beranda

Selasa, 25 November 2008

Tak Menduga Secepat Itu


Maklum saja, karena lama bisa hamil, aku pun menduga kalau anak keduapun juga akan selama seperti mendapatkan si kakak. Makanya aku tak berniat ber kb. Alhasil, tepat satu tahun usia Mahirah, aku positif hamil. Ku pikir-pikir apa karena si kakak tak mau menyusu karena sariawan. Karena dari literatur yang ku baca di ayahbunda, selama si ibu masih menyusui maka otomatis kb alam pun berjalan. Karena dengan sedotan yang dilakukan bayi ikut membuat rahim kontraksi. Hingga proses pertemuan sperma dan ovum akan gagal. Mahirah sempat tak mau menyusu kurang lebih dua hari. Bisa jadi saat itulah proses pembuahan berjalan. Maka jadilah adiknya.



Kehamilan keduaku ini sempat membuatku sedikit malu, karena anak masih kecil sudah hamil lagi. Bahkan aku juga mulai khawatir tidak bisa membagi kasih sayang dengan si kakak. Kurasakan pasti dia belum puas dengan kasih sayang bundanya. Apalagi, si kakak juga masih menyusu. Lima bulan juga dia berbagai dengan adiknya yang masih didalam perut. Padahal setahuku rasa ASI akan berbeda, yang pasti nggak sedap lagi. Tapi herannya Mahirah, masih saja nyusu. Aku pun mulai panik, mencari cara mengalihkan perhatiannya ke susu formula. Pakai cara orang tua dulu juga ku coba. Katanya kalau diolesi kunyit atau yang berwarna merah dan pahit pasti anak tak mau nyusu lagi. Awalnya dia ketakutan dan jerit-jerit. Tapi akhirnya disusunya juga. Belakangan aku baru tahu teknik menyapih seperti itu tidak baik. Membuat anak stres. Ia akan merasa tidak disayang. Kok ada bundanya, tapi tidak boleh nyusu. Akhirny aku nyerah lagi.

Badannya yang gemuk, mulai berangsur-angsur kurus. Aku ngak tahu lagi caranya...
Kasihan anakku ini, ia masih ingin nyusu tapi air susunya justru membuat badannya makin kurus. Parahnya lagi ia juga mudah diare. Waktu itu aku, bapak juga ibu ikut jalan-jalan bersama rombongan karyawan rumah sakit Harapan Bunda ke Genting, Malaysia. Suamiku tak bisa ikut karena kerja. Aku sendiri izin. Di saat acara jalan-jalan itulah, setiap kali selesai nyusu, anakku ini pasti diare. Kelurnya seperti air saja. Karena itu, dia tak pernah lepas dari pampers. Tapi dia tetap lincah, walau badannya kurus. Hingga akhirnya kami pulang dan kembali ke Batam. Setelah itu, anakku ini tiba-tiba mau minum susu dari dot. Bahkan makin banyak.

Diapun mau melepas ASI. Makin lama ia mulai suka dengan susu formula rasa madu pilihan bundanya. Bahkan dalam sebulan susu formula dalam kemasan 800 gram bisa habis 7 kardus.
Sejak itu rasanya plong, bisa melihat kondisi tubuhnya yang kembali normal. Dan adiknya yang didalam perut juga ikut sehat.

Tak terasa 9 bulan juga, akhirnya aku melahirkan Aqil Adisa Putra di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam. Tidak seperti kakaknya, yang lahir ditunggu mbahnya. Itu pilihanku karena ingin melahirkan di Batam. Alasanku karena terbayang boyongan setelah melahirkan itu. Ingat dulu ketika Mahirah lahir di Tanjungpinang, jelang masa cuti habis, aku baru boyongan ke Batam. Pisah terlalu lama dengan ayahnya tak enak juga. Kasihan dia ngurus semaunya sendiri. Memang di Pinang aku juga terperhatikan. Walau ibu jualan dari pagi hingga sore di kantin dekat Rumah Sakit Angkatan Laut, tapi ibu tetap memperhatikanku. Siang hari, atau sehabis ngantar ibu belanja, bapak pasti pulang ke rumah kami di Batu 9. Ada saja yang dibawa, mulai dari air tahu, kue molen, buah-buahan sampai makanan matang. Memang kalau sudah siang, aku sendirian hingga jelang magrib.

Saat-saat itulah yang kadang membuatku jengkel. Maklum saja, mahiran masih seringkali rewel. Disusui salah, diagendong masih marah-marah, ditaruh apalagi. wah, pokoknya bingung. Kadang aku sampai nangis, stres sendiri (mungkin ini namanya baby blues). Kalau sudah begitu, aku telpon suamiku, aku ceritakan saja walau sambil menangis.

Karena itulah, aku pilih di Batam saja. Disaat kesakitan, aku sendirian didalam kamar bersalin. Suamiku menunggu diluar, bapak dan Mahirah menjemput ibu di Telaga Punggur. Lama juga kurasakan kesakitan itu seorang diri Seingatku dari jam 09.00 WIB sampai jam 15.00 WIB. Karena setealh jam 15.00 WIB, Dr. Suyanto datang melihat kondisiku dan menyuruh perawat membawaku ke ruang bersain. Semua proses melahirkan sudah disiapkan. Dokter yang suka bercanda ini juga sudah diduduk dibawah, akupun terbaring dengan kaki terangkat.

Proses melahirkan normalpun dimulai. Aku nggak tahu teknik. Yang kuingat, tetanggaku pesan agar pantat jangan diangkat karena akan membuat robek yang makin lebar. Jadilah aku coba. Tapi itu juga tak menolong, dokter masih memarahiku juga. Katanya posisi kakiku belum betul, hingga mempersulit keluarnya bayi. Sesi petama dihentikan. Tanganku diinfus, ternyata itu untuk merangsang bayi keluar.

Memang ternyata ada pengaruhnya. Aku makin tak tahan, sakitnya luar biasa, dalam hitungan detik aku kesakitan, hingga ketika seorang perawat lewat, aku katakan saja kalau aku tak tahan lagi. Ternyata permintaanku ditanggapi. Tak lama, Dokter yang juga wong jowo itu datang dan memulai lagi sesi kedua melahirkan. Tak lama, aku disuruh mengejan. Rasanya tiga kali aku mengejan, dokter bilang sudah..sudah.. Oh ternyata anakku lahir. Setelah itu ada yang hangat di perutku. Ketika kulihat, bayiku sudah ada didepan mataku. Badannya masih ada darah tapi tak banyak. Dia bersih walau kulitnya tak putih. Setelah itu dia diambil untuk dimandikan. Sejenak kudengar, dokterku itu berbicara dengan teman sesama dokter. Tak lama perawat membawanya sudah dalam kondisi dibedung dan siap dibawa ke kamar bayi. Aku sempat menciumnya.

Proses jahit-menjahitpun selesai. Akupun ditinggal seorang diri dikamar itu. Memang disebelahku ada wanita lain yang juga menunggu kelahiran. Aku lihat keluar ruangan, kok tidak ada tanda-tanda suamiku atau bapak dan ibu masuk. Aku haus sekali, aku ingin minum. Tunggu punya tunggu, akhirnya suamiku nonggol juga. Akhirnya dibawakan aku aqua. Rasanya lega sekali tenggorokanku yang kering sedari tadi kini basah. Alhamdulliah.

Tak lama, ibupun datang. Kira-kira jma 19.00 WIb. Rasanya plong, sudah ada yang menemani. Malam itu juga aku dipindah ke ruangan Mawar. dan bayiku ada diruang bayi.
Keesokkan paginya, aku mulai pulih. dan mulai belajar jalan. Kesempatan itu kugunakan untuk menyusui si kecil. Setiap kali ada waktu aku datang menyusui. Anakku ini pintar sekali, dia langsung bisa ngenyot. Asyik kelihatannya. Itu yang membuatkan ingin selalu nengok kesana. tapi sepertinya perawat diruang jaga itu tidak mendukung pemberian ASI. Dia marah-marah setiap kali ada ibu yang ingin menyusui anakknya. Dia bilang ''ini yang bikin repot saja''. Rasanya aku ingin protes. Tapi aku biarkan saja. Aku perhatikan dulu. Jika dia keterlaluan akan kubuat kan keluhan ini di koran. ***

Tidak ada komentar: