beranda

Kamis, 15 Januari 2009

Bicara, Terus Terang atau Sakit Hati


Keterbukaan apakah selalu menyakitkan? Mungkin saja. Tapi saya hanya mengira-ngira saja. Inilah perasaan yang saya rasakan ketika harus bicara terang terang pada sepupu yang tinggal dirumah. Ini seua terkait dengan semua biaya hidup yang kian meningkat. Kami saja sepakai untuk menekan pengeluaran yang tak perlu. Mulai dari penggunaan air, listrik juga telepon. Air yang sudah mencapai batas bukaan bathup, kami matikan agar air tak kelaur dari celah-celahnya. Begitu juga listrik, kipas angin yang tak perlu dinyalakan kami tak hidupkan. Apalagi lampu, yang tak perlu segera kami padamkan. Nah, untuk urusan setrika, kami juga lakukan penghematan dengan menyetrika baju dua hari sekali. Itu pun terkadang dilihat jumlahnya. Nah, masalah inilah yang tak dirasa sepupu saya itu. Dia bisa menyetrika satu helai baju setiap kali akan berangkat kerja. Karena itu terus terjadi, saya mulai tak tahan menahan untuk bicara. Sabtu pagi (21/6) ketika dia kan berangkat bekerja, saya katakan terus terang. ''Jadi liburnya hari apa Kok ?,''tanyaku. ''Kamis mbak, Insya Allah,''katamu. Lalu kukatakan apa yang sudah mengganjal dihati beberapa hari ini. ''Gimana kalau pas hari libur, bajumu disterika semua. Jadi tidak tiap hari setrika. Takut nanti tagihannya meledak,''kataku lagi. ''Oh iya lah mbak,''katamu.
Setelah bicara itu, aku mulai galau. Apa dia tersinggung? Aku tak mau menyakiti hati orang lain. Pasti rasanya tidak enak. Apalagi kalau dia merasa kalau dia menumpang. Wah, pasti hatinya tambah sedih.
Tapi aku mulai berfikir lagi. Kalau tidak aku bicarakan, sampai kapan kutahan unek-unek ini. Untung saja suamiku menguatkan keputusanku untuk terung terang. ''Ah nggak apa, dia kan telmi,''kata suamiku.
Yah, sudah, berarti aku tak perlu berperasaan lebih.***

Tidak ada komentar: