beranda

Selasa, 05 Juni 2012

Kisah Sedih Guru di Pulau Terpencil

Stres Sepekan di Cibia

JIWAKU terdiam; Kulikis senja dengan rindu, seiring duka dan nestapa, sementara...Nyiur di sebelah jiwaku terdiam memandang lentera malam yang enggan bersinar (Cibia 080810- Kepada jiwa-jiwa yang resah dan terimbas riak lautan).
Puisi itu dibuat Budi Iskandar di awal Agustus 2010. Tepat lima bulan Budi  bertugas di Pulau Pekajang. Pulau yang terletak di perbatasan Pulau Singkep dan Bangka di Selat Karimata. Di dalam kamar asrama guru di Pulau Pekajang, Budi menuliskan puisi itu. Kala itu jam di dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB. Tapi Budi belum merasakan kantuk. Yang ada hanya rasa rindu. Ia teringat istri dan anaknya di Purwokerto.
Lima bulan lalu, Budi meninggalkan keduanya. Saat itu Budi yang baru saja menerima SPT (Surat Perintah Tugas) dari Pemkab Lingga harus berangkat bersama rombongan guru lain. Budi adalah salah satu peserta tes CPNS yang lulus tes di Kabupaten Lingga.
Mantan guru di SMA Maha Body Tanjungbalai Karimun pun bertugas di pulau terpencil. Sabtu pekan kemarin Budi masih di Pekaka, Daik Lingga. Ia baru saja mengikuti tes kesehatan untuk memenuhi syarat untuk penerimaan SK PNS. ''Kami ditinggalkan pompong. Tak tahu kapan pompongnya datang. Karena tidak bisa menghubungi Kepala Desa di sana,'' kata Budi kepada Batam Pos via ponsel. Karena itu, Budi masih bertahan di Pekaka menunggu pompong tiba.
Sulitnya transportasi dan komunikasi di pulau yang sering disebut Cibia ini, membuat Budi tak berniat sedikitpun membawa istri dan anaknya. Ia ingat pertama kali saat berangkat ke Pulau Pekajang. Harusnya pompong itu berangkat pukul 20.00 WIB dari Pulau Mepar (didepan Tanjung Buton-Daik). Namun nakhoda membatalkan jadwal itu. Ia lihat di langit, petir membentuk garis horizontal. Tanda badai akan datang. ''Daripada di tengah laut dihantam badai, kita tunggu saja sampai reda. Nanti kalau petirnya vertikal. Kita bisa berangkat,'' kata nakhoda pompong. Tepat jam 22.00 WIB rombongan 8 orang guru baru itupun berangkat dengan pompong yang panjangnya 8 meter.
Waktu itu bulan Maret, untuk pertamakalinya Budi Iskandar berangkat bertugas ke Pekajang. Kurnia Widhi Astuti, istrinya dan Medina Nurul Luna, anaknya berumur 3 tahun ditinggalkan di Purwokerto. "Saya tidak mau ambil resiko. Transportasi saja susah. Perlu apa-apa harus ke Bangka. Belum lagi ombak yang tinggi. Pokoknya terisolasi banget dan berisiko,'' kata pria kelahiran Palembang 36 tahun lalu.
Budi yang biasa hidup di kota besar, mengaku selama satu minggu shock. ''Tidak saya saja, teman-teman lain juga stres. Biasanya saat kita datang di tempat baru, yang ada rasa senang, tapi ini tidak di Cibia (sebutan untuk pulau Pekajang),'' kata pria lulusan FKIP Bahasa  Inggris Universitas 11 Maret Surakarta Tahun 2002.
Pulau yang hanya berjarak 30 mil dari Pulau Belinyu (bagian dari Pulau Bangka dan Belitung) ini memang sangat terisolasi. Penduduk yang berjumlah 174 jiwa itu kebanyakan berasal dari  Dabo Singkep, Daik.dan sekitarnya. Pulaunya tak begitu luas. Jika berjalan santai dari satu titik pusat ke arah Barat hanya butuh waktu 10 menit saja. Demikian juga kerarah timur. Sedangkan jika berjalan ke arah utara/selatan butuh waktu 12 menit.
Untuk komunikasi hanya tergantung satu wartel yang ada di sana. Jika si pemilik wartel kehabisan pulsa, warga tidak bisa menelpon. Ponsel pun tidak bisa berfungsi karena tidak ada sinyal. ''Daerah ini sangat tergantung ke Bangka. Belanja lebih dekat ke Bangka. Sebab melihat letaknya, jauh lebih dekat ke Babel (Bangka-Belitung) cukup 3 jam perjalanan perahu motor. Sedang dengan induknya di Kepulauan Riau yaitu Kecamatan Lingga, diperlukan waktu hampir 10 jam,'' jelas Budi yang mengajar di kelas 3 SMA N 05 Satu Atap. Budi yang kerap menggandakan soal ujian memilih ke Bangka,  dengan menumpang nelayan yang akan menjual ikan.***


Andai Bisa Kurengkuh Bidadariku
Libur sekolah dan libur Idul Fitri menjadi waktu yang dinanti-nantikan Budi. Ia bisa menjenguk istri dan anaknya di Purwokerto. Teman-teman sesama guru juga pulang kampung halamannya di Pekanbaru dan Batam. Hanya satu orang guru perempuan yang pulang ke Daik.
Menurut Budi, rute perjalanannya paling lama dibandingkan teman-temannya. Pertama kali ia harus ke Belinyu (paling lama 5 jam kondisi ombak besar). Di Pangkal Pinang, Pulau Belinyu Budi harus menginap satu malam. Keesokan paginya melanjutkan perjalanan ke Mentok selama 3 jam. Dari Mentok, lanjut lagi ke Palembang dengan kapal cepat dengan lama perjalanan 3 jam. Dari Palembang, Budi menngunakan pesawat terbang ke Yogyakarta. Dan melanjutkan perjalanan darat lagi ke Purwokerto.
''Saat berkumpul dengan istri, anak dan ibu mertua, saya ceritakan kondisi disana. Resiko di laut yang tidak akan meninggalkan bekas apa-apa jika terjadi sesuatu. Kalau didarat, jenazahnyabisa di tes DNA, kalau di laut di makan ikan. Karena itu tolong diikhlaskan saja jika sampai terjadi sesuatu selama saya bertugas. Ini bagian dari jihad,'' kata Budi
Saat ini Budi baru menjalani satu tahun dari lima tahun masa kontrak. Ia berusaha meyakinkan istrinya berjauhan selama lima tahun adalah waktu yang sebentar. Padahal ketika ditanya Batam Pos, ia mengaku di Cibia terasa lama. ''Matahari terbenam disini saja lama sekali. Saya saja baru bisa tertidur jam 3 pagi,''kata pria yang selalu mengisi waktunya dengan membaca buku dan membuat puisi.
Di saat rindu memucak, Budi hanya bisa membuat puisi. Berikut beberapa bait puisi yang belum selesai dibuat Budi untuk dua orang yanng dicintainya. (..Andai dapat kurengkuh...dua bidadari itu berada dikeduabelah jiwaku...). (agn)

Dihisap, Lalu Dihempas Ombak
Perjuangan menuju Pekajang sungguh berat. Pompong yang ditumpangi Budi  nyaris tenngelam. Satu jam menjelang sampai, pompong kami dihantam ombak setinggi 3 meter. ''Pompong itu seperti dihisap ombak. Lalu dihempaskan ombak lagi. Untung saja nahkodanya paham kondisi saat itu. Ia mematikan mesin saat pompong diatas ombak. Dan dihidupkan lagi ketika pompong dihempas ke bawah, '' cerita Budi.
Untungnya kata Budi, kami masih dilindungi. Kami bisa merapat dengan selamat di pelabuhan bekas PT. Riau Tin Mining di Pekajang. Baju kami yang basah terkena air laut sudah kering  terkena matahari. Maklum saja pompong yang kami tumpangi tidak ada rumah-rumahannya. ''Jadi kalau matahari terik kepanasan. Basah kalau hujan dan ombak besar. Perjalanan kami dari Daik-Pekajang saja 10 jam. Selama perjalanan itu hanya laut lepas. Jika ada badai tidak ada tempat berlindung,''kata Budi.
Depresi karena kondisi alam berubah menjadi semangat. Itulah yang dirasakan Budi dan guru-guru di SD 022 dan SMP 05 Pekajang. ''Ketika melihat anak-anak di sini santun, cepat sekali membantu saat dimintai tolong dan cepat mengerjakan PR, saya jadi terenyuh dan makin semangat mengajar,''kata pria yang sedang menyiapkan 100 puisi sejak tahun 1989.
Budi berterus terang bahwa ada kegundahan di hatinya. Itu menyangkut siswa-siswinya di kelas 3 yang berjumlah enam orang.  ''Kemungkinan hanya 2 orang saja yang melanjutkan sekolah. Karena orangtua mereka punya pompong sendiri. Biasanya mereka akan diantar sekolah dengan pompong. Sedangkan yang lainnya berhenti sekolah dan hanya dirumah, atau membantu orangtuanya mencari ikan,''jelas Budi yang mengajar Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Sejarah dan Geografi. (agn)

Tidak ada komentar: