beranda

Kamis, 15 Januari 2009

Nasibmu Nak.....



Hari masih pagi, jam didinding menunjukkan pukul 06.00 WIB. Saya baru saja tiba di emperan toko di pasar Mega Legenda. Tiga anak kecil nampak bermain didepan toko obat. Bocah laki-laki yang masih berumur tiga tahun itu, asyik memainkan selembar kertas karton yang diambilnya dari tong sampah. Namun tiba-tiba kertas karton itu direbut bocah laki-laki lain yang lebih besar dari anak itu. Dia hanya menangis. Tak mampu merebut. Diapun lari masuk kedalam pasar. Tanpa alas kaki dan baju tidurnya yang lusuh, dia menuju sebuah lapak kios yang menjual aneka sayuran. Disana seorang wanita terlihat sibuk melayani pembeli. Oh, ternyata dia ibunya.



''Mama....''kata anak itu sambil menarik-narik tangan sambil terus merengek. Sebentar nak, mama masih jualan,''kata wanita yang masih sangat muda ini. Tangisannya masih terus terdengar. Tangisnya berhenti ketika mamanya mengikuti langkahnya ke luar dari pasar.
Dia langsung berlari menunjuk dua orang anak laki-laki yang telah merebut mainannya itu. Tapi yang ditunjuk sudah tidak ada lagi ditempat tadi.

Karena tidak ada lagi teman bermain, ia pun mau diajak ibunya masuk kedalam pasar. Lalu bocah ciliknya itu di dudukkannya di atas dipan didalam kiosnya itu. Tak lama seorang pembelipun datang memilih bawang merah yang dijajanya.

Setelah kemarin berlalu, pagi ini dia membuat heboh pasar. Hampir saja dia tertabrak mobil. Maklum saja, dengan entengnya dia lari mengikuti teman-temannya yang lebih dulu tiba diruko seberang pasar. Anak sekecil itu tak tahu perlunya melihat ke kanan dan kiri. Untung saja tak ada insiden mengerikan terjadi dipasar itu. Dia pun bermain seperti biasa, seperti tidak ada kejadian. Justru yang lain masih mengelus dada karena prihatin, juga menenangkan rasa kaget.

Kejadian ini sepertinya tak mengubah kebiasaan si kecil itu untuk lalu lalang disekitaran pasar. Dia tetap dengan santainya, berjalan kesana- kemari juga menyeberang. Sepertinya, mamanya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tetap membiarkan bocah ciliknya itu berkeliaran. Tidak ada pilihan, karena dia harus tetap berjualan. Mungkin untuk mencari pembantu dia belum dapat atau tak sanggup untuk menggaji seorang pembantu rumah tangga. Buktinya hingga sekarangpun, anak itu masih dibiarkan seperti itu. Bisa jadi cara itu lah yang bisa membuat anak itu diam, dan tak menggangu ibunya berjualan.

Pagi ini sepertinya berbeda. Diemperan toko tidak tampak dia bermain. Ibunya celingukan melihat ke sana dan kemari sambil memegang sehelai celana. Lama juga wanita berambut sebahu ini berdiri didepan pintu masuk pasar. Dari dalam pasar, tiba-tiba yang dicari-cari muncul. sambil menangis dia berlari keluar mencari mamanya. Tanpa celana dan hanya mengenakan kaos dia lari menyusuri lorong. ''Dicari mama tuh, ujar seorang laki-laki dari dalam kedai. Memang baru hari ini pria itu tampak. Sepertinya dia bapak dari anak itu.

Sebelumnya, kerepotan itu dijalani wanita itu sendirian. Ya melayani pembeli juga mengasuh anaknya. Dipeluknya anak itu dan dengan sabar dikenakannya celana pada putranya. Lalu digendongnya dan dibawanya masuk. Tak lama anak itupun terlelap diatas dipan berselimut selendang.

Kamu Harus Mandiri...

Dua anak laki-lakinya sudah agak besar, yang satu sudah kelas 6 SD. Sedangkan yang bungsu baru kelas 4 SD. ''Keduanya saya tinggal dirumah, semuanya mereka urus sendiri,''kata wanita penjual ikan di pasar Mega Legenda.

Sejak pukul 03.00 WIB dia sudah meninggalkan kedua putranya yang masih tertidur lelap. Sebelum berangkat ke pasar, dia sempatkan memasak untuk sarapan dan makan siang anak-anaknya itu. Untuk urusan rumah tangga seperti menyapu rumah, cuci piring, mengepel lantai sudah saya biasakan pada kedua anaknya itu. ''Sengaja saya ajarkan mandiri. Nanti setamat SD anak sulung saya itu mau saya kirim ke Medan, sekolah disana. Ada asramanya jadi dia harus belajar mandiri dari sekarang,''kata wanita yang berjualan bersama suaminya ini.

Untung anak saya yang pertama nurut. Dia tahu yang harus dikerjakan. Berbeda dengan adiknya yang sukanya membuat kotor. Kalau kakaknya takut kalau saya marahi atau pukul. pasti dia ikuti yang saya mau. Pagi sebelum berangkat sekolah, sudah saya wajibkan sarapan dulu. Untungnya ada bus sekolah yang menjemput mereka. Begitu juga pulang sekolah, setelah di drop di depan rumah, anak-anak ini saya haruskan berganti baju, makan siang dan tidur. Tidak boleh main. Tapi ya susah juga untuk mengawasinya. Karena saya masih dipasar.
Karena tidak ada pilihan, saya tetap lakukan itu.

Nak, Kamu Masih Lebih Beruntung...

Satu bulan tepat aku dimutasi ke bagian sekretaris redaksi, pembantu dirumah berhenti bekerja. Bayangkan..betapa panik dan bingungnya saya. Memang sempat minta bantuan bapak dan ibu. Terpaksa satu minggu juga bapak dan ibu di Batam dan meninggalkan jualan ibu di kantin Tanjungpinang. Tapi akhirnya saya harus segera ambil tindakan.

Survei tempat penitipanpun saya lakukan. Untung di Legenda ada beberapa pilihan. Yang pertama, saya coba didepan SD Al Kaffah di blok A Legenda Malaka. Dirumah tipe 36 ini, sebuah penitipan bernama Islami ''Abuyya'', coba saya ketuk pintunya. Dari luar memang sepi. Tapi ketika dibuka pintunya. Ada sekitar tujuh anak ada didalamnya. Empat diantaranya asyik bermain di ruang tamu. Sedang dua lagi tertidur lelap diatas kasur yang digelar di lantai kamar depan. ''Hanya saya sendiri yang menjaganya,''kata wanita berkerudung yang menjadi pengasuh ketujuh anak itu. ''Memang kalau siang ada yang mengantarkan makanan. Dia yang menjadi penanggungjawab penitipan ini. Yang punya memang orang Singapura. Dia yang diserahi untuk mengelola tempat ini, ''katanya lagi.

''Bisa sendirian menjaga anak-anak sebanyak ini, '' tanyaku. ''Alhamdulliah bisa,''katanya.
Sambil ngobrol pandanganku berkeliling melihat-lihat isi ruangan itu. Ruang tamu yang hanya dibatasi bufet itu, memang berantakan. Botol-botol susu kotor dibiarkan diatas bufet bercampur dengan kaleng susu. Dan pakaianpun berserakan. Seperti pakaian kotor anak-anak, bekas kencing ataupun BAB.

Untung saja pengasuhnya sangat sabar dan bukan tipe pemarah. Anak-anak sepertinya tenang, walau dijaga satu pengasuh. Menurut gadis berkerudung itu, pagi hari anak-anak diajari mengaji. Siang hari, anak-anak disuapi bersama penanggungjawab penitipan itu. Ditempat ini anak-anak bisa dititipi dengan hitungan jam.

Tapi itu tak membuat saya memilih tempat itu. saya pulang dengan tangan hampa.

Besok perburuan tempat penitipan saya mulai lagi. Di Hangtuah ada juga tempat penitipan. saya juga tahu dari spanduk yang terpasang digerbang pintu masuk perumahan itu. Namanya Hosanda. Saya datangi tempat itu. Dari luar, tempat itu bersih, ada seorang pembantu yang sedang menyapu teras. Pintu pagar dibuka, sayapun dipersilahkan masuk. Didalam saya ditemui seorang wanita bersama bocah laki-laki.

Sayapun langsung mengutarakan niat, untuk menitipkan kedua anak saya ketempat itu. Dia pun menjelaskan disini, anak yang dititipi diajari membaca dan menulis. Ada juga toilet trainningnya. ''Wah, kebetulan anak pertama saya ini masih suka pipis sembarangan,'' gumamku dalam hati.
Selain itu, hanya tiga anak yang titipi. Apalagi yang ngasuh ada dua orang. Berarti anak-anak lebih terperhatikan. Iseng-iseng, saya tanyakan arti hosana. Saya fikir namanya anaknya, ternyata itu bahasa Ibrani. Oh, ternyata dia non muslim. Itulah yang membuat saya akhirnya mundur teratur.


Kembali ke sekolah Kakak

Sebenarnya ini alternatif terakhir. Disekolah kakak ada juga tempat penitipannya. Cuman saya ingin suasana yang lebih baik. Tempat penitipan yang sesuai dengan harapan saya. Tempat bermain yang nyaman, ruang tidur yang tenang dan bebas dari nyamuk. Dan pengasuh yang sabar. Tapi impian itu hanya anggan saja. Tidak saya temui disekitar Legenda.

Akhirnya dengan berat hati karena tidak punya pilihan, saya titipkan anak-anak. Hari pertama yang heboh, anak-anak menangis, tidak mau ditinggal bundanya. Tapi dengan sedikit bujuk rayu, kakak mau juga ditinggal. Tinggal si adik yang terus nangis. Nggak tega rasanya, meninggalkan kalian... tapi bunda harus kerja. Maaf ya Nak..

Siang ini, anak-anak lagi ngapain yah. Tidur kah mereka??? Aku hanya menerka-nerka saja. Rasanya bersalah sekali meninggalkan kalian. Terbayang oleh saya, kakak yang masih suka pipis sembarangan, dimarahi oleh pengasuhnya. Betapa ketakutannya dia... tapi mudah-mudahan tidak, itu hanya pikiran jelek saya saja. Kenapa pikiran ini muncul, karena saya pernah melihat sendiri, ketika Firza, bocah laki-laki yang juga dititipkan disitu, pipis diruang tamu. Betapa marahnya bu Avi. Sambil menggandeng sedikit paksa anak itu dibawa keluar ruangan. Sambil menuju kamar mandi yang terletak didepan rumah, bu Avi terus ngomel. Anak itu pun ketakutan, diapun menangis. Sambil mengenakan celana, Firza terus diomeli. Bahkan di bilang mau potong telingga kalau masih pipis sembarangan. Mungin itu hanya menakut-nakuti saja. Tapi menurut saya, itu bukan cara yang tepat untuk mengajari atau toilet training.

Semalaman saya berputar otak untuk mengkritik cara ibu guru yang sudah berpengalaman di bidang pendidikan taman kanak-kanak ini. Ah.... aku dapat caranya.
Keesokkannya, saat dititipi aku pura-pura saja bilang, kalau ayahnya marah, karena si kakak marahi adiknya dengan ngomong ''nanati kakak potong telingganya''. Saya bilang saja, ibu berarti kalau ngomong harus hati-hati, takut ditiru anak-anak. Diapun mengiyakan. Tapi realisasinya saya tidak tahu.

Nah, kalau soal makan, saya pun kurang pas. Dengan satu piring, anak-anak disuapi bersama-sama. Gimana kalau ada yang sakit bu, apa nggak menular. Dengan enteng dia jawab, kalau diberi nasi masing-masing, justru tidak dimakan. Malah main-main saja. Ah... terserah ibu saja, pikir saya. Yang membuat saya sedikit melas, nasi dipiring itu lebih banyak dibandingkan lauknya, tapi herannya anak-anak ku ini justru makan banyak. Aqil, si adik makannya banyak, sampai berat badan naik. Nah, kalau kakak, kadang makan banyak kadang juga nggak mau makan. Saya tahu dia seleranya agak pilih-pilih.

Itu soal makan, kalau tidur, aku lihat sendiri, anak-anak tidur beralas kasur tipis berderet diruang tamu. Tapi katanya, kakak tidak pernah mau tidur. Saya tahu itu, dia hanya bisa tidur dikasurnya. Tapi kalau aqil masih mau tidur.

Mandi, gimana? Wouow.. anak-anak ternyata mandi air dingin. Sebelumnya saya sudah bilang kalau anak-anakku ini masih suka mandi air hangat. Ah, kupasrahkan saja.

Belum lagi, kalau si adik bermain, pasti ada yang mendorong. Atau tidak dikontrol ibu. Mereka dibiarkan bermain diruang tamu, sedangkan si ibu memasak ataupun sholat. Sering, saat saya dijemput, ada benjol di jidatnya atau bibirnya jontor karena terjatuh. Kasihan kamu nak...

Ragam kegalauan ini kuceritakan pada suami dan juga bapak. Mereka memang bisa menenangkan. Makanya dalam setiap doa saat sholat lima waktu, bapak selalu minta dilindungi keluarga bapak. Ah...ada benarnya juga, hanya Dia yang bisa membantu aku melindungi anak-anak ku itu. Alhamdulillah, anak-anak sehat, walau terkadang sakit. Tapi justru mereka tambah kebal dan tidak mudah sakit.

Tujuh bulan juga anak-anak disana, baru-baru ini aku dapat pembantu baru. Ini diluar dugaan. Karena yang memberi justru tetangga sebelah rumah. Kebetulan dia punya pembantu dua. Menurut dia tak sanggup menggaji dua pembantu karena suaminya tidak ada OT (over time ) lagi di PT nya. Dan pesanan kuenya juga sepi. Dengan senang hati kuterima tawarannya. Berulangkali kuucap syukur.

Kini sudah satu bulan setengah dia membantu saya. Namanya Ria. Aku serahkan pekerjaan rumah juga mengurus anak-anak. Anak-anak sepertinya suka. Mahirah, memang suka dengan anak-anak yang masih abg. Mungkin dia bisa main. Pernah kucoba titipkan dengan nenek yang biasa menyetrika pakaian dirumah. Dia malah nggak mau, pengennya ikut bundanya ke kantor.

Mudah-mudahan, anak ini betah kerja di rumah. Saya hanya bisa pasrah saja. Selagi pekerjaan itu bisa saya kerjakan, saya lakukan. Yang penting, anak-anak ada yang menjaga dirumah. Tak tahan rasanya melihat mereka yang baru saja terlelap tidur, saya bawa kepenitipan. Akhirnya mereka tak bisa lagi tertidur. Maaf yah, nak... Tapi sekarang kalian sudah sedikit tenang bisa main sepuasnya dirumah. Bundapun sedikit tenang bekerja.***

Tidak ada komentar: