beranda

Jumat, 21 November 2008

Putri Cantikku Lahir


Air mataku nyaris menetes, namun haru itu itupun bisa kutahan. Aku tak sanggup merasakan betapa kebahagian itu sangat tak terkira. Ketika kulihat dia bergerak-gerak, jumpalitan, berakrobat di dalam air ketuban. Aku nyaris tak percaya ada seorang bayi mungil ada didalam rahimku. Dia pasti lucu. Aku tahu itu semua ketika layar memperlihatkan hasil USG.



Bahkan diusia 7 bulan didalam kandungan, kamu makin besar. Serasa tak muat saja, rahim bundamu itu. Kamu tak lagi bebas bergerak. Kakimu makin tertekuk-tekuk saja. Tapi sepertinya kamu nyaman. Sesekali kamu coba meregangkan kaki juga tangan. Jadilah perut bundamu seperti gunung yang runcing atau gundukan yang naik turun. Bahkan tendanganmu makin kuat saja, ketika ayahmu menggonjeng bunda di atas motor. Kenapa Nak? Kamu suka naik motor yah... atau kamu sayang sekali dengan ayah.

Anakku ini memang sangat suka berdekatan dengan ayahnya. Sejak hamil saja, aku suka sekali dengan aroma tubuh suamiku Itu. Aku sering salah duga, kukira dia pakai parfum. Ternyata tidak. Mungkin bawaan anakku itu yang suka banget dengan ayahnya.

Tepat tgl 20 Maret 2005, dia lahir terlambat 2 minggu dari prediksi dokter. Usianya di dalam kandungan pun sudah 9 bulan 2 minggu. Aku sempat cemas, kenapa belum ada tanda akan melahirkan. Padahal perut ini terasa sangat berat. Jalan pagi pun tak bisa terlalu lama. Aku gampang capek. Belum lagi perutku yang sering sakit.

Akhirnya disuatu pagi kira-kira tgl 18 Maret, ku dapati bercak merah. Aku yang sudah cuti sejak dua minggu lalu, sudah di Tanjungpinang. Memang ibu ku ingin aku melahirkan di Tanjungpinang saja, karena dekat dengan orangtua. Karena prediksi dokter diawal bulan Maret (tgl 4 Maret) aku putuskan cuti juga diawal bulan. tapi ternyata dia belum juga mau keluar. Kata bapakku, anakmu itu betah didalam sana. Anget juga asyik berenang.

Sebelum ke klinik bersalin, aku sempatkan menelpon suami. Aku kabari kalau tanda-tanda melahirkan sudah ada. Aku minta ia segera bergegas, takut kapal feri tujuan Tanjungpinang habis.
Di klinik Kasih Ibu di Batu 2 Tanjungpinang, menjadi pilihan orangtuaku. Karena Dr Basid sudah dikenal reputasinya sangat baik dalam menanggani kelahiran. Akupun setuju saja, karena di klinik ini juga ada ruang operasi. Karena aku takut jika perlu tindakan operasi tidak perlu dirujuk ke rumah sakit lagi.

Sejak Jumat aku sudah merasakan mules luar biasa. Tapi setelah dilihat bukaannya masih dua. Begitu terus hingga hari Sabtu. Tenagaku serasa habis ketika menahan sakit itu. Tangan kiriku memegang besi tempat tidur disaat sakit itu muncul. Tangan kanan kugengam erat tangan suamiku. saking sakitnya, aku sampai menangis, mengaduh. Jika rasa sakit itu tak datang aku bisa tidur juga makan. Hingga akhirnya di Minggu pagi, ketika dokter Basid memeriksa lagi kondisiku. Ia mengatakan kalau ada sesuatu yang membuat bayiku tak mau keluar. Ia menduga bayiku terlilit tali pusar. Ia menawarkan aku menunggu hingga bukaan lengkap. Atau operasi.

Kutanya pendapat suamiku, dia bilang terserah aku. Karena kupikir tenagaku sudah tak ada lagi, aku pilih operasi saja. Jadilah hari itu aku masuk meja operasi. Bapak ikut dalam tim operasi itu. Karena bapak juga biasa membius pasien (beliau ahli Anesthesi) Aku disuntik dibagian punggung. Sejenak kemudian tak lagi kuarasakan apa-apa di sekujur kaki hingga bagian perut. Aku bahkan tak menyangka kalau kaki yang diangkat kemeja operasi adalah kakiku. Tubuhku dibaringkan dan bagian muka dibatasi kain. Aku diajak ngobrol dengan bapak, ia tanya apa rasanya. Kukatakan tidak ada rasa. Kutanya bapak, sekarang dokternya ngapain.

Kata bapakku perutkku sudah dibuka. Oh..itu rasanya..tubuhku hanya seperti digoyang-goyang saja. Tapi dibawah sana, darah sudah banyak keluar dari perutku. Tak lama aku dengar suara tangisan bayi. Aku tak percaya, aku tanya, Dia sudah lahir pak. Sudah...benar dia terlilit tali pusar. dilehernya ada satu lilitan....Coba kuintip sedikit, aku ingin lihat dia. Lucu. Bersih tidak ada darah. Dia langsung dibawa keluar ruangan untuk dibersihkan dan diazani.

Didalam ruang operasi itu, bapak menyusuh aku tidur saja. Untuk hilangkan capek, tapi aku tak amu. Aku takut keterusan. Hingga aku dibawa ke tempat tidur ku lagi aku masih tak mau tidur. Mungkin pengaruh obat bius ada, hingga akhirnya akupun tak sadar dan tertidur.***

Tidak ada komentar: