beranda

Selasa, 05 Juni 2012

Demi Anak-anak Pulau


Sejak pagi Adit (4), sudah minta pada Diah (18) ibunya agar dipakaikan baju berlengan panjang. Karena pagi ini waktunya mengaji lagi setelah libur dua minggu. Di mushola At Taqwa, tempat mengaji, tujuh temannya juga sudah terlihat. Mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki, walau sudah kumal, ngak maching dan robek. Seperti yang dikenakan Dogel (4) dan Pit (4). Anak-anak suku laut di Air Lingka, Kecamatan Galang ini tetap semangat sekali. Apalagi ketika diminta membaca doa sebelum dan sesudah makan, doa tidur, menyebut angka 1-5 dalam bahasa Idonesia dan Arab juga melantunkan Asmaul Husna (99 nama indah Allah) suara mereka lantang.
''Saya baru ngajari mereka dua minggu. Saya sempat libur tak ngajar dua minggu karena ikut pelatihan guru di TK Hangtuah seminggu,''kata Siti, wanita asal Betawi.
Pit, Adel, Aci, Mika, Apin, Adit, Ajeng juga Dogel yang menyemangati Siti untuk belajar hingga ke Batam. Karena itu, ketika Imbalo, pemilik sekolah Hangtuah di Bengkong menawarkan pelatihan menjadi guru TK, Siti pun berangkat.
Dari jembatan 6, ujung Jembatan Barelang, Siti berangkat dengan menumpang bus damri menuju Bengkong. Mengajar anak-anak bagi lulusan MTS di Jakarta ini adalah pengalaman pertamanya. ''Karena pak RT, saya mau. Di rumah juga tidak ada yang dikerjakan. Dua anak saya tinggal di pesantren Dapur 12. Saya hanya berdua saja di rumah dengan suami,''kata Siti yang baru tiga bulan tinggal di Air Lingka.

Air Lingka ini berada dalam kelurahan Galang Baru kecamatan Galang. Lokasinya setelah jembatan 6 atau Jembatan Raja Kecik, berbelok ke kiri. Sekitar 2 kilometer dari jalan raya akan terlihat perkampungan nelayan. Karena hampir 77 kk yang tinggal di Air Lingka menjadi nelayan. 6 KK diantaranya orang suku laut.

Kebanyakan ibu-ibunya juga mencari hasil laut. Seperti ibu Dogel, Apin juga Mika, pagi itu tak mengantar anak-anaknya mengaji hanya kakaknya saja yang datang. '' Mamak lagi pasang Bento (perangkap kepiting),''kata Dogel Apin juga Mika.

''Kalau mamak aku lagi kerja di dapur arang,'' Pit dan Ci.

''Bapak aku tak ke laut, tapi sekarang nebang kayu di hutan,''kata Mika menimpali omongan temannya.

Sebenarnya Siti sudah datang ke Batam sejak tahun 1999. Sejak Mardi (42), suaminya di PHK dari perusahaan percetakan di Jakarta, mereka langsung ke Batam. Di Batam, Siti diajak suaminya tinggal di Sungai Pruat. ''Tak terasa tiga tahun juga kami tinggal di tengah hutan. Suami saya diminta jaga ladang orang. Kami disuruh kelola lahan itu. Karena anak mulai sekolah, akhirnya pindah ke Kampung Tengah. Kalau di Sungai Pruat, setiap air laut surut, perahu tak bisa keluar. Anak-anak sering kesulitan kalau mau sekolah. Kadang harus mendorong perahu sampai jauh,''cerita Siti ketika di temui Batam Pos, Senin (19/3) di mushola At Taqwa, Air Lingka.

Dua belas tahun juga, Siti dan keluarganya tinggal di Kampung Tengah, Kecamatan Galang Baru. Di kampung ini, suaminya diminta mengelola genset dan pasang instalasi listrik. Tapi di kampung Tengah itu, mereka belum punya rumah sendiri. Sedangkan di Air Lingka, suaminya sudah membeli sebidang tanah untuk rumah mereka di tepi laut, itulah yang membuat Siti akhirnya pindah. Tanah di atas laut itu dibeli suaminya seharga Rp5juta.

Kini setiap pagi, pukul 09.00 hingga 11.00 WIB, Siti pasti ada di mushola. Dua meja kayu di tatanya berhadapan. Meja yang ukurannya tak sampai semeter itu digunakan delapan muridnya. Pit, Adel. Ci juga Mika duduk di depan satu meja. Sedangkan Apin, Adit, Ajeng dan Dogel di meja lainnya.

Siang itu, Imbalo datang membawakan sepuluh kursi plastik yang diambilnya dari TK Hangtuah untuk Siti. Ia juga memberi uang Rp 300 ribu pada Mardi, suami Siti untuk membuatkan meja baru yang lebih tinggi hingga dapat digunakan sambil duduk di kursi.

Melihat kursi-kursi plastik itu, Apin juga Dogel tak sabaran ingin duduk. Ketika Imbalo minta mereka duduk, untuk mengukur tinggi meja. Kedua bocah ini langsung lari berebutan. ''Sudah dulu duduk ya. Nanti kalau mejanya sudah dibuatkan pakde (panggilan untuk suami Siti), boleh duduk pakai kursi,''kata Siti yang juga dipanggil bude oleh siswanya.

Tak hanya itu, Imbalo juga membawakan sepuluh buku Iqro, satu kotak pensil, satu lusin buku tulis, penghapus, juga satu kotak pulpen. ''Kalau alat-alat tulis ini saya ambil dari minimarket saya. Buku-buku ini untuk dijual lagi,''kata Imbalo yang ingin nantinya Siti bisa mandiri dari modal pertama ini.

Imbalo juga memberikan beberapa lembar formulir pendaftaran siswa baru untuk Siti. ''Tolong di fotokopi formulir ini. Jadi setiap murid baru harus mengisi data-data ini. Mulai juga menetapkan biaya sekolah. Biayanya terserah. Kalau pakai seragam juga boleh. Nanti semua terserah Siti,''kata Imbalo yang ingin anak-anak pulau juga bisa sekolah.

Ketika asyik berbincang, masuklah dua orang wanita berkerudung. Mereka baru saja tiba dari Teluk Nipah. Menggunakan boat, Ema datang bersama suami dan saudaranya yang membawa 2 anak yang salah satunya adalah murid Ema. Tempat tinggal Ema itu berjarak sekitar 4 mil dari Kampung Baru, Kecamatan Galang Baru. Atau sekitar 20 menit sampai ke Air Lingka.

Ema sama dengan Siti. Ema sangat diharapkan Imbalo menjadi guru Paud di pulau terpencil itu. Ia juga sudah ikut pelatihan di Batam. Namun Ema belum tuntas. ''Baru tiga hari pelatihan saya pulang. Karena saya harus nagih uang listrik ke warga,''kata Ema yang hanya lulusan SD.

Di Pulau tempat tinggal kami, kata Ema, banyak orang suku Laut. Sudah 20 tahunan juga mereka bermukim disitu. Ada sekitar 30an kepala keluarga yang tinggal disitu. Hanya sekitar 12 kepala keluarga saja yang beragama Islam.

Di pulau itu juga Imbalo telah mendirikan mushola. Dari Abdullah pria tua asal Flores yang matanya sudah tak bisa melihat lagi inilah, Imbalo mendapat sebidang tanah yang kemudian dibangun mushola bernama Taqwa. Abdullah yang berusia 70 tahun ini sudah berpuluh tahun menetap disana,ia yang mewakafkan sebidang  tanahnya untuk  sebuah mushala kecil.

Anak-anak suku Laut yang muslim telah dapat belajar mengaji. Ema lah yang mengajarkan mereka. ''Sejak ada guru mengaji dan mushola, anak-anak tidak lagi harus nyebrang ke pulau Nanga berciau. Kalau hari hujan dan gelombang, susah nak menyeberang laut. Tapi kalau sekolah SD masih harus nyeberang ke Pulau Sembur. Biaya pompongnya satu bulan Rp30 ribu,''kata Ema ibu dari dua anak ini.

Nanti kalau sudah ada Paud disini, kata Ema, anak-anak kecil sudah bisa belajar. ''Sekarang murid saya sudah ada 7 orang, kebanyakan anak-anak tak sekolah,''kata Ema. Hal yang sama juga diakui Siti, niatnya ingin menanamkan pendidikan agama sejak usia dini.

''Kalau sudah besar akan sulit mengubah mereka. Saya mengalami sendiri bagaimana mendidik anak-anak jalanan yang dititipkan bu Sri Soedarsono ke sekolah Hangtuah. Sehari masuk sekolah, besok sudah ngak ada, ada yang balik lagi ngelem, bahkan ada yang mati karena overdosis,''kata Imbalo miris.

Makanya, kata Imbalo, ia tak ingin anak-anak pulau menjadi rusak sebelum waktunya. Pengaruh judi masih kuat di pulau. Seperti di Air Lingka, tempat Siti tinggal. Setiap hari ada saja pria-pria bermotor datang ke pulau sambil membawa karcis mendatangi rumah-rumah diatas laut itu. Setiap kali mendatangi rumah warga, mereka terlihat membayarkan uang yang nilainya beragam. Besaran uangnya sesuai angka yang dipasang.

Di Kampung Baru, kelurahan Subang Emas Rempang Cate, judi-judi berkedok mainan terlihat menyolok. Di salah satu kedai yang agak besar dekat pelantar, tertempel satu set kertas coklat yang dilipat-lipat. Harga satu lipatan kertas itu Rp500. Di setiap kertas tertulis hadiah yang bisa didapat.''Kemarin ada yang beli Rp12.500, dapat hape cina baru,''kata pemilik kedai.

Anak-anak juga bisa membeli tebak hadiah itu. Asalkan punya uang. Di pulau seperti ini, anak-anak justru mudah mendapatkan uang. Dengan mencari gonggong, sekilo saja sudah dapat uang Rp10 ribu.

Seperti sore itu, tiga anak perempuan, masing-masing membawa gonggong dalam kantong plastik. Mereka menyusuri laut yang surut di bawah rumah-rumah panggung. Walau airnya tak terlalu jernih, ketiga anak perempuan itu bisa melihat gonggong yang tergeletak di dasar laut.

Kampung Baru, siang itu tampak lenggang. Karena kebanyakan warganya bekerja sebagai nelayan. Sore sekitar pukul 5, mereka baru kembali melaut. Yang terlihat hanya empat pemuda yang asyik bermain domino. Sedangkan puluhan anak bermain di sekitar kampung itu. Diantara anak-anak itu ada yang membawa termos es. Namanya Nurbaiti. Ia disuruh ibunya berjualan es. Sesekali ia main, termos itu dibiarkan begitu saja. Ketika ada yang mengambil es, ia buru-buru mendatangi pembelinya. Setiap hari sepulang sekolah Nurbaiti menjajakan esnya. Kemarin esnya tinggal 3 buah lagi, dari 19 es yang dibawa.

Kampung Baru adalah tempat tinggal Kamisah. Wanita ini juga menjadi harapan Imbalo menjadi pendidik di pulau itu. Ibu tiga putra ini memang sangat ingin bisa mengajar. Ketika pelatihan guru di TK Hangtuah beberapa waktu lalu, ia membawa Abu Azwansyah, putra bungsunya yang masih berusia 10 bulan.

Sambil belajar, Kamisah menyusui putranya itu. Ketika Abu tertidur, diletakkanya di lantai yang sudah diberi bantalan kursi. Begitu anaknya terbangun, Kamisah kembali mengambil anaknya, dan belajar lagi. Tapi sayang, baru tiga hari belajar, putra bungsunya ini demam tinggi. Setelah dibawa kerumah sakit, dan Imbalo yang membayarkan semua biaya berobat, Kamisah minta pulang.

Senin (19/3) kemarin, Batam Pos bersama Imbalo mendatangi Kamisah di pondoknya yang kecil di Kampung baru. Kampung Baru adalah pulau kecil yang terletak di seberang Tebing Tinggi. Tebing tinggi berada di jembatan 4 Barelang. Untuk sampai ke Kampung Baru, biasanya warga menumpang sampan yang akan pulang ke Kampung Baru. Seperti kemarin, kami menumpang sampan milik seorang warga yang baru saja menjual kepiting ke toke ikan di Tebing Tinggi.

Saat kami datang, Kamisah tampak segar. Wajahnya baru saja dibedaki. Ia juga tampil lebih bersih dibandingkan saat bertemu di Bengkong ketika ikut pelatihan. Dua anak laki-lakinya pun sudah dipakaikan baju koko hijau yang juga seragam sekolah. Sedangkan  seorang bocah perempuan bergelayut pada seorang wanita yang bersongkok.

Tiga bocah inilah, yang menjadi murid Kamisah. Dua diantaranya anaknya sendiri, yaitu (9) dan Arif (7), sedangkan Putriyanti (9), anak tetangganya.

Memang terlihat menyolok, belasan anak usia sekolah dasar yang ada di Kampung Baru itu, tidak mau ikut mengaji. Mereka lebih suka bermain setelah pulang sekolah. Bahkan ada juga yang berjualan es lilin. Sedangkan anak-anak lain memilih mencari gonggong untuk dijual lagi.

Di depan pondoknya kecil, Kamisah sibuk mengirim sms pada pak RT, ia hendak memberitahu kedatangan kami. Namun yang ditelpon sudah terlanjur melaut. Akhirnya kami diterima Amin, pak RW Kampung Baru.

Kamisah lalu menunjukkan ruang belajar yang ada dibagian depan pondok kecil miliknya itu. ''Disini saya ajari anak-anak. Walau tempatnya seadanya saja. Tapi yang penting anak-anak mengerti dengan yang saya ajarkan,''kata Kamisah yang lahir di Kampung Baru ini.

Budiman, putra pertamanya sudah mulai belajar Alquran. Sedangkan Arif dan Putri baru mulai belajar Iqro 1. ''Kalau nanti tak ada yang daftar tak apa ya pak. Saya takut mereka tak mau kalo disuruh bayar,''keluh Kamisah.

''Kau ini belum pede. Wajarnya saja, karena kau belum belajar semuanya. Baru tiga hari sudah minta balek. Bagaimana kau mau meyakinkan orangtua murid kalau kau bisa mengajar,''kata Imbalo menyindir Kamisah yang tersenyum tersipu-sipu.

Ketentuan membayar uang sekolah sengaja diajarkan Imbalo pada calon-calon guru anak-anak pulau ini. ''Tak mungkin lah mereka tak bisa bayar. Beli pulsa saja bisa, apalagi main judi,''kata Imbalo.  Aturan membayar ini ditegaskan Imbalo supaya para orangtua ikut peduli. Karena biasanya kalau digratiskan tidak ada tangungjawab. Anak-anak pun sesuka hati, hari ini masuk, besok absen.

Kamisah juga mendapat jatah kursi kecil dan peralatan tulis yang dibawa Imbalo dari Bengkong. ''Kalau ada kursi, belajarnya harus diluar rumah aja. Ngak cukup kalau di dalam rumah,''kata Kamisah.

"Saya mau belajar lagi pak. Tapi  bisa tak diantar dan dijemput. Saya tak berani keluar sendirian. Suami saya kerja pak, tak ada yang antar sampai Bengkong,''bujuk Kamisah pada Imbalo yang mulai marah. 

Dengan suara keras ia menganjurkan Kamisah tidak usah belajar lagi. ''Saya tidak suka orang manja-manja,''timpal Imbalo yang ingin mengajarkan tanggungjawab pada guru-guru untuk anak pulau.

Kamisah yang diomeli seperti itu hanya tersenyum. Kamisah mengaku, masih ingin belajar lagi, namun berbagai keterbatasan membuat dirinya agak sulit ke Bengkong. Putra bungsunya harus diajak lagi, karena anaknya ini masih menyusui. Selain itu, jarak yang jauh, membuat Kamisah takut. Suaminya yang bekerja di tambak lele, jarang pulang. Dan tidak bisa diharapkan untuk mengantar da menjemput Kamisah.

Selain itu, Kamisah juga merasa dirinya belum begitu mampu meyakinkan orangtua siswa bahwa dirinya bisa mengajar. ''Sepertinya saya masih harus terus belajar. Minimal anak saya dulu lah yang pintar. Nanti efeknya akan ada,''kata Kamisah.
****


''Saya paling tak tahan lihat anak yang menangis karena ingin sekolah tapi orangtuanya tak mampu,''kata Imbalo.

Inilah yang melatar belakangi Imbalo, membuat sekolah Hangtuah di Bengkong. Ia ingin membantu keluarga-keluarga tidak mampu menyekolahkan anaknya.

Selain itu ia juga sagat terinspirasi ibu kandungnya yang suka menolong anak-anak tak mampu.

Sejak pensiun dari PT Pertamina, Imbalo pun makin fokus mewujudkan keinginannya. Ia datangi satu pulau ke pulau lain, tujuannya ingin lihat kwalitas pendidikan di pulau-pulau terpencil itu.

Hingga terfikir olehnya untuk memberdayakan wanita-wanita yang ada di pulau untuk mengajar mengaji, fikih, baca tulis dan berhitung. Melalui RT dan RW, Imbalo menyampaikan informasi itu.

Hingga didapatlah rombongan pertama, Ema, Kamisah, Bainon dan Syarifah. Menyusul kemudian Siti. Sejak Senin hingga Sabtu, mereka ini ditempa ilmu-ilmu mengajar untuk anak-anak TK.

Selama satu minggu itu juga, calon guru-guru di pulau ini diinapkan di ruko Imbalo. Makan juga ditanggung Imbalo.
Seluruh biaya juga dibayarkan Imbalo. ''Saya ingin nantinya mereka juga bisa mandiri. Alat-alat tulis ini bisa dijual ke siswa. Saya yakin pasti banyak yang beli, karena harganya lebih murah. Saya beri modal pertama, tolong dikembangkan, begitu kata Imbalo pada Kamisah.***

Tidak ada komentar: