beranda
Minggu, 15 Mei 2011
Puas Seorang Diri Mengarungi Samudra
Fazham Fadlil, Pelaut Perahu Layar
Sendirian di tengah laut membuat dirinya puas. Padahal tantangannya sangat besar. Ia harus bisa mengendalikan perahu dari terjangan angin topan juga ombak ganas.
Malam itu gelap gulita ditengah lautan Atlantik. Fadlil masih terlelap dalam tidurnya. Ia meringkuk di salah satu ruangan kecil yang ada di depan perahu layarnya. Namun tiba-tiba tubuhnya bergoncang. Ia pun bergegas bangkit. Dengan susah payah ia keluar dari ruangan itu. Perahu makin bergoyang kencang akibat dihantam ombak dan angin topan. Tangannya pun meraba-raba mencari sesuatu.
Dengan sigap ia langsung menemukan sesuatu yang dicarinya. ''Saya harus hafal letak semua tali dan semua peralatan perahu layar. Karena dalam kondisi gelap gulita
dan genting seperti ini kita harus cepat melakukan sesuatu. Jika terlambat sedikit saja. Perahu bisa terbalik karena digulung ombak, '' kata pria berusia 60 tahun itu kepada Batam Pos saat kapalnya bersandar di Nongsa Point, dua pekan lalu.
Pengalaman seperti itu tak pernah membuat pria yang kelahiran Singapura ini kapok. Bahkan ia terus berlayar. Apalagi sejak seorang temannya meminjamkan perahu layar buatan California, Amerika Serikat. Lelaki yang mahir membawa kapal layar ini makin getol mengarungi samudra. Bahkan tak lama lagi ia akan melakukan ekspedisi layar dari Sabang sampai Merauke. Jarak yang akan ditempuh pria yang besar di Pulau Puluh ini sekitar 6.000 mil atau sekitar 12.000 km.
Fadlil mengaku tak pernah merasa takut jika hidupnya berakhir di tengah samudra. Ia justru merasakan kebesaran Allah dari hobinya ini. ''Saya menjadi lebih intropeksi diri. Di tengah laut yang begitu luas, seorang diri lagi. Jika Allah berkehendak. Habislah sudah, '' kata Fadlil.
Walau di tengah samudra, Fadlil tak pernah melewatkan waktu sholat. Pria yang sudah menunaikan ibadah haji tahun 1998 ini tetap melakukan sholat lima waktu walau hanya duduk. Ia mengaku justru menemukan ketenangan saat ada di tengah laut.
Kala di Nongsa Point Marina, Fadlil sedang duduk di atas perahu layar. Ia sedang memperhatikan seorang teman yang sedang memperbaiki onderdil perahu layarnya. ''Kalau memperbaiki onderdil saya tidak bisa. Saya hanya bisa merawat saja. Semua alat-alat di dalam perahu layar ini harganya mahal. Seperti kemudi otomotis ini harganya 75 juta,'' kata pria yang besar di besar di Pulau Buluh.
Perahu layar dengan panjang 9 meter ini dibeli oleh Francis Lee, sabahat Fadlil yang merupakan warga Singapura. Ia membelinya dengan harga 600 juta. Perahu buatan tahun 1994 ini terbuat dari fiberglass dan sangat modern. Kemudi otomatis menjadi perangkat paling penting untuk pelayaran seorang diri.
Selain itu ada juga alat-alat navigasi seperti GPS, Chartplotter, tidak ketinggalan radar. Perahu ini juga dilengkapi alat keselamatan modern seperti EPIRB, PLB dan alat komunikasi satelit (Iridium system).
Ekspedisi layar ini mengandalkan tenaga angin. Sedangkan tenaga surya digunakan untuk pembangkit listrik. Semua alat elektronik ini bisa digunakan dari tenaga surya ini.
Fadlil pernah memiliki perahu layar sendiri. Ia beli perahu itu seharga 50.000 US$ tahun 1991 saat masih tinggal di Amerika Serikat. Panjangnya 41 kaki. Dengan perahu layar itulah Fadlil berlayar mengelilingi samudra Atlantik, berlayar dari New York ke Panama, lalu dari Panama ke Bali, ikut arung Samudera mewakili Provinsi Riau dan melayari perairan Indonesia, Malaysia dan Thailand.
Selama berlayar seorang diri itulah, Fadlil penah merasakan situasi yang sulit. ''Saat badai, gelombang besar dan ganas. Saat itu juga angin topan datang. Semua alat sudah digunakan. Tapi tidak juga menyelesaikan problem yang ada di perahu. Saya tak berdaya lagi. Karena sudah melakukan segala hal tapi tak bisa dipecahkan. Dari situlah saya pasrah dan belajar bahwa kita harus rendah diri dengan alam,'' kenang pria lulusan Akademi Perhotelan Nasional.
Hipypotermia atau kedinginan pernah dialami Fadlil. Hipotermia adalah suatu keadaan di mana tubuh merasa sangat kedinginan. Kedinginan yang terlalu lama menyebabkan tubuh beku, pembuluh darah mengerut dan memutus aliran darah ke telinga, hidung, jari dan kaki. Saat itu seluruh jari Fadlil sudah membeku. '' Ia memutuskan tidak melanjutkan pelayaran dan kembali ke New York. Selama perjalanan pulang, Fadlil berusaha mengatasainya dengan mencelupkan jari-jaringa ke air hangat.
Hampir satu bulan lamanya jari-jari Fadlil tak bisa digerakkan,'' kata pria yang pernah bekerja sebagai dockmaster di Singapura dan Nongsa Point Marina Batam.
Sejak itu, Fadlil sempat mencari hobi yang aman. Ia memilih koleksi perangko. Tapi apa yang terjadi lima bulan kemudian. Ia kembali berlayar. Ia merasakan perahu itu sudah menjadi rumah keduanya. Ia tampak nyaman berada di dalam perahu layarnya. Ia juga asyik mendengarkan siaran radio. Kata Fadlil, saat berlayar ia juga suka membaca buku agama, novel juga non fiksi lainnya. Memang terlihat di dalam kapalnya deretan buku tertata rapi disisi kiri dek perahu.
Fadlil juga menceritakan kondisi di dalam perahu saat berlayar. Menurut bapak dari tiga anak ini, semua barang harus dalam kondisi terikat. Pintu kamar mandi juga harus diberi ganjal. Semua peralatan dapur juga harus diikat. Jika tidak semua barang itu akan beterbangan. Dan semua alat pelayaran harus diletakkan di tempatnya dan mudah diraih.
''Saya harus mengingat semua letaknya. Karena saat malam hari gelap. Dan tidak ada waktu untuk mencarinya jika sewaktu-waktu terjadi badai, '' kata Fadlil yang pernah bekerja sebagai pelayan di kapal pesiar. ***
Dari Kecil Menyeberang ke Singapura
Fadlil kecil sudah terbiasa mengarungi laut. Ia ingat saat masih kecil bersama ayahnya, ke Singapura dengan mendayung sampan. Ia juga suka mengeliligi pulau Buluh. Laut-laut di sekitar pulau Buluh adalah laut dangkal. Pulau Buluh terletak di Kecamatan Bulang. Batas wilayah Kelurahan Pulau Buluh di sebelah utara adalah Kelurahan Tanjung Uncang, di sebelah selatan adalah Batu Legong, di sebelah barat adalah Kelurahan Bulang Lintang, dan di sebelah timur adalah Kelurahan Sei Binti.
Fadlil mengaku sangat menikmati petualangannya di laut. Ia ingin suatu saat dapat berkeliling dunia. Dan mimpi itu mulai menjadi kenyataan ketika Fadlil menjadi pelayan di sebuah kapal pesiar tahun 1972. Selama tiga tahun berlayar, Fadlil bisa mengunjungi Amerika. Tapi akhirnya Fadlil mulai bosan.
Ia kemudian memilih menetap di New York, Amerika Serikat dari tahun 1974 hingga 1995. Di negara bagian Amerika Serikat ini, Fadlil belajar pelayaran. Ia juga tertaik memperdalam kaligrafi barat.
Sejak mengetahui ilmu pelayaran itulah, Fadlil makin berani berlayar. Ia pernah melakukan pelayaran di Long Island Sound. Yaitu sebuah muara di Samudra Atlantik, yang terletak di Amerika Serikat.
Kemudian menyusuri New York Harbor yaitu Sungai Hudson yang berakhir di Teluk New York. Fadlil juga sudah melakukan pelayaran lepas pantai dari San Francisco ke Oregon Coast.Melihat anaknya sangat ketagihan berlayar. Membuat ibunda Fadlil cemas. Ia memaksa anaknya menjual perahu layarnya agar tidak bisa berlayar lagi. Fadlil pun menuruti kemauan ibunda. Ia akhirnya bekerja sebagai konsultan pelayaran di Raffles Marina Singapura. Tapi kini, Fadlil tak bisa lagi membendung keinginannya untuk berlayar lagi setelah dipinjami perahu layar. ''Saya hanya mohon pengertian pada anak dan istri untuk mendukung hobi saya ini,'' kata Fadlil menutup pembicaraan. (agn)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar