musik. Tadi kakak belajar pencet-pencet sambil nyanyi Do, Re, Mi, Fa, So, La, Si , Do,''kata kakak sambil memperagakan tangannya seolah-olah sedang memencet tuts piano.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar