beranda
Senin, 11 Juni 2012
Ketika Harus Memilih Jadi Ibu Rumah Tangga Setelah Pernah Bekerja
Emosi Mudah Meledak, Tapi Ada yang Suka
Ternyata sulit juga jadi ibu rumah tangga disaat lagi semangat-semangatnya bekerja. Apa saja sih reaksi ketika harus memilih di rumah?
Biasanya pagi-pagi sekali Cika sudah rapi. Mengenakan baju seragam salah satu maskapai penerbangan dan berangkat ke kantornya di Palm spring, Batam Center. Karena harus masuk kantor pukul 07.00 WIB, Cika tidak pernah masak dan putra bungsunya dibawa ke penitipan. Ia dan Arifin, suaminya bekerja dari pagi hingga sore hari, karena tidak ada yang bisa menjaga anaknya, si sulung Aweng, di titipkan ke tempat mbahnya di Jawa. Sedangkan adiknya, tetap di Batam.
Namun rutinitas itu kini tak ada lagi. Sudah hampir lima bulan Cika hanya di rumah saja. Sejak bangun pagi, ia sudah terlihat membereskan rumah dan sibuk di dapur. Apalagi ketika si kecil sudah bangun dari tidurnya, kesibukan Cika makin bertambah. ''Awal-awal saya stres berat. Maklum saja tiga belas tahun jadi wanita karir. Trus, tiba-tiba harus di rumah ngurus anak, suami juga rumah. Saya sampai ngak tau apa yang harus saya lakukan. Suami saya sering kena omel. Saya jadi mudah emosi. Pernah suatu kali, suami bilang kalo masakan saya keasinan. Rasanya waktu itu kesal banget, sayur yang baru saya masak tadi langsung saya buang,''kata Cika.
Cika mengakui, pekerjaan ibu rumah tangga itu memang tidak mudah. Ia yang biasa menghadapi tekanan pekerjaan di kantor, merasa beban stres di rumah lebih besar. Cika mengaku lebih mudah tersinggung dan marah. ''Bisa jadi karena kondisi ini tiba-tiba dan bukan dari kemauan saya untuk jadi ibu rumah tangga. Yah maklum saja ketika kabar maskapai penerbangan Mandala bangkrut, dan karyawannya di rumahkan, saya sempat shock. Karena saya masih ingin kerja, saya masih ingin beraktivitas di luar,''kata Cika lagi.
Tapi sejalan dengan waktu, kini Cika mulai menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga. Ia bisa melihat sendiri perkembangan buah hatinya. Suaminya juga memberi kegiatan dengan bisnis online di rumah. Dan yang membuat Cika makin girang, ketika ia mendengar kabar, bulan Desember mendatang, ia akan bekerja kembali. ''Saya sudah tidak sabar ingin kerja lagi. Tapi saya juga khawatir, karena anak saya sudah biasa dengan mamanya, apa dia mau dititipkan lagi?,''kata Cika.
Pengalaman berbeda dirasakan Dhiana (41). Walau seorang sarjana dari Institut Pertanian Bogor (IPB), ia mantap memilih menjadi ibu rumah tangga. Sejak kelahiran dua anaknya, Sheila dan Ikra, Dhiana berhenti beraktivitas di luar rumah. Ia mengaku ingin mengurus sendiri anak-anaknya. ''Saya kok ngak tega saja kalau anak-anak dengan orang lain. Kalau dijaga nenek atau saudara, saya masih berani bekerja. Tapi karena neneknya tidak di Batam, saya harus memilih di rumah saja,''kata Dhiana.
Dhiana juga mengaku, pekerjaan ibu rumah tangga itu memang melelahkan dan sering membuat stres. ''Kalau capek dan marah itu biasa. Tapi nanti reda sendiri. Karena ini pilihan saya, tentu saya nikmati. Tidak terlalu membuat saya tertekan atau stres berat. Bahkan saya bersyukur bisa lihat perkembangan anak-anak,''kata wanita kelahiran Manggar, Belitung.
Dari hasil ketekunan dan kesabaran Dhiana mendidik dua buah hatinya, mereka menjadi pelajar yang berprestasi. Sheila, putri sulungnya yang kini sudah duduk di kelas 1 SMP berhasil lulus SD dengan peringkat tertinggi no 2 se Kepri. Sedangkan Ikra, putra bungsunya, juara tiga di kelasnya.
Menurut Faza, S.Psi, Cht, CHRM, seorang trainer dan conselor di Batam, setiap orang akan memiliki reaksi yang berbeda ketika dihadapkan pada situasi yang sama. Wanita karir atau wanita yang sudah biasa bekerja di kantoran kemudian karena sesuatu hal kemudian tidak bekerja lagi, baik karena alasan yang tidak diinginkan (PHK, sakit keras yang berkelanjutan) akan bereaksi berbeda dengan kondisi yang telah difikirkan dengan matang (resign karena hamil atau punya anak, fokus pada keluarga, ikut suami pindah tugas luar kota atau ingin mengembangkan bisnis keluarga dll.
''Beberapa dampak psikologis yang biasa muncul setelah tidak bekerja ada yang berefek negatif. Seperti menarik diri dari lingkungan, sensitif dan mudah tersinggung. Kalau yang positif, biasanya rasa bahagia karena lebih banyak waktu luang bersama keluarga dan bisa mengurus keluarga. Selain itu dapat bersosialisasi dengan lingkungan seperti ikut ikut arisan atau pengajian dll,''kata wanita yang pernah kuliah di jurusan psikologi Universitas Islam Indonesia
Reaksi positif dan negatif ini kata Faza, bisa muncul pada diri seseorang bergantung pada proses penerimaan seseorang terhadap masalah yang dihadapinya. Ketika seseorang menerima dengan ikhlas maka ia akan bereaksi positif, namun ketika secara tidak sadar kita melakukan penolakan terhadap masalah yang dihadapi, maka reaksi negatif akan muncul.
''Kehilangan jabatan atau pekerjaan kantor bukanlah akhir segalanya. Kita harus dapat memotivasi diri kita untuk dapat berkarya sehingga hidup kita tetap bermanfaat untuk lingkungan terutama lingkungan terdekat kita yaitu keluarga,''kata Faza.
Faza merasa yakin banyak pengalaman dan contoh kasus seperti ini, dengan bekal ilmu dan pengalaman kerja yang ada serta dukungan keluarga, wanita yang tidak bekerja di kantor tetap bisa menjalani hidup bersama keluarga dengan menyenangkan.
Bahkan tambah Faza lagi, sekarang banyak bisnis yang dapat dilakukan dari rumah seperti bisnis online. Selain tetap beraktivitas dapat menjalin relasi yang luas serta mendapat tambahan financial. ***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar