beranda
Senin, 11 Juni 2012
Eksotisnya Pasar Malam di Batam
Ibarat gadis desa yang rupawan. Udik, tapi menarik. Walau hanya pasar malam, permainannya sederhana tapi pengunjungnya bermobil.
Aquina, bocah kelas 5 SD itu tampak sigap. Diambilnya bola-bola yang jatuh ke tanah. Lalu dikumpulkannya ke dalam keranjang. Ia harus cepat, jika tidak bola lain akan mengenai kepalanya. Tiga orang pengunjung pasar malam juga terlihat tak sabaran. Tangannya sudah menggenggam bola yang akan dilemparkan ke arah rak kayu berisi rokok.
Malam itu, Aquina memang mendapat tugas menjaga stan lempar bola. Pemain akan mendapat hadiah bila bisa menjatuh sasaran tembak yang ada di depan. ''Biasanya di sini, menunggu permainan pancing, tapi karena ada saya, dia di sana, '' kata Nova, tante dari Aquina.
Suasana pasar malam di Simpang Frenky, Rabu malam (18/5) itu tampak meriah. Area parkir motor juga padat. Bahkan beberapa mobil pengunjung berbaris di sisi kiri jalan dekat pintu masuk pasar malam. Dari dalam salah satu mobil itu, keluar seorang bocah perempuan bermata sipit bersama kedua orangtuanya.
Keluarga yang memakai mobil Toyota Rushnya merengsek ke arah permainan pasar malam. Si anak terus menarik tangan papanya agar cepat masuk ke dalam pasar malam. Setiba di dalam, gadis cilik itu langsung minta naik kereta naga. Ia senang sekali. Bahkan tidak mau turun dan minta berkali-kali minta naik kereta bersama mamanya.
Di tempat permainan lempar gelang, 3 orang anak muda asyik melemparkan gelang ke arah rokok yang berserakan di atas papan. Sedangkan tiga orang teman perempuannya bersorak melihat temannya gagal melempar gelang itu ke rokok. Dari gaya berpakaianya mereka modis sekali. Yang pria mengenakan kemeja dikombinasikan dalaman kaos. Sedangkan gadis-gadisnya, ada yang mengenakan overall (terusan celana panjang).
Di tempat pedagang pakaian, seorang gadis berseragam PT memborong 6 BH yang dijual 3 pcs Rp 10 ribu. Ia juga membeli beberapa celana dalam yang dijual dengan harga sama. Tak jauh dari pedagang pakaian, seorang pedagang mainan juga diserbu pembeli. Mainan mobil-mobilan dijual hanya Rp 5 ribu rupiah.
Pasar malam milik Pangabean ini adalah satu-satunya di Batam. Di bawah naungan CV. Mahkota Grup, pasar malam yang sudah ada sejak tahun 1998 ini sudah buka di semua wilayah Batam, bahkan sampai ke Pulau Buru, Tanjungbalai Karimun, Tanjung Batu juga Tanjungpinang.
Di lapangan perumahan Arse, Batuaji itulah pasar malam ini bermula. ''Pak Pangabean, pemiliknya tinggal di perumahan itu. Jadi mudah menggelar pasar malam. Dan saya diajak mengelola pasar malam. Kebetulan sewaktu di Tanjungpinang, saya pembuat tong setan, salah satu permainan di pasar malam,'' kata pria yang juga pemain tong setan.
Koordinator pasar malam,Agus yang ditemui Batam Pos, Kamis sore lalu itu tampak santai duduk-duduk bersama teman-temannya yang juga karyawan pasar malam. Ada sekitar 15 orang yang membantu pasar malam ini. Semua pekerjaan dilakukan karyawan yang umumnya laki-laki ini. Seperti menjadi pemain, operator juga bongkar pasang alat-alat permainan. Agus misalnya, walau menjadi koordinator ia juga operator kereta naga, Andi, kakak angkatnya pemain tong setan. Bahkan yang menjadi hantu juga teman-temannya. '' Mereka dandan sendiri. Tapi sebenarnya, tak berdandan pun wajah mereka juga sudah seram. Ini karena pengaruh lampu ultra,'' kata Agus sambil tertawa.
Bahkan kata Agus, pemiliknya juga bekerja. Seperti malam itu, Pangabean menjadi MC untuk permainan tebak angka berhadiah alat elektronik, ember juga sabun cuci piring. Pangabean tampak luwes menjalankan permainan itu. Ia berbicara layaknya penjual obat yang menawarkan dagangannya. Lancar tanpa jeda. Istrinya juga terlihat duduk-duduk di tengah area permainan lempar gelang. Ia menemani lima ibu-ibu yang juga tetangganya mengambil gelang-gelang yang dilempar pengunjung.
Lima belas orang karyawan laki-laki itu kata Agus digaji Rp1, 2 juta, diberi uang makan Rp20 ribu dan satu bungkus rokok setiap harinya. Mereka tinggal di pasar malam. Berbeda dengan ibu-ibu dan anak-anak perempuan yang menjaga loket dan permainan. Mereka hanya datang saat bekerja.
Karena itu mereka diberi upah Rp30 ribu/ malam untuk 4 jam bekerja. Karena pasar malam ini buka mulai pukul 19.00 dan tutup pukul 23.00 WIB. Kata Agus lagi, ibu-ibu itu adalah tetangga rumah Pangabean. Mereka kebanyakan janda yang memiliki anak-anak kecil. Nova, adalah salah satunya. Ia sudah bercerai namun anak satu-satunya dibawa suaminya. Untuk mengisi waktu, ia bekerja di pasar malam ini. Walau masih ada hubungan saudara, ia tetap digaji.
Pukul 18.00 WIB, rombongan ibu-ibu juga beberapa anak gadis itu biasanya berangkat menggunakan bus dari Kavling Pelopor Batuaji. Bus itu disediakan Pangabean untuk alat transportasi. Malam itu, bus berwarna putih itu tampak terparkir di dekat lampu merah Simpang Frenky. Dengan bus itulah semua pekerja wanitanya dijamin aman hingga sampai di depan rumah.
Pasar malam milik Pangabean ini memang ramai. Pasar malam ini sangat eksotis. Makanya, setiap kali buka di suatu tempat, tak pernah sepi. Padahal dulu, kata Agus, pertama kali buka permainannya hanya tong setan, lempar kaleng juga nyanyi dangdut saja. Sekarang jenis permainannya makin banyak seperti komedi putar, kereta naga, lempar gelang, lempar bola, rumah hantu, tebak angka, pancing, kincir juga tong setan. '' Ide-ide permainan itu dari Pangabean. Saya yang membuatnya. Bahkan saya pernah diajak ke Medan, lihat pasar malam di sana. Lalu kami buat di sini. Kebetulan saya bisa ngelas. Karena pernah sekolah di jurusan teknik logam,'' kata alumni STM Tanjungpinang tahun 1997.
Untuk tarif permainan, Agus menetapkan harga murah. Rata-rata Rp3.000 untuk jenis permainan tanpa bahan bakar. Sedangkan Rp5.000 untuk permainan yang mengunakan solar, seperti tong setan.
Walau murah, atraksinya memuaskan. Seperti tong setan, Andi (45) yang malam itu menjadi pemain menunjukkan atraksi berbahayanya. Ia bisa mengambil uang saweran yang dipegang penonton. Padahal penonton berdiri di bibir tong teratas. Sepertinya motor yang dikendarai Andi keluar dari tong. Tapi ternyata tidak, Andi masih tetap berada di dalam tong dengan lebar 9 meter itu.
Andi juga mengendarai motor tanpa dipegang. Kedua kakinya juga diletakkan di atas tangki bensin motornya. Tapi motornya tetap bisa jalan bahkan sampai di posisi atas. Dan menukik lagi ke dasar tong yang berukuran 5,5 meter. Tong setinggi 5 meter itu, dibuat Andi seperti perosotan saja. Ban motor itu terus menggelinding di dinding ton yang terbuta dari kayu.
Kayu-kayu tempat berpijak penonton pun ikut bergetar kuat akibat dilewati ban motor. Penonton serasa ikut bermain. Nyali benar-benar diuji saat lihat permainan ini. Karena yang ada dalam fikiran adalah rasa takut terkena motor ataupun tong patah dan terjatuh.
''Saya lebih dulu ketimbang Andi. Kira-kira 9 tahun jadi pemain tong setan. Tapi sekarang saya tidak main lagi. Mental saya tidak seberani dulu lagi. Karena itu saya salut dengan teman-teman yang punya mental bule. Mereka bisa bergonjengan 4 orang di dalam tong setan. Dulu, saya yang mengajari mereka, tapi sekarang mereka lebih berani dari saya,'' kata Agus lagi.
Menurut Agus, teman-teman yang ada di pasar malam ini datang tanpa keahlian. Mereka minta pekerjaan. Bahkan mereka tidak punya KTP. Rata-rata mereka sudah bekerja antar 5-6 tahun. Ada juga yang keluar karena bosan. Untuk pemain tong setan diberi asuransi. ''Kalau keseleo itu sering. Biasanya dibawa istirahat ke rumah,'' kata Agus lagi.
Dari pekerjaan ini, kata Agus, rata-rata karyawannya sudah bisa memiliki motor sendiri. Maklum mereka masih lajang. Sedangkan yang berkeluarga seperti Andi, bisa menyekolahkan anaknya. ***
Ibu- ibu Pejabat pun Heran
Harga Barang Pecah Belahnya
Seperti sayur tanpa garam. Begitulah Agus mengibaratkan pedagang yang ada di pasar malam. Pasar malam menjadi tidak meriah tanpa ada pedagang yang berjualan. Daya tarik pasar malam ada di pedagangnya. Menurut Agus, pengunjung datang karena ingin belanja. Hak nya pedagang di pasar malam inilah yang menjual barang-barang dengan harga murah. ''Mana ada barang pecah belah dijual Rp5 ribu, '' kata Agus.
Agus juga menceritakan ketika pasar malamnya buka di daerah Buana Raya. Ibu-ibu pejabat datang melihat-lihat jualan pedagang dan bertanya harga. Mereka heran, ternyata masih ada yang menjual barang pecah belah sangat murah.
Saat ini ada sekitar 57 pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Pasar Malam (APPM). Mereka selalu ikut kemanapun CV Mahkota Megah menggelar pasar malam. Setiap harinya setiap stan membayar Rp 10 ribu untuk sewa tempat. Mereka boleh berjualan, namun produknya tidak boleh sama. Untuk tempat berjualan juga diundi.
Saat ini kata Agus, pedagang yang ada di pasar malam beragam, mulai dari aksesoris, cd, pakaian, sepatu, tas, bedak, mainan anak, handpone juga buku. Makanan juga ada. Bahkan empat bulan ini, Yamaha selalu ikut buka stand. Sebelumnya Fren dan Telkomsel juga pernah ikut. ***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar