beranda

Sabtu, 05 Februari 2011

Perjuangkan Nasib Anak-anak Cacat di Batam



Dari luar, pintu ruko Buana Mas No 2 di Batuaji itu digembok. Dilantai I ruko tiga lantai itu, 2 orang anak anak berseragam sekolah asyik melihat keluar dari celah pintu selebar 10 cm saja. Ketika ditanya, mereka hanya merespon seadanya. Bahkan mereka tetap dengan keasyikkannya masing-masing.

Ruli, gadis berusia 14 yang mengalami Mental Retardasi, keadaan dengan intelegensia kurang (subnormal) sejak lahir itu juga terbengong-bengong saja. Ketika ditanya, Ruli menjawab, namun tak melakukan apa-apa.

Untung saja, tak lama seorang guru datang menghampiri dari jalan samping ruko. Bu Desi, begitu wanita ini biasa adalah salah pengajar di Yayasan Permata Hati Bunda Batam ini. Bu guru yang telah mengabdi selama 6 tahun inipun mengajak masuk melewati pintu belakang ruko.



Ketika masuk kedalam, 5 orang anak asyik dengan kegiatannya masing-masing. Deri (12), dari ruang kelas berjalan ngesot (jalan mengunakan pantatnya) menuju tangga. Bocah penderita Cerebral Palsy (lumpuh otak) akan ke lantai II sendiri. Rio (15) berdiri di tangga. Dengan tas diselempangkan di bahu dia berdiri mematung. Dulu bocah ini lumpuh, kepercayaannya tumbuh setelah melihat teman-temannya.

''Melihat anak-anak bersemangat seperti itu, saya menjadi kuat,'' kata Yencetdrita Philia Siregar dan Alfred, pemilik Yayasan Permata Hati Bunda Batam. Walau pasangan suami istri ini menghadapi berbagai masalah. Seperti yang dialami saat ini, soal gedung sekolah, mereka tak menyerah. ''Developer PT. Cipta Buana minta kami pindah. Rolling door didepan itu mereka yang gembok,''kata Yeyen, mantan pramugari ini.
Sejak November 2010 lalu, uang muka ruko sebesar Rp 11 juta menunggak. Biasanya biaya itu dibayarkan oleh salah satu LSM. Namun karena sesuatu hal, mereka belum membayarkan uang tersebut. Yeyen dan Alfred tak menyerah, mereka berusaha minta keringanan membayar. Tapi pihak PT. Cipta Buana tetap ngotot minta kami pindah. Sebagai buktinya mereka langsung memasang gembok dipintu masuk ruko. ''Sekolah ini tak mungkin tutup, saya lihat semangat anak-anak, apalagi mereka kebanyakan dari keluarga tidak mampu,''kata Alfred, pria berkacamata ini.

Orangtua Deri misalnya. Mereka dari keluarga tak mampu. Untuk membayar sekolah saja tidak mampu. Agar anaknya bisa sekolah, ibunya rela membantu kami menyetrika pakaian anak-anak yang ada disini. Ibunya melihat kemajuan anaknya sangat baik. Dulu anaknya itu hanya dikurung di rumah. Untuk menulis ia menggunakan kakinya. Karena tanganya melingkar dan kaku. Dulu saat menulis dengan kakinya gemetar. Tapi sekarang dia sudah bisa melakukan dengan baik. Sangat percaya diri, dan mandiri. IQ nya juga baik. Hanya fisiknya saja yang cacat.
Tak hanya Deri, ada sekitar 45 anak lain yang mengalami hal serupa. Kondisi orangtua yang tak mampu dan sangat membutuhkan sekolah ini. '' Kami bisa saja pindah dan tutup. Tapi tanggungjawab pada puluhan anak-anak ini bagaimana. Kemanapun kami carikan solusinya. Demi kelangsungan sekolah ini. Alfred mengaku, saat ini memang untuk pemasukan sekolah yang sifatnya bisnis belum ada. Kedepannya, kami akan membuat klinik wicara. Namun saat ini yang utama adalah melegitimasi gedung ini terlebih dulu.

Membangun sekolah khusus untuk anak autis dan cacat di Batam ini memang menjadi tekad Alfred dan Yeyen. Karena pasangan suami istri ini merasakan sendiri bagaimana sulitnya memiliki anak dengan kondisi tersebut. Anak pertamanya, Ami autis. ''Kami bisa membawa anak kami terapi keberbagai daerah bahkan sampai keluar negeri. Dengan kondisi itupun kami habis-habisan. Semuanya demi kesembuhan anak kami itu,'' kata Yeyen mengenang tahun-tahun sulit itu. Berkat kegigihan mereka, kini putra pertamanya itu bisa mandiri. Seperti makan, memakai pakaian hingga ke toilet. ''Dulu kalau sakit, Ami diam saja. Sekarang dia sudah bisa mengatakan rasa sakit itu ke kami,''kata Alfred.

Dari pengalaman itulah, Yeyen dan Alfred memutuskan membantu siapa saja yang datang ke Yayasannya. ''Alhamdulilah sampai sekarang banyak yang tidak mampu datang kemari. Bahkan Afred dan Yeyen rajin menyambangi rumah-rumah yang diketahui memiliki anak cacat. Jika masih memungkinkan terapi, kami bawa kesekolah. Tapi jika tidak kami hanya mensupport orangtuanya. Seperti Lidya dan Jelita. Kakak beradik berumur 8 dan 4 tahun ini keduanya menderita lumpuh layu. Karena ketidakmampuan orangtuanya, kedua kakak beradik ini hanya dikurung di dalam rumah. Alfred dan Yeyen melihat Lidya dan Jelita masih bisa diterapi.

Mereka membawa Lidya untuk sekolah ke Yayasan Permata Hati sedangkan Jelita hanya sesekali dibawa ke yayasan untuk terapi. Kini Lidya bisa bersosialisasi dengan teman-temannya. Dulu dia hanya bisa duduk melingkar. Sekarang dia bisa jalan. ''Dari survei yang baru kami lakukan di Dapur 12 dan Batuaji, banyak juga anak-anak menderita keterbelakangan mental, cacat tetap, autis dan keterlambatan tumbuh kembang,''kata Alfred yang juga ketua FKKAD Batam (Forum Komunikasi Keluarga Anak dengan Kecacatan).

Sebagai ketua, Alfred mendapat tugas mendata anak dengan kondisi kecacatan. ''Sampai saat ini di Kecamatan Sagulung, banyak ditemui kasus anak cacat yang berasal dari keluarga tidak mampu dan disembunyikan dari dunia luar, '' kata Alfred lagi. M. Qosim misalnya, diusianya ke 18, penderita Cerebral Palsy ini tidak bisa ditolong lagi. Karena ketidaktahuan orangtuanya, Qosim hanya di ''simpan'' dirumah tanpa pernah dilakukan fisioterapi. Akibatnya seumur hidupnya dia harus terbaring ditempat tidur.

''Kami sering datang kerumahnya untuk memberi support kepada orangtuanya. Namun kami juga tidak berdaya untuk selalu memberi bantuan. Karena yang dibutuhkan Qosim saat ini hanyalah menjaga kelangsungan hidupnya. Seperti susu, makanan juga perawatan.

Yeyen berharap ada donatur yang peduli. Yeyen yang juga ketua FKTPAKB Kepri (Forum Komunikasi Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain) ini selalu mengingatkan wali murid di sekolahnya itu, agar lebih banyak berdoa. Karena ia hanya bisa membantu terapi (tanpa obat-obatan).

Dibantu 9 guru, Yeyen bahu membahu melakukan terapi untuk anak-anak tersebut. Agar kwalitas guru terjaga, Yeyen bekerjasama dengan Waskodo, ahli terapi wicara dari RS. Cipto Mangunkusumo. Beberapa guru ditraining dan dibuatkan program kerjanya. Namun tetap diawasi hasilnya.

''Dengan keterbatasan itu, saya harus rajin cari tahu. Alhamdulilah kami dapat bekerjasama dengan beberapa pihak,''kata Alfred. Akhir tahun 2010, Yayasan Permata Hati Bunda mendapat bantuan alat-alat bermain dari Yayasan Maria Monique Jakarta. Sebelumnya, IBM juga memberikan 1 unit komputer untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Tak hanya dukungan perangkat, SDM juga sangat dibutuhkan.a Saat ini di Yayasan Permata Hati Bunda memiliki beberapa guru untuk terapi, TK dan SDLB. ''Asalkan memiliki kemauan akan kami training,''kata Yeyen lagi. Adestuti misalnya, latar belakangnya dari D3 Pariwisata.

Kini Astuti ahli terapi. Hera Verawati juga sama, ia sudah menjalani training hingga kini ia bisa menangani anak-anak dari TK maupun SDLB. Tak jarang juga, guru-guru yang sudah ''jadi'' dibajak instansi lain. Bagi Yeyen dan Alfred merekrut guru khusus anak dengan kondisi kecacatan, sangat sulit. Di Indonesia jenjang pendidikannya hanya sampai D3. Itupun hanya 3, terapi wicara, fisioterapi dan Okupasi. Untuk merekrut guru, Alfred dan Yeyen hanya melihat kemauan si guru. ''Paling mudah melihatnya ketika harus melayani anak-anak ke toilet. Jika ia bisa telaten. Tes pertama lolos,''kata Yeyen.

Astuti, guru paling lama di Yayasan Permata Hati Bunda mengakuinya. Dalam sehari ia bisa bolak-balik ke toilet mengantarkan bak dan bab. Rasa jijik tak dirasakan Astuti. Dengan telaten ia mengantarkan Bima, penderita Down Sindrom ke kamar mandi. ''Saya salut pada mereka, guru-guru disini luar biasa semangatnya. Saya tidak ada apa-apanya tanpa mereka.,''kata Yeyen.***

Tidak ada komentar: