beranda

Senin, 24 November 2008

Yang Eksklusif


Sayang, aku baru tahu IMD (Inisiasi Menyusui Dini) sejak anak keduaku sudah berumur enam bulan. Karena itulah Mahirah maupun Aqil tidak satupun menyusu ASI ketika baru saja lahir.



Di hari kedua setelah dilahirkan aku baru memberinya ASI. Itupun hanya tambahan saja, susu formula masih lebih dominan. Hampir satu minggu juga Mahirah ku beri susu lewat dot. Mungkin karena kondisiku cukup payah setelah operasi cesar. Untuk miring saja agak susah. Tapi karena niat untuk memberi ASI cukup kuat, aku coba. Dengan segala kesakitan, aku tahan.

Usahaku berhasil juga, dari tidak ada ASI yang keluar hingga banjir. Kulihat putri kecilku ini juga berusaha menyedot ASI. Karena itulah aku juga tak mau kalah. Dibantu bapak, ibu juga suamiku, setiap kali menyusu, Mahirah diletakkan diatas bantal dan disanggah dengan tangan mereka. Masa-masa belajar menyusui akhirnya dibisa kulalui juga. Bersamaan dengan luka bekas operasi yang mulai mengering, aku juga bisa menyusui tanpa dibantu. Dan susu formulapun sudah tidak kupakai lagi. Dia terlihat kekenyangan setiap kali selesai menyusu. Rasanya puas sekali melihat putriku ini tertidur lelap.

Tiga bulan cuti melahirkanpun selesai, akupun mulai masuk kerja lagi. Sebagai redaktur halaman minggu, walau memegang halaman saya masih harus turun kelapangan meliput sendiri. Mahirah yang masih menyusu seringkali kuajak meliput. Dengan gendongan ala ransel kubawa dia meliput. Dipunggung juga ada ransel yang isinya makanan kecil, baju ganti Mahirah. Tak lupa perlengkapan kerjaku. Terkadang aku juga bawa kamera jika fotografer tak bisa ikut meliput. Liputan terjauh yang pernah kulakukan bersama putri kecilku ini di Lagoi.

Aku bersama teman kerjaku (mbak umi), suami juga putrinya kami meliput seharian. Dimulai dari hotel-kehotel hingga hutan bakau (Mangrove). Yang paling seram ketika menyusuri hutan bakau. Didahan-dahan pohon yang kami lewati selalu ada ular bakau yang melingkar. Antara penasaran, berani, juga cemas. Aku takut tiba-tiba ular itu menjulurkan badannya dan menggigit kami yang lewat. Apalagi ular itu berbisa.

Memang ular-ular itu sedang tertidur. Tapi bagaimana jadinya kalau dia tiba-tiba terbangun dan jatuh tepat diatas kepala. Ah....tak terbayangkan. Makanya aku hanya bisa merangkul anakku. Kututupi kepalanya dengan badanku juga jaket.Nah, repotnya, ketika wawancara chef, anakku yang sedari tadi tidur tiba-tiba terbangun. Wah, wawancaranya jadi tertunda. Untung chefnya pengertian. Nah, giliran liputan out door, seperti pemotretan Jelita, aku juga ikut berpanas-panas melihat pemotretan. Kadang anakku rewel, pasti dia kepanasan. Aku cari tempat yang nyaman dan menenangkan sambil menyusui. Akhirnya dia tertidur juga.

Nah, kalau sudah begitu, aku harus menggendongnya. Padahal aku harus menulis ketika mewawancarai si model. Jadilah, aku minta si model menuliskan saja biodatanya. dan aku wawancara sambil kuinggat saja.Karena terbiasa ikut meliput kuliner di beberapa tempat juga hotel. Anakku ini punya selera cukup bagus. Ia mau makan kalau garnis dari makanan yang disajikan menarik. yah...layaknya menu hotel. Repotnya kalau dirumah, aku tak bisa mengikut style hotel. Aku harus putar otak untuk menyajikan menu yang dia suka. ***

Tidak ada komentar: