beranda

Senin, 11 Juni 2012

Prediksi Batam 2012


Berharap dari Usaha Kecil Menengah

Berkantong-kantong kue brownies berlabel Ananda siap antar diletakkan berderet di etalase. Demikian juga kue tar yang sudah dikemas dalam wadah transparan. Bambang, pemilik usaha brownies Ananda itu terlihat sibuk mengatur kantong-kantong kresek berisi brownies kedalam bagasi mobil space wagonnya. Sedangkan istrinya, Yosa Noviani ada dilantai 2 ruko sedang menghias kue tar pesanan. Tiga orang pekerjanya juga sibuk mengadon bahan dan memberi topping brownies.

Sudah satu bulan ini sejak perayaan Natal dan Tahun Baru, pesanan brownies dan tar Ananda meningkat tiga kali lipat. Jika hari-hari biasa, Yosa hanya memproduksi 300 kotak, tapi dengan adanya hari besar seperti itu, ia bisa memproduksi brownies 900 kotak.

Yosa adalah satu dari 300 an Usaha Kecil Menengah (UKM) yang di Batam. Dari data pemerintah Kota tahun 2007, jumlah UKM di Batam sudah mencapai 50 persen dari 712.000 orang penduduk Batam.

Bahkan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun lalu, sebanyak 48,53 juta atau 99.99% unit usaha yang ada di Indonesia adalah tergolong usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dari UMKM ini mampu menyerap tenaga kerja sekitar 87% dari jumkah tenaga kerja produktif yang tersedia. Sedangkan sumbangannya terhadap PDB mencapai 54%.

''UMKM lah yang akan tetap survive di tahun 2012. Karena itu kita harus andalkan UKM dan UMKM untuk menggerakkan roda ekonomi di Batam. Merekalah sumber untuk perputaran ekonomi kita,''prediksi Cahya, Ketua Asosiasi Pengusaha Batam untuk perkembangan ekonomi Batam tahun 2012.

Menurut Cahya, krisis utang Eropa akan terasa di tahun 2012. Walaupun Indonesia memiliki kekuatan domestik yang mumpuni, krisis ekonomi Eropa akan membuat Indonesia kesulitan bertumbuh. ''Makanya jangan berharap ada pertumbuhan ekonomi yang signifikan di tahun ini di Batam,''tambah Cahya yang juga pemilik bisnis properti terbesar di Batam.

Disaat seperti ini, tambah Cahya, jangan berharap terlalu banyak pada perusahaan besar di Batam, karena posisi mereka lebih banyak pada posisi bertahan saja.

Karena itu, Cahya berharap semua stakeholder baik itu pemerintah, pengusaha juga masyarakat harus bisa bersatu untuk melindungi Batam. ''Apindo sangat berharap agar Pemprov maupun Pemko bisa memangkas sejumlah birokrasi yang membuat ekonomi tinggi,''kata Cahya pada Batam Pos, Selasa (27/12).

Hal itu sangat penting, menurut Cahya kenaikan upah minimun kota (UMK) sebesar 19 persen, harusnya bisa menumbuhkan daya beli masyarakat. Dan inilah tugas pemerintah daerah untuk mengontrol harga-harga sembako agar tidak ikut naik.

Batam Kota MICE

Nada F Soraya, Ketua Caretaker Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Batam, juga menyebutkan industri perkapalan dan elektronik masih jalan, walau terkena imbas krisis Eropa dan AS. Memang diakui Nada, kinerja industri elektronika  masih dalam posisi bertahan akibat ketatnya persaingan industri elektronika dunia dan dampak tsunami Jepang dan pelemahan ekonomi AS dan Eropa. Sedangkan industri perkapalan mengalami penurunan permintaan dunia akibat krisis AS dan Eropa.

Namun, Nada optimis Kepri khususnya Batam berpeluang menjadi pusat kawasan industri perkapalan di Indonesia. Di wilayah ini bakal banyak berdiri galangan kapal yang membuat dan memperbaiki kapal.

Batam masih berprospek untuk industri perkapalan terbesar di Indonesia. Bisa dilihat dari tingginya minat investasi asing dibidang perkapalan, dimana pada tahun 2010 terdapat 38 PMA (penanaman modal asing) dengan nilai investasi diperkirakan mencapai US$ 275 juta," katanya.

Karena itu, kata Nada, untuk sektor usaha yang berorientasi ekspor harus percepat produksi. ''Tenaga kerja di industri berat harus bekerja all out, agar produksi selesai lebih awal. Perlu diperhitungkan agar pengiriman barang tidak terlambat,''kata Nada lagi.

Agar pekerja juga bisa bekerja maksimal, perlu dukungan pemerintah dengan memberi kenyamanan pada pekerja.  Menurut Nada, pemerintah harus bisa mengontrol harga sembako. Dengan harga tidak naik, gaji yang didapatkan pekerja akan dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Dan efeknya, pekerja akan bekerja dengan nyaman.

Industri yang bergantung pada transportasi laut, harus memperhitungkan iklim.''Pemerintah harus tanggap pada cuaca. Karena diperkirakan tahun depan cuaca masih tidak bersahabat. Akan ada perubahan cuaca yag luar biasa,''tambah Nada.

Nada juga melihat keadaan optimis dari pasar domestik yaitu MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition". Dengan menjadikan Batam sebagai tempat Pertemuan, Konvensi dan Pameran maka akan menciptakan efek berantai (multiplier effect) pada UKM.

Saat ini , kata Nada, kita sudah mulai menawarkan Batam sebagai negara MICE pada angota ASEAN. Caranya dengan mengambil iven-iven internasional seperti ASEAN UKM Expo. Atau Pameran batik yang baru-baru lalu di buka di Batam. Dari pameran itu kita sudah menjadikan Batam sebagai pintu promosi batik ke negara ASEAN.

Selanjutnya, kata Nada, tidak hanya batik, melainkan semua produk Indonesia
akan dipajang di trading house (Indonesian House). Dengan cara-cara seperti ini maka industri pariwisata Batam ikut berkembang.

Jika MICE jalan, pariwisata juga jalan, maka kata Nada, perekonomian Batam tetap bergairah.


Kebijakan Tak Realistis, Investasi Menurun

Menurut Ngaliman, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Batam, dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Batam, baik Dewan Kawasan, Badan Pengusahaan Kawasan dan Pemerintah Kota Batam harus realistis dalam membuat kebijakan untuk menarik investor. Jika semata-mata hanya berbasis pencitraan tanpa memastikan substansi persoalan yang ada, hasilnya akan kontraproduktif.

''Mereka harus bisa mengidentifikasi akar persoalan yang berpotensi menghambat laju investasi seperti kasus anarki yang melibatkan kalangan pekerja tidak terjadi lagi,''kata Ngaliman.

Karena persoalan ketenagakerjaan yang berujung aksi anarkis di Batam  selama tahun  2010 dan tahun 2011, kata Ngaliman, bisa menekan upaya Batam dalam menarik laju investasi  dari berbagai negara.

Kita tak boleh lengah, karena negara lain di sekitar Batam juga gencar menarik investasi, di antaranya adalah kawasan Johor Selatan sebagai salah satu pusat pengembangan ekonomi di Malaysia, kawasan industri di Vietnam, baik di Hai Pong, Binh Duong, Ho Chi Minh yang dikembangkan bersama-sama dengan Singapura atau zona industri di RRC seperti di Shenzhen, Suzhou, Guangzhou dan lainnya. Mereka semua mampu memberi berbagai kepastian berusaha, khususnya dalam hal keamanan.

Kondisi Batam memang agak sulit. Apalagi sejak kejadian di Batam  yang melibatkan elemen pekerja. Yaitu demo karyawan galangan kapal PT Drydocks World di Tanjung Uncang, Kamis 22 April 2010, Kemudian, Selasa 20 September 2011, pekerja PT Nexus Enginering Indonesia melakukan aksi dan membakar sejumlah fasilitas perusahaan shipyard di Kabil. Terakhir, demo para pekerja kembali berakhir rusuh pada 26 Nopember 2011. Liputan besar media asing dalam kejadian-kejadian tersebut ikut mempengaruhi citra Batam sebagai daerah tujuan investasi.

Bagaimana pun juga, kata Ngaliman, kejadian tersebut akan menjadi persoalan yang mempengaruhi nilai tambah Batam.  Berbagai insentif yang ditawarkan Batam Free Trade Zone (FTZ) ke sejumlah negara menjadi terganggu untuk hal yang mendasar. Perlu kerja keras dan berbagai langkah strategis untuk meyakinkan calon investor asing agar tetap dan kembali melanjutkan usahanya di Batam sehingga tekanan terhadap realisasi investasi bisa diantisipasi.

Para pemangku kepentingan di Batam harus bisa meyakinkan calon investor bahwa nilai tambah Batam seperti faktor geografis, kemudahan perizinan, pembebasan sejumlah jenis pajak, dukungan infrastruktur dan  ketersediaan SDM yang berkualitas, jauh lebih menarik dibanding  persoalan ketenagakerjaan.

Itulah yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah di tahun 2012. Agar perekonomian perjalan kondusif, harus terjalin hubungan saling menguntungkan antara pekerja, pengusaha dan pemerintah. ***



Tidak ada komentar: