
Sebenarnya sehari kemarin, saya sudah sedikit lega. Setelah memberhentikan pembantu yang sudah setahun bekerja, saya langsung dapat pengganti. Sebenarnya tak sengaja, petemuan dengan pembantu baru itu terjadi ketika pulang makan siang dari kantor. Bu Pur, tetangga yang tinggal sama-sama di blok DD inilah yang menjadi jembatan pertemuan itu. Dia yang baru pulang dari pasar bersama ibunya dan seorang wanita muda ketemu di pintu masuk blok DD.
Spontan saja saya tanyakan pada dia soal pembantu. Dengan semangat 45 dia langsung menyodorkan wanita muda yang ada disampingnya. ''Ini namanya Santi, dia bisa bantu kok. Dia juga lagi suntuk, nggak ada kegiatan. Tapi cuma bisa setengah bulan saja. Karena awal bulan Juli dia sudah kerja ditempat lain,''kata bu Pur.
""Wah, alhamdulilah bu, besok bisa langsung kerja aja yah,''kataku.
''Rumahnya dimana kak?,'' tanya Santi. Sambil beriringan dengan sepeda motor yang saya kendarai, saya ajak kedepan rumah dua tingkat bercat cream itu. ''Ayo naik bu, bawa saja belanjaannya,''ajakku.
Didalam ruang tamu kami ngobrol. Intinya, dia sudah biasa ngurus anak dan pekerjaan rumah tangga. ''Gayung bersambut, ini namanya rezeki tak lari kemana, ''pikirku.
Obrol-obrolan tak kurang dari sepuluh menit itu berakhir juga. Mereka pulang dan aku berganti baju rumah. Aqil, jagoan cilikku sudah sedari tadi mengikutiku. Seperti biasa, dia minta jatah ''mimih'' (nyusu). Inilah salah satu penyebab, jam makan siang saya harus kembali kerumah. Si bungsu ini memang lagi getol mimik ASI, dia tak mau minum susu formula seperti kakaknya. Sebenarnya saya sangat bersyukur dia memilih ASI, karena ASI masih yang terbaik untuk anak balita seusianya (15 bulan). Selain itu lebih irit. Bayangkan saja, budget membeli susu formula yang sekarang hanya untuk kakaknya, bisa dua kali lipat kalau dia mau susu itu.
Setelah menyuapi anak-anak makan siang, sayapun mengisi perut. Suamiku pun pamit berangkat ke kantornya di Posmetro. Dia sangat membantu tugasku menjaga anak-anak ketika saya dikantor pagi hingga siang hari. Dulu sebelum menjalani tugas baruku sebagai Sekretaris Redaksi, aku bisa menemani anak-anak dari pagi hinga sore hari. Karena jam kerjaku dimulai dari pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB.
Tapi aku seperti orang kantoran, berangkat pagi pulang sore. Nah, inilah yang menjadi masalah. Aku makin mengandalkan pembantu rumah tangga. Memang dengan pembantu lama, aku masih bisa sedikit tenang. Dia sudah mengerti tugasnya. Pas kalau ku sebut dia asisten. Anak-anak juga terlihat senang dan makin gemuk saja. Sepulang dari kantor, anak-anak juga sudah mandi dan harum.
Tak terasa satu tahun lebih juga dia ikut dengan kami. Awalnya juga tak sengaja. Dia anak dari pembantu yang bekerja dirumah tetangga kami.
Umurnya masih 19 tahun, cukup muda. Jiwanya masih sangat labil. Sifatnya yang paling jelek kalau sudah nggak mood atau kesal dengan ibunya, dia bisa cemberut, melamun, diam seribu basa, membnating barang hingga membentak. Yang paling parah, kalau sakit, dia bisa tak pulang hingga dua hari tanpa permisi dan kabar . Kejadian itu seringkali berulang. Awalnya saya bisa paham, sabar. Mungkin begitu cara dia menyembuhkan penyakinya dengan tidur tanpa mau minum obat. Oke, ...saya maklum.
Yang paling saya khawatirkan justru dengan anak-anak. Mahirah, atau si kakak sering menangis jika bangun tidur. Nggak tahu penyebabnya apa? Yang pernah saya lihat sendiri, ketika si kakak minta dibuatkan susu, pembantuku ini cuek Puncaknya, dua hari lalu, ketika dia kami buatkan kamar sendiri yang bersebelahan dengan kamar sepupu kami. Dia yang tadinya biasa saja, selesai membersihkan kamar dilantai 2, mulutnya manyun, duduk diam di ruang tamu. Saya yang tak tahan lihat sepupu kami membereskan kamarnya itu dibiarkan sendirian. Dia malah dengan cueknya, bilang ''biar aja, nanti saya yang bereskan''. Padahal pekerjaan membereskan kamar itu tak bisa ditunda, karena kasurnya harus segera diturunkan. Satu lagi yang membuat saya naik pitam. Ketika Mahirah, anak pertama kami bertanya, dia langsung membentak dengan jawaban ''nggak tahu''.
Meruncing Diluar Kendali
Pagi harinya, saya sudah mulai melupakan masalah tadi malam. Tapi dia makin membuat masalah ini makin runcing. Setelah menyapu lantai, dia 'menghilang' tanpa pamit. Hingga saya pulang makan siang pun dia tak juga nonggol. Sayapun membulatkan niat untuk memberhentikan. Walau saya tahu dia akan pulang untuk kembali bekerja. tanpa ada rasa bersalah. Saya telepon kerumah majikan ibunya dimana dia ada disitu. Saya katakan kalau anaknya saya berhentikan dari pekerjaan. Saya perintahkan untuk mengambil semua barang-barangnya.
Malam itu dia memang pulang, wajahnya seperti yang sudah-sudah. Gembira tidak ada rasa salah. Sayapun serba salah. Antara kasihan, tak tega hingga kesal. Saya memilih diteras bermain dengan putra kecil ku. Tak lama, datang juga ibunya membawa kantong plastik. Keduanya menata pakaian hingga sepatu kedalam tas. Akhirnya, diapun pamit. Saya tak lupa ucapakan maaf kalau saya salah. Dia menjawab kalau saya tak punya salah. Dia juga bertanya penggantinya itu suku apa. Yang saya jawab setahu saja. Karena saya sendiri juga belum tahu banyak seputar pembantu baru ini.
Saya berikan gajinya yang baru setengah bulan bekerja. Diapun mencium tangan saya dan pamit. Si kakak berulang kali bertanya, kemana si kakak yang sudah menemaninya sejak umur 2 tahun pergi. Saya katakan saja kalau kakak Rani (biasa kami memanggilnya seperti itu) pulang kampung. Dia bahkan ingin ikut. Tapi akhirnya dia nggak mau karean tahu kakak Raninya ke kampung naik kapal.
Begitulah acara perpisahan singkat kami yang menurut saya mengharukan. Dia anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal sejak dia masih kecil. Diumur 14 tahun, dia dan ibunya bekerja menjadi TKW ke Malaysia. Tiga tahun disana, dia berganti majikan dua kali. Kedua-duanya baik, menurutnya. Tapi lucunya, hanya untuk berhenti kerja dia harus lari. Hingga semua barang berharga dari kamera juga pakaian-pakaian yang bagus tertinggal di tempat majikannya itu.
Sebenarnya alasan itu juga yang membuatkan menahan hati untuk tidak kesal lalu marah hingga memecat dia. Tapi kemarin itu, aku tahan lagi. Dia sudah sangat tak bisa diatur.
Lebih baik aku mencari lagi yang lain, walau aku tak tahu akan bisa dapat lagi. Yang penting, satu masalah sudah tuntas.
Perasaanku plong, lega karena tak akan menemui lagi masalah yang itu-itu lagi. Apalagi, kemarin, Kamis (19/6), aku langsung dapat penggantinya. Walau hanya setengah bulan ini saja. Tapi aku sedikit tenang. Hingga aku pulang semua pekerjaan rumah beres. Anak-anak juga sudah mandi. Aku hanya melanjutkan menyuapi makan sore saja. Malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Karena bapak baru saja datang dari Tanjungpinang. Aku bisa lebih tenang karena anak-anak bisa terawasi lebih baik dengan pembantu baru ini.
Keesokkan hari seperti biasa, aku bangun lebih awal. Agar bisa sholat subuh dan kepasar membeli bahan-bahan untuk masak hari ini. Anak-anak segera aku mandikan. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Hingga aku selesai mandi dan berangkat ke kantor. Pembantu baruku ini belum juga muncul. Aku sudah mulai berfikir yang macam-macam. Pasti dia berhenti karena tak kuat bekerja.
Aku makin bingung, ketika suamiku menelpon kalau bapak hari ini harus kembali ke Tanjungpinang karena harus kembali ke Lingga untuk bekerja lagi. Panik..aku harus bagaimana. Untuk menghilangkan galau, aku telepon ke ibu di Tanjungpinang. Walau aku tahu aku tak akan dapat solusinya. Karena disanapun ibu harus menjaga Naya, anak dari adikku. Selain itu juga di kantin juga harus diawasi. Ibu memang sudah lama berjualan masakan di kantin Rumah Sakit Angkatan Laut. Kira-kira sejak aku kelas 1 SMA.
Sepulang kantor untuk makan siang. Aku coba mampir kerumah bu Pur. Siapa tahu mengerti alasan Santi, nama pembantu baruku itu ngak datang kerja. Ternyata diapun nggak tahu. Dia malah kaget, dengan kelakuan Santi itu. Tanpa menunggu waktu, tetanggaku itu langsung mengajak ke tempat kos Santi. Disana, beberapa kali diketuk, pintu tak juga terbuka. Hingga akhirnya pintu terbuka juga, dia baru tidur. Ternyata dia sakit. ''Saya kecapean gosok. Saya memag kurang kuat kalau gosok. Pinggang saya ini sakit. Apalagi tadi malam saya juga gosok sampai jam 12 malam. Makanya badan saya ini meriang,''katanya. ''Maaf yah kak, saya tak sempat ngasih ahu. Tadi sih saya nyuruh adik saya untuk ngasih tahu, tapi katanya dia tak tahu rumah kaka,'' katamu lagi.
""Aku pun heran, kau tak seperti itu kan. Kalau ada apa-apa kan aku sudah bilang, kasih tahu. Jadi kakak ini bisa bagi tugas dengan suaminya,'' kata bu Pur menasehati Santi.
Disamping kasurnya selembar kertas pemecatan dari Matahari dibiarkan terbuka. Juga selembar nota. ''Saya masih memikirkan surat ini. Kenapa tidak ada peringatan dulu, kok langsung dipecat,''katamu. Santi memang punya masalah dengam MDS. Setelah pemecatan, gajinya yang dua bulan belum juga dibayarkan. Makanya dia mau kerja serabutan dari mencuci baju, gosok, menjaga orang sakit hingga pembantu rumah tangga. Dia mengaku awalya tak mau masuk lembur satu hari saja. Tapi manajemen tak mau alasan apapun dan langsung memphk nya. Santi mengaku dari keluarga berada. Kedua orangtuany PNS dan tahun depan akan naik haji. Saudara-saudaranya punya usaha toko pakaian hingga warnet. Hanya dia saja susah. Semuanya berawal dari ketidaksetujuan orangtuanya dengan suami pilihannya. Karena berbeda adat dan suaminya juga ternyata sudah beristri. Sinta makin dijauhi keluarganya. Kini dia seorang diri. Sejak bercerai dengan suaminya, Santi memilih kos bersama temannya.
Tak heran dia tak mau merepotkan. Bahkan minta uangpun tak mau. Dia pilih kerja yang halal.
''Yah, sudah kalau gitu, kalau memang sakit yah sudah. Saya jadi tahu alasannya,''kataku.
'' Besok lah kak saya masuk, ''katamu berjanji. tapi saya tak tau apakah itu hanya janji. Saya pun makin bingung. Jika tak ada pilihan saya harus menitipkan anak-anak ke tempat penitipan ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar