beranda
Senin, 11 Juni 2012
Melihat Aktivitas Nelayan di Pulau Buluh di Tengah Kerusakan Lingkungan
Tak Pernah Pegang Rupiah, tapi Dolar
Kelompok nelayan di Pulau Buluh tak tergantung lagi dari tangkapan ikan di laut. Budidaya ikan yang dibuatnya sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Biasanya sore begini, Bahri dan teman-temannya sudah berangkat melaut. Tapi karena hari Raya Idul Fitri, mereka libur. Perahu-perahu kecil mereka tampak tertambat di dekat keramba. Ketua kelompok nelayan yang rumahnya tak jauh dari keramba itu juga terlihat sibuk menerima kunjungan saudaranya.
Namun begitu, Bahri dan 10 teman lainnya yang tergabung dalam satu kelompok nelayan Pulau Buluh tetap bergiliran menyambangi keramba milik kelompoknya. Untuk memberi makan ikan Bawal Bintang dengan udang yang dicacah. Keramba yang terletak di tepian pulau ini dibuat dari dana zakat profesi da zakat maal yang dikumpulkan Lembaga Amil Zakat Dompet Sosial Ulil Albab (DSUA).
Keramba berusia 5 tahun itu sudah mulai bocor. Namun Bahri dan teman-teman masih bisa menyiasati dengan membuat jaring ganda agar ikan tidak lepas atau dimakan ikan lain. ''Jaringnya kami buat dobel. Kalau tidak ikan-ikan kecil masuk dan suka makan kaki udang. Kalau sudah dimakan ikan, biasanya udangnya mati,'' kata Ali Ardan, salah satu anggota kelompok sambil memperlihatkan tempat pemeliharaan udang.
Sejak dibuatkan keramba oleh DSUA lima tahun lalu, para nelayan di Pulau Buluh sangat terbantu perekonomiannya. ''Ada sekitar lima kelompok nelayan yang kami buatkan kerambanya. Namun yang jalan hanya beberapa. Ya, salah satunya kelompok pak Bahri ini. Mereka tergolong ulet mencari ikan dan sudah melakukan budidaya ikan. Jadi tidak tergantung 100 persen dari laut. Mereka sudah punya tabungan penghasilan. Jadi tetap ada uang masuk walau tak melaut,'' kata Waryo Burhanudin, Ketua Yayasan DSUA.
''Awalnya kami dulu yang memberi bibit ikan, selanjutnya pihak lain ikut membantu. Balai Budidaya Laut misalnya telah memberikan bantuan bibit ikan Bawal Bintang. Saat ini ikannya sudah bisa dipanen. Umurnya sudah satu tahun, beratnya 8 ons,'' Waryo menambahkan sambil menunjuk ikan bawal bintang yang ada di dalam keramba.
Bagi Bahri, budidaya ikan seperti ini sangat membantu saat paceklik ikan. Apalagi sejak ada galangan kapal di depan Pulau Buluh, terumbu karang rusak dan ikan tidak ada lagi. Bahri pun harus mencari ikan di tempat lain. Namun kembali ia harus menghadapi masalah perahu yang tidak memungkinkan ke laut lepas. Perahu yang sekarang dimiliki kelompoknya hanya mampu ke laut di sekitaran pulau saja.
''Kami semua punya perahu tapi tak mampu untuk ke laut bebas, padahal kalau mau ke tengah laut saja, di sana masih banyak ikan. Jika ada donatur yang berminat menanamkan uangnya untuk membeli kapal, kapal bersyukur sekali. Minimal bisa membeli kapal ikan 30 feet. Kapal ini kami jadikan kapal induk, saat melaut kami tetap bawa perahu kecil ini. Jadi diikat saja ke kapal induk,'' papar Bahri yang diamini anggota kelompoknya.
Bahri, Zulkardi, Nuryadin, Ali Ardan dan Saharudin memang tak mudah menyerah. Dengan kondisi yang ada mereka tetap mencari ikan. Biasanya mereka ke Pulau Dansi dekat Dapur 12 atau ke Sungai Lumba. Di sana, mereka rata-rata bisa dapat udang 5-6 kg. ''Pak Zulkardi yang paling banyak. Dia bisa dapat sampai 12 kg. Di kelompok kami, dia memang paling jago cari ikan, '' timpal Nuryadin yang berasal dari Lampung.
Tak hanya udang, kata Nuryadin, mereka juga mencari ikan apa saja. Di Sungai Lumba, kami sering dapat ikan Sembilang. Ikan yang mirip lele ini laku dijual ke Singapura. Harganya 4 dolar Singapura/ kg. Semua hasil tangkapan ikan tak langsung dijual. Biasanya masukkan terlebih dahulu ke dalam keramba. Dipilah-pilah sesuai jenisnya.
Di keramba milik kelompok Bahri ini, mereka membuat tiga tempat berbeda. Semuanya di pisahkan dengan jaring-jaring empang (jaring khusus pelihara ikan). Di sisi kiri keramba, ikan Bawal Bintang yang merupakan ikan budidaya. Di tengah keramba ikan kerapu merah,ikan Gertang juga ikan Sembilang. Dan tempat yang lain aneka udang. Seperti Udang Swallow, udang halus juga udang tiger.
Setiap harinya, ikan dan udang ini dijual ke koperasi nelayan. Koperasi inilah yang menjualkan ke Singapura. ''Biasanya jam 9 malam kapal koperasi yang membawa ikan kami itu berangkat ke Singapura. Besok jam 1 siang mereka sudah datang membawa uang untuk membayar ikan yang kami jual tadi. Uangnya sudah di dalam amplop. Semuanya dolar. Pak Bahri yang mengambil uangnya. Kemudian uang itu di bagi sesuai dengan hasil tangkapan kami masing-masing. Tapi sebelumnya disisihkan untuk kas atau biaya pemeliharaan keramba. Tapi kadang kami hanya ambil 100 ribu saja, sisanya kami simpan dengan pak Bahri. Pokoknya pak Bahri itu tak pernah pegang uang rupiah, semuanya dolar, '' Nuryadin.
Rata-rata dari kelompok Bahru ini bisa menjual udang 1-2 kotak udang. Harga per kotak udang yang beratnya 30 kg itu 200 dolar Singapura. Harga itu belum dipotong biaya kirim 6 dolar Singapura/ kotaknya. Kelompok Bahri juga menjual ikan Sembilang. Harganya 4 dolar Singapura/kg, kerapu merah 180 ribu/kg, Gertang Rp 100 ribu/kg. ''Ikan-ikan di sini sering juga dibeli pemancing. Harganya memang lebih mahal. Udang swallow 7-8 dolar Singapura/kg, udang halus 3 dolar Singapura/kg dan udang tiger 12 dolar/kg, '' kata Ali Ardan pria asal Binjai.
Agar tetap survive, kelompok Bahri ini rajin membuat alat penangkap ikan. Seperti alat penangkap ikan Sembilang yang namanya Rawai itu dibuat dari ban bekas. Bentuknya menyerupai kapal-kapalan. Alat ini juga diselubungi jaring agar ikan sembilang tidak meloncat keluar. Ada juga alat penangkap udang. Terbuat dari bambu.
Biasanya dipasang berdiri disepanjang pantai. Bambu akan bergerak-gerak ketika ada udang yang memakan umpan yang ada di dasar laut."Pokoknya semua alat penangkap ikan kami bawa. Karena kami harus bisa membawa hasil ikan apapun. Karena itu kami butuh kapal yang besar agar bisa melaut lebih jauh dan dapat hasil yang lebih banyak,'' kata Bahri menutup pembicaraan kami. ***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar