beranda
Senin, 11 Juni 2012
Ketika Jodoh Tak Seramai Dulu
Berharap dari Eceran Saja
Azdan sholat Subuh belum lagi terdengar, Nikmat, pedagang sayur di pasar Tanjungpantun Jodoh sudah berangkat dari rumahnya di Bengkong Mahkota. Bersama Pian menantunya, ia berangkat menggunakan mobil space wagon menuju pasar pagi Toss 3000. Pasar yang bersebelahan dengan Avava dan Ramayana di Jodoh ini menjadi tempat Nikmat belanja sayuran juga sembako. Biasanya setelah mendapatkan semua kebutuhan dagang, wanita berusia 55 tahun ini langsung menuju pasar Tanjungpantun, tempat jualannya.
Dipasar itulah, Nikmat berjualan hampir 24 tahun lamanya. Lima belas tahun belakangan ini ia ditemani menantunya karena sang suami sudah berpulang ke rahmatullah. Nikmat sangat menyenangi pekerjaannya ini, namun kondisi Pasar Tanjungpantun yang sepi sempat membuat Nikmat ingin berhenti jualan. ''Kalau ada tempat lain ingin pindah jualan. Jika tidak ada, terpaksa berhenti jualan. Tapi kalau berhenti, saya masih punya kebutuhan lain. Memang anak akan kasih uang, tapi tidak puas lah kalau tidak cari sendiri,''kata Nikmat pada Batam Pos, Jumat (30/9) lalu di rumahnya.
Lima tahun belakangan ini pendapatan Nikmat memang menurun drastis. Yang paling parah justru satu tahun ini. Dulu pendapatan jualan bisa Rp6-7juta perhari. Tapi sekarang, hanya Rp300-500 ribu/hari. Bahkan wanita berkerudung ini mengaku sering nombok. ''Belanja Rp1 juta, dapat uangnya hanya Rp500 ribu. Untungnya tidak sampai hutang. Seperti hari ini, Jumat (30/9), tidak ada yang belanja. Pokoknya sepi. Pasar sudah seperti lapangan sepakbola saja,''kata Nikmat.
Apalagi sekarang tidak memasok sayuran dan sembako ke Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di Barelang. Makin berkuranglah pemasukkan Nikmat. Ia hanya berharap dari langganan juga pembeli eceran. Biasanya langganan Nikmat adalah orang kapal. Mereka belanja tidak setiap hari. Karena setiap kali datang belanja dalam jumlah besar untuk kebutuhan awak kapal selama beberapa hari. Sedangkan untuk pendapatan harian, yang diharapkan dari pembeli eceran saja. ''Tapi sekarang, satu persatu langganan orang kapal juga mulai ke pasar Toss 3000. Mereka bilang disana lebih murah. Padahal tidak juga,''kata Nikmat
Agar tak terlalu merugi, Nikmat mengurangi belanjaan sayur dan sembako. Sisa sayuran yang tidak laku, Nikmat memasukkannya kedalam kotak berisi es batu. Bagi Nikmat, 20 tahun lalu adalah zaman keemasan Jodoh. Dagangannya yang banyak selalu laris. Tak heran kalau ia bisa menunaikan ibadah haji hingga dua kali. Tapi kini, Nikmat tak terlalu berharap banyak, kondisi pasar Jodoh memang berubah. Ia rasakan sepi pembeli sejak angkutan umum (angkot) tidak lagi masuk ke depan pasar. Ada Jodoh Boulevard yang membuat akses masuk ke arah pasar tidak ada lagi. ''Mau parkir saja susah. Dulu sewaktu pemilihan walikota, kami sempat dijanjikan Jodoh Boulevard itu akan dibongkar untuk jalan masuk kendaraan lagi. Tapi karena tidak terpilih, janji itu tak terwujud,''kata Nikmat sambil menyebutkan nama salah satu calon walikota tersebut.
Tak hanya Nikmat, Cece pemilik toko peralatan rumah tangga juga mengaku hal yang sama. Lima tahun belakangan ini ia merasa penjualannya menurun drastis. Dulu, kata Cece yang sudah berjualan puluhan tahun di depan Hotel Pelangi, uang tak pernah dihitung. ''Pokoknya langsung dimasukkan ke laci, tidak sempat hitung lagi. Karena pembeli lain sudah minta dilayani,''kata Cece yang tokonya tidak tertulis nama apapun.
Kamis siang itu, ditokonya ada dua orang pembeli. Yang satu sedang memilih karpet plastik. Yang satu lagi minta diambilkan kompor gas. Salah satunya adalah langganan Cece. Ketika membayar, langganannya itu minta dilihatkan bon nota yang lama. ''Aku bayar Rp500 ribu dulu,''kata wanita berlogat Medan itu.
Langganan seperti inilah yang menjadi konsumen tetap Cece. Semenjak sepi pembeli, Cece berharap dari langganan yang membeli dengan cara membayar dibelakang alias hutang.
Di toko sebelah Cece, seorang pembeli sedang membayar belanjaannya. Satu unit blender merek National dengan dua cup kaca dibelinya dengan harga Rp100 ribu saja. Blender itu sebelumya dijual koko, pemilik toko itu seharga Rp130 ribu. ''Harganya lebih murah, saya tadi lihat di brosur salah satu supermarket di mall, blender dengan merk tak terkenal saja juga dua tabung Rp145ribu,''kata Ani, yang tinggal di Legenda Malaka. Ia mengaku kebetulan sedang ada urusan di Jodoh, karena itu ia bisa sekalia belanja. Ani mengaku, sudah lama sekali tidak belanja ke Jodoh. Semenjak tinggal di Batam Center, ia memilih belanja ke pasar Mega Legenda. ''Paling harganya selisih Rp20 ribuan. Belum ongkosnya. Kalau dihitung-hitung sama saja lah,''kata ibu rumah tangga dengan dua anak ini.
Yayuk, penjual nasi lemak dan soto medan di pasar Mega Legenda ini memang masih belanja di pasar Tanjungpantun. ''Sekalian antar anak sekolah di Nagoya. Pulangnya sekalian belanja. Di pasar Tanjungpantun, harga cabe masih dapat Rp23ribu/kg. Dipasar Mega Legenda Rp26ribu. Memang masih murah belanja disana. Kalau untuk jualan lagi, masih mending belanja kesana,''kata Yayuk.***
Belum ke Batam Kalau Tak ke Tanjungpantun
Dulu Tanjungpantun terkenal di seluruh Batam. Bahkan ada ungkapan 'belum ke Batam kalau belum ke Tanjungpantun'. ''Wilayah ini sebenarnya telah ramai sejak tahun 1970-an hingga awal tahun 2000. Saat itu terdapat pasar kayu yang menjajakan aneka kebutuhan mulai dari makanan hingga pakaian. Saat tahun 1980-an, pasar kayu itu dipercantik dengan dibangunnya plaza Tanjung Pantun oleh PT Tanjung Pantun pimpinan Saman,''kenang Harsono, ketua Umum Perhimpunan Pengusaha Tanjungpantun (Hiptun) beberapa waktu lalu di kantornya komplek ruko Tanjungpantun, Jodoh.
Berbeda jauh dengan Kondisi Tanjung Pantun saat ini. Dulu, kata Harsono pedagang berjualan dengan tertib di tempatnya. Belum ada pedagang kaki lima (PKL) di luar toko seperti yang terlihat saat ini. "Bahkan dulu ada studio 21 di dalam plaza, karena orang ramai berjalan-jalan lalu nonton," paparnya.
Namun, sekitar tahun 2003, PT Tanjung Pantun tak lagi mengurusi pasar ini. Sejak itulah, kata Harsono, Tanjung Pantun mulai diserbu PKL. Akibatnya, kata Harsono, akses masuk ke dalam pasar maupun plaza tertutup oleh puluhan lapak PKL tersebut. "Bisnis di tempat tersebut akhirnya jatuh karena sepi," tegasnya.
Ketika mulai sepi itulah, lanjut Harsono, ada tawaran masuk dari pemerintah Propinsi untuk dibangun Jodoh Boulevard. Saat itu, ujar Harsono, Jodoh Boulevard akan dibangun menyerupai Bugis Junction di Singapura. "Tapi ternyata saya tertipu, Jodoh Boulevard yang disosialisasikan tahun 2007 lalu sangat berbeda dengan yang ada sekarang. Tanjungpantunpun makin sepi," sesalnya.
Banyaknya pilihan tempat berbelanja bukan menjadi penyebab Tanjungpantun ini sepi. Kata Harsono, penyebabnya hanya PKL saja dan tidak ada lagi akses jalan masuk ke pasar.
Harsono mengaku sudah menyampaikan keluhan pedagang pada Pemko. Ia berharap, apa yang disampaikan bisa segera dilaksanakan untuk membantu para pedagang yang ada di Tanjung Pantun. "Kami masih berharap, Tanjung Pantun bisa ramai lagi jika PKL direlokasi ke tempat yang semestinya," pungkasnya.(agn/cr10)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar