beranda

Senin, 11 Juni 2012

Kisah Pemecah Batu

Tak Takut Pahat Melayang

Saat ketam melayang ke mata, risiko buta bisa saja terjadi. Tapi bagi pemecah batu, itu tak penting. Yang utama bisa menghasilkan uang untuk memberi makan anak dan istri.

Sore itu matahari masih memancarkan sinarnya. Panasnya serasa menggigit kulit. Tapi Hasan tak menghiraukan. Ia terus mengayunkan cangkul. Memecah bongkahan batu di bukit yang ada di ruli kawasan industri Sekupang. Hari ini, Hasan berharap ada yang membeli batunya. Karena ia butuh uang untuk membayar hutang di warung. Tiga hari ini, Hasan, istri dan dua anaknya hanya makan mie instan saja. ''Maklum lah, warung tak mau memberi hutang lagi, sebelum hutang bulan kemarin dilunasi,''kata pria yang tidak bisa membaca dan menulis ini.
Batu yang biasa digunakan untuk pondasi batu miring ini umumnya dijual Rp 180 ribu per lori (canter). Tapi harga itu bisa turun hingga Rp 150 ribu karena kebutuhan mendesak seperti yang dialami Hasan. Selama hampir 12 tahun bekerja sebagai pemecah batu, Hasan mengaku hidupnya 'gali lubang tutup lubang' sama seperti yang dilakukan sehari-hari. Maksudnya ia berhutang dulu untuk kebutuhan makan sehari-hari kemudian dibayarkan saat batu-batu terjual.
Dulu sebelum krisis, pekerjaan ini sangat menguntungkan. Apalagi saat harga batu dari Tanjungbalai mahal, pengusaha properti, pemilik toko bangunan memilih batu ini. Ia melihat Can, abang kandungnya berkecukupan. Karena itu saya tertarik ketika diajak abang bekerja di Batam. Hasan yang hanya mengerjakan sawah milik orangtua di Payakumpuh, langsung berangkat. Ditinggalkannya Hartati, istrinya dan anaknya. Menggunakan kapal kayu Jelatik dari Pekanbaru, Hasan berangkat dengan bermodalkan uang saku Rp 300 ribu. Sesampai di Batam, Hasan menumpang sementara di tempat Can, di ruli kawasan Industri Sekupang. Awalnya, Hasan hanya membantu mengangkat batu dari bukit ke tepi jalan.  ''Saya lihat-lihat dulu caranya. Karena agak gampang-gampang susah cara kerjanya,'' kata pria yang tidak pernah sekolah.
Tak butuh waktu lama, Hasan sudah berani memecah batu di bukit. Ia sudah bisa menggunakan linggis, martil juga pahat. Selama hampir 12 tahun bukit itu ditebas dan batu-batunya dipecahkan, kini  bukit yang tingginya 20 meter sudah tinggal setengah. Sama seperti Buyung, pria yang sudah 20 tahun memecahkan batu ini menunjukkan bukit yang tinggal seperempat. ''Awalnya bukit itu ada di tepi jalan ini. tapi sekarang tinggal itu,''kata Buyung sambil menunjuk dinding bukit yang sudah tak utuh lagi.
Diakui Hasan pekerjaan ini sangat beresiko. Ia sendiri merasakan itu. Kuku ibu jarinya sudah lepas tiga kali. karena terkena pahat seberat 7 kg. Luka robek sudah menjadi hal biasa bagi pemecah batu. Alis dan tangannya robek terkena pahat yang melenting. Lukanya cukup dalam dan harus dijahit. Manalu, rekan sesama pemecah batu juga pernah mengalami pecah tulang jarinya, akibat terkena martil. Untung saja tulang jarinya masih bisa disambung, jadi biaya hanya Rp 4 juta. Berbeda dengan Ujang, yang harus dioperasi mata dan tangannya karena pahat. Biaya saat itu samapi Rp 40 juta.. ''Alhamdulillah, pak Ujang tidak sampai buta. Padahal lukanya cukup parah,''kata  Hasan lagi. ***



Musim Hujan Beralih Profesi
''Jangan sekali-sekali bekerja disaat hujan. Resikonya terluka,''kata Hasan. Ia sudah merasakan akibat nasehat itu tidak didengar. Tangannya robek akibat terkena batu yang dibawanya sendiri. Batu-batu berwarna putih itu ternyata sangat licin jika terkena air.  Hasan mengaku tak sabaran melihat hujan tak berhenti, padahal kebutuhan makan sudah mendesak. Akhirnya ia nekad memecahkan batu dan membawanya. Saat itulah, batu terlepas dari tangannya dan merobek lengan kirinya.
Tak hanya hujan, panas juga dihindari.para pemecah batu. Sore itu, Hasan tetap bekerja, ia tanam dahan pohon akasia disisi kiri lubang yang sedang digali. Dan ia terus mencangkul sambil berlindung dibalik dahan itu. Namun ada juga yang tetap bekerja tanpa membuat perlindungan apapun. Seperti Manalu, ia terus mencangkul. Dengan mengenakan pakaian sekadarnya, bercelana pendek dan kaos oblong. Tanpa topi dan hanya mengenalan sandal jepit. Pria yang sudah terlihat uzur ini terus mengayunkan cangkul ke bukit cadas itu.
Setiap hari para pemecah batu ini datang ke bukit pukul 07.00 WIB dan pulang ketika menjelang Magrib (18.00 WIB).  Hasan biasa pulang kerumahnya untuk makan siang. Rumahnya tak terlalu jauh, hanya sekitar 500 meter. Hasan menggunakan sepeda untuk bekerja. Dia mengaku belum bisa membeli apapun dari pekerjaan ini. Hanya bisa memberi makan anak dan istri dan biaya sekolah ketiga anakknya. Bahkan ia mengaku sering tekor. Terkadang ia tak bisa mengirimkan biaya hidup anaknya di Payakumpuh. ''Untung saja rumah tidak sewa, sudah milik kami sendiri walau itu ruli,''kata Hasan  lagi.
Saat musim hujan datang, Hasan tidak bisa tinggal diam.  Dia harus mencari alternatif pekerjaan. Biasanya Hasan menjadi kuli bangunan, mencari pasir atau mencari ikan. Aidil yang sudah memiliki motor beralih sementara menjadi tukang ojek. Pekerjaan sebagai pemecah batu bagi Aidil paling enak. Waktunya lebih fleksibel. Aidil bisa mengantar jemput anaknya sekolah. Jika ada yang minta antar, saya pun bisa meninggalkan sebentar pekerjaan ini.(agn)


Pernah Ditipu Cek Kosong
M. Aidil (38 ) yang baru dua tahun menjadi pemecah batu dari bukit di ruli kawasan indusri Sekupang ini pernah ditipu pembeli. Waktu itu cek yang diberikan senilai Rp 3 juta ternyata kosong. Ada juga yang melarikan diri dari pembayaran. Bahkan ada yang datang dengan mobil mewah, minta batu sebanyak 50 lori. Tapi pembayarannya belakang alias ngutang. Bagi kami asalkan dibayar, tak menjadi masalah.. Umumnya pemilik proyek selalu berhutang 10 lori,  dibayarkan 1-2 minggu kemudian.
Batu yang ditumpuk di tepi jalan itu sudah ada sekitar empat gundukan. Masing-masing tumpukan batu dimiliki orang yang berbeda. Menurut Aidil,  sistem penjualan batu disini lebih pada kebersamaan saja. Disaat ada yang butuh uang, kami dahulukan batunya yang dibeli. Dan yang lain menunggu pembeli lain. Untuk harga selalu sama, tidak ada yang membanting harga. Justru pembeli yang sering menekan harga. Apalagi kalau batunya jelek. Harganya bisa sangat murah.
Pekerjaan ini juga butuh stamina yang kuat. Hasan mengaku jika badanya lelah ia tidak kerja. Ia memilih istirahat dirumah. Setiap hari Hasan hanya membawa satu botol air minum di botol bekas air mineral.
Sudah dua bulan belakang ini, Hasan, Aidil dan Manalu membabat bukit batu bekas penggusuran. Karena ada bantuan beko dari pemilik lahan, maka dalam 1 hari bisa mendapatkan batu 1 lori/canter. Tapi kalau manual, bisa 4 hari dapat 1 lori/canter. Karena batu yang ada di bukit harus dicangkul dulu. Kemudian dipecah dengan linggis. Dan diperkecil lagi ukuranya dengan pahat. Alat ini dibuat dari plat mobil selebar 10 cm. Untuk cara manual ini, biasanya penghasilan yang didapat sekitar Rp 800 ribu saja. Jika nanti bukit ini habis, ia akan kembali memecah batu di tempat lain tapi masih diruli kawasan indusri Sekupang. Ia akan terus melakukan pekerjaan ini sampa tidak ada lagi bukit. Ia berharap anaknya bisa tamat sekolah minimal SMP. Agar tidak seperti bapaknya yang tidak sekolah, dan hanya bekerja seperti ini. (agn)


Tidak ada komentar: