Tidak Kalah dengan Mall
Azan subuh baru saja usai, Jonaidi (45) juga baru saja selesai mandi. Tak lama, setelah sholat Subuh, pria kelahiran Padang ini kemudian mulai berkemas. Disusunnya satu persatu keranjang berisi aneka jenis pakaian dalam wanita ke mobil carry miliknya. Lima belas menit saja, Jonaidi sudah memasukkan semua barang daganganya itu.
Tak lupa, Jonaidi membawa bekal nasi dan lauk untuk makan siang dan makan malam. Jonaidi yang juga seorang mubaliq ini membawa satu stel baju koko dan peci. Baju ini akan dipakai Jonaidi untuk mengisi majelis taklim ibu-ibu di batuaji sebelum berjualan.
Sebelum ke Batam, Jonaini adalah seorang guru di pondok pesantren di Sumatra Barat. Sepuluh tahun juga, Jonaidi mengajar. Selain itu Jonaidi kerap dipanggil untuk memberi ceramah agama. ''Saya ini mubaliq. Karena saya tidak ingin dipanggil ustad 'amplop', makanya saya topang dengan jualan. Waktu itu modal pertama saya Rp5 jutaan. Pertamakali saya jualan di pasar Bengkong. Trus, saya coba keliling dan mulai mencicil mobil carry. Alhamdullilah lancar dan mobil juga sudah lunas. Dulu mobil saya dua, tapi akhirnya saya jual karena tidak ada yang pakai, kata suami dari Yarni.
Karena menjaga image sebagai ustad, Jonaidi tidak lagi berjualan di Bengkong. ''Saya segan aja, kalau ketemu jamaah saya. Apa katanya nanti, wah pak ustad kok jualan celana dalam. Makanya saya alihkan jualan ke daerah lain. Jadi dengan hasil jualan itu, saya tidak terlalu berharap amplop, saya bisa dengan leluasa berdakwah,''kata Jonaidi yang saat ini sedang di Guntung, Tembilahan dalam perjalanan dakwah.
Tepat pukul 05.30 WIB, Jonaidi bersama adik iparnya berangkat dari rumahnya di Bengkong Indah Swadebi blok N No.33. Hari ini ia akan berjualan di Saguba (Sagulung Baru), pasar kaget terbesar di Batam.
Pagi itu, pasar kaget Saguba sudah mulai ramai. Sebagian penjual sudah menata barang dagangannya. Sedangkan yang baru datang masih mencari tempat memarkir mobilnya. Sama seperti Jonaidi, mereka juga membawa barang daganganya dalam mobil carry.
''Kalau tidak lagi jualan di PCI (nama salah satu perusahaan elektronik di Sekupang), saya keliling, seperti sekarang ini. Saya jualan di PCI hanya dari tanggal 28 sampai tanggal 5 saja di PCI. Karena tanggal itu pekerja pete gajian,''kata pria yang menjadi pedagang dadakan sejak tahun 2002 ini.
Dulu, kata Jonaidi, ia harus datang pukul 03.00 WIB untuk membentak lapak di dekat trotoar. Tapi sekarang tidak lagi, karena masing-masing pedagang sudah punya tempat masing-masing dan tidak perlu berebutan lagi.
Di PCI, kata Jonaidi lagi, ia biasa berjualan mulai pukul 15.00 WIB. Dan baru pulang sekitar 23.00 WIB. Konsumen Jonaidi umumnya pekerja di PT PCI, namun ketika para pekerja sudah pulang, konsumen Jonaidi adalah penduduk sekitar atau warga yang sedang lewat. Ada sekitar 100an pedagang menggelar dagangannya. Mulai dari pakaian, sepatu, peralatan dapur, aksesoris sampai baju seken.
Imran (40), juga seorang pedagang pasar kaget di depan kawasan industri Tunas, Batam center, punya pengalaman berbeda. Ia justru mulai jualan dari pintu ke pintu di dormitori kawasan industri Mukakuning. ''Waktu itu, sekitar tahun 1995, penghuni dormitori masih tinggal di bawah, belum sampai ke lantai atas. Saya tawari pakaian dengan mendatangi satu persatu. Seminggu sebelum gajian saya datang. Mereka biasanya ambil barang dulu, dibayar setelah gajian. Makanya, saya pasti datang lagi ketika tanggal gajian. Saya sudah hafal tanggal gajian setiap pete,''kata Imran yang merupakan adik dari Jonaidi.
Dengan tas kain berukuran besar, Imran berkeliling membawa barang dagangannya yang terdiri dari pakaian dalam wanita juga baju tidur. Walau berjualan dengan sistem bayar dibelakang, Imran tidak pernah tertipu. ''Saya sudah tahu orang-orang yang jujur dan tidak. Kelihatan kok. Tapi kadang teman-teman sesama pedagang juga ngasih tau, agar hati-hati. Mereka suka kasih tau ciri-ciri orangnya,''kata Imran yang menjadi pedagang keliling di dormitori selama 1 tahun.
Kini Imran sudah tak lagi berdagang door to door. Ia sudah memiliki tempat jualan sendiri. Walau hanya lapak di pinggir jalan. Berdua dengan Ernawati (35) istrinya, Imran berbagi tugas. Ia berjualan sepatu, sandal di pasar kaget Batu Besar, sedangkan istrinya di depan kawasan industri Tunas, Batam Center.
Jemput Bola Hingga ke Perumahan
Setelah 'tanggal muda' pekerja industri berakhir, para pedagang pasar kaget ini beralih ke perumahan. Jonaidi misalnya, menggelar dagangannya di perumahan Fanindo, di hari lain, Jonaidi juga buka di Pluto Tanjung Uncang, kemudian juga di Cipta Asri (simpang Barelang), Taman Lestari (Aviari), Seroja (Dapur 12) dan Saguba (Sagulung Baru).
Diakui Jonaidi, penjualan barang di kawasan industri tak menjanjikan seperti dulu lagi. Imran yang berdagang di Batu Besarpun merasakan hal yang sama. ''Dulu uang OT (over time) pekerja pete banyak. Jadi mereka sering belanja. Kalau sekarang untuk makan saja sudah sulit. Waktu itu sehari saya bisa dapat Rp2 juta. Apalagi dulu belum ada mall, jadi pasar kaget inilah dijadikan tempat belanja yang asyik. Apalagi semua kebutuhan yang diperlukan ada disini,''kata Imran lagi.
Imran yang mempunyai lapak di depan perumahan Bida Asri dan Batu Besar merasa sangat terbantu dari penjualan di dekat perumahan. ''Disini konsumen lebih banyak, tak perlu menunggu pekerja industri terima gaji. Waktu jualannya lebih panjang. Selama satu bulan full bisa jualan. Alhamdullillah sehari kalau lagi ramai bisa dapat Rp1,3 juta. Tapi kalau sepi dapat Rp400 ribu saja,''Ernawati, istri Imran yang berjualan sepatu dan sandal.
Menurut Jonaidi, penjualan yang mereka lakukan ini adalah sistem jemput bola. ''Kami langsung mendekati konsumen. Biasanya yang digarap pedagang pasar kaget ini umumnya ibu-ibu yang tidak bisa ke pasar karena punya anak kecil. Makanya saya memilih jualan kebutuhan wanita juga anak-anak. ''kata Jonaidi yang bisa mengumpulkan keuntungan Rp35juta/bulan.
Karena namanya pasar kaget, Jonaidi menata dagangannya sefleksibel mungkin. Ia sudah mengantisipasi ketika tiba-tiba hujan deras. Terpal jadi pilihan Jonaidi untuk menutup sementara dagangannya. Tapi jika hujan terlalu deras dan tidak berhenti, semua dagangannya dikemas kembali dalam mobil. Jonaidi juga tidak melupakan kebersihan. Semua bekas bungkus plastik di kumpulkan di satu tempat. Jadi tidak berserakan.
Tidak Kalah dengan Mall
Walau jualan dipinggir jalan, bukan berarti sembarangan. Jonaidi mengemas barang-barang dagangannya dalam keranjang-keranjang. Agar indah dilihat, dan tak kalah seperti di mall, Jonaidi menata pakaian-pakaian wanita dengan digantung. ''Pokoknya saya setting yang bagus. Saya punya model sendiri. Pakaian-pakaian dalam wanita itu saya kemas dalam keranjang putih (yang biasa dipakai untuk mengemas kelengkeng). Dan saya beri harga. Jadi pembeli tidak perlu tanya harga lagi. Sudah suka barangnya, cocok harganya, langsung dibungkus,''kata Jonaidi penuh semangat.
Jonaidi dan Imran sangat tahu pasar yang mereka garap adalah kelas menengah ke bawah. Karena itu keduanya memilih barang-barang yang bisa dijangkau warga. Jonaidi contohnya, ia yang setiap bulannya belanja pakaian dalam wanita ke Jakarta selalu mencari harga-harga murah. Agar ia bisa menjual lagi dengan harga Rp10.000 atau 3 pieces Rp10.000. Jonaidi juga tidak pernah melupakan tren mode. ''Kenapa saya pilih menjual pakaian dalam wanita, karena barang-barang ini adalah kebutuhan harian,''kata mantan guru di pondok pesantren di Sumatra Barat.
Imran juga melakukan hal yang sama dengan kakak sulungnya itu. Ia tak pernah ketinggalan untuk urusan mode. Setiap bulan Imran ke Bogor untuk belanja sepatu dan sandal mode terbaru. ''Saya harus tau mode. Makanya setiap bulan saya ke Bogor. Berangkat dari tanggal 20. Saya tiga hari disana untuk belanja. Waktu yang cukup untuk memilih-milih mode sepatu juga sandal yang sesuai untuk orang Batam. Pokoknya sesuai harga dan tidak ketinggalan gaya,''kata Imran yang berprinsip barang baru, bulan baru dan semangat baru.
Sepatu-sepatu dan sandal yang dijual Imran ini memang tergolong murah. Harga sandal plastik anak-anak gambar tokoh kartun Bernard (beruang putih yang lucu) itu dijual dengan harga Rp15 ribu. ''Saya lihat konsumen yang belanja disini punya prinsip lebih baik beli yang murah. Satu bulan dipakai, rusak, bulan depan beli lagi. Makanya saya tidak membeli barang-barang yang harganya mahal,''kata pria yang tinggal di Bengkong Indah Blok 4 No 43.
Yang Muda pun Tertarik
Menjadi pedagang pasar kaget ternyata diminati juga oleh kaum muda. Maklum saja, penghasilan yang mereka dapat juga menggiurkan. Adek (20), salah satu pedagang pasar kaget di depan perumahan Bida Asri dan kawasan industri Tunas, Batam center ini bisa berpenghasilan Rp1,2 juta perhari. Saat penjualan sepi Adek mengaku ia juga mengantongi keuntungan Rp200 ribu/hari. Menjadi pedagang di pasar kaget tidak terlalu sulit. Tidak perlu berkeringat. Cukup duduk menunggu pembeli datang dan hanya sedikit tahan begadang. Karena berjualan di pasar kaget bisa sampai pukul 23.00 WIB.
Awalnya mereka hanya bantu-bantu saja dan terima gaji perbulan. Setelah punya modal sendiri, mereka pilih jualan sediri. Tapi ada juga yang sejak datang dari kampung halaman langsung berjualan.
Seperti Adek, sudah setahun ini memilih berdagang aksesoris. Ia yang baru tamat SMK di Padang langsung merantau ke Batam. Dan ikut berjualan di pasar kaget. Ade melihat saudaranya cukup berhasil dengan hanya berdagang di pasar itu. Bahkan saudaranya juga bisa mencicil mobil dari hasil berjualan sepatu dan sandal.
Memang terlihat dari pedagang yang ada di pasar kaget di Bida Asri itu didominasi pria-pria usia muda. Mereka berjualan aksesoris, topi, pakaian dalam wanita, spreai, mainan anak-anak, sandal dan sepatu juga pakaian seken. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar