Gunawan, Mahasiswa Indonesia di Singapura
Berawal dari hobi ia merambah berbagai usaha. Di usia 20 tahun bisnisnya sudah berkembang dari Medan sampai ke Singapura.
Suatu hari, Tina makan siang bersama Charles di sebuah rumah makan. Seorang wanita, Angel tiba-tiba datang ke tempat itu untuk membeli makanan. Dia terkejut melihat Tina dan Charles yang
sedang makan bersama dan sangat dekat. Dia mengira Tina telah diam-diam merebut Charles darinya. Ketika Tina pulang ke rumah, Angel marah dengan Tina dan menuduh Tina adalah seorang pengkhianat persaudaraan. Karena sebuah rasa sakit yang sangat dalam dan demi kebahagiaan Angel, dia rela memutuskan Charles agar Charles dapat bersama Angel. Kemudian, Tina pun meninggalkan rumah itu untuk selamanya.
Cuplikan film kisah cinta diputar Gunawan dari layar laptop di ruang meeting Batam Pos Entrepreneur School di lantai 9 Gedung Graha Pena Batam Center, beberapa waktu lalu. Gunawan memperkenalkan sebelum mempresentasikan bisnis organizernya.
Di usianya masih muda, yakni 20 tahun, Gunawan sudah mahir bikin film. Kehobiannya itulah yang membuat dia melambung. Kini Indievor atau Independent event organizer adalah nama EO miliknya yang sudah sangat dikenal di Medan dan Singapura.
Mahasiswa Singapore Institute of Management (SIM) ini juga memperlihatkan cuplikan film yang diberi judul Necklace of Friendship. '' Ini film pertama saya. Saya yang mensutradarainya. Saya buat bersama teman-teman saat libur semester. Kira-kira tahun 2008. Dengan perlengkapan seadanya,'' kenang Ketua Umum Komunitas Independent Movie Maker Medan.
Sebuah film pendek berdurasi 30 menit ini menceritakan tentang persahabatan dua orang saudara yang jatuh cinta kepada laki – laki yang sama. Bermodalkan handycam dan uang 300 ribu, Gunawan bersama delapan orang temannya membuat film. ''Semuanya berlatar belakang hobi. Ada yang suka fashion jadi penata busana, pinter dandan ditugasi sebagai penata rias. Begitu juga dengan saya yang suka seni teater dan sastra, '' kata mahasiswa Bisnis Manajemen SIM di Singapura.
Gunawan juga menceritakan proses syuting yang dilakukan selama 2 minggu berturut-turut. Dimulai dari pukul 6 pagi sampai 9 malam di rumah salah satu teman yang juga salah satu pemeran. Walau film hanya menjadi koleksi pribadi namun telah menjadi cikal bakal bisnis event organizer milik Gunawan.
Di Singapura, Gunawan dipercaya menyelenggarakan berbagai acara termasuk pertunjukkan seni. Ia pernah ditunjuk sebagai Manajer proyek Festival Seni SIM di Singapura tahun 2010. Ia juga menjadi Chief Programmer untuk Arisan Tempo Doeloe, Perhimpunan Pelajar Indonesia Singapura. Tak hanya itu, Gunawan juga menjadi Event Services Supervisor untuk acara Singapore Youth Olympic Games 2010. Liaison Officer (LO) untuk acara Enchanting Indonesia – Kedutaan Besar Republik Indonesia juga pernah dipegang Gunawan. ''Saya dibayar untuk membuatkan konsep acara atau membuat video pagelaran musiknya,'' kata Gunawan yang pernah mendapat beasiswa membuat film.
Walau kuliah di Singapura, usaha EO Gunawan di Medan tetap berjalan. Saat libur akhir pekan, Gunawan pasti pulang ke Medan. Di kota kelahirannya itu, Gunawan rutin menggelar seminar. Sekitar tahun 2009, Gunawan mengundang sutradara '' Hantu Jeruk Purut'' Antoni Hutapea untuk hadir dalam seminar. Bahkan anak sulung dari tiga bersaudara ini juga menggelar audisi. Mereka menjaring siapapun yang berbakat. ''Saya memang tidak memiliki kantor. Karena akan butuh biaya operasional. Caranya saya membayar tenaga yang diperlukan. Biayanya saya dapat dari pembayaran klien,'' kata penyuka film drama.
Pemuda yang piawai membuat film dan seminar itu juga dipercaya membuat konsep marketing sebuah hotel di Malaysia. ''Kira-kira pertengahan tahun ini saya harus ke Johor Bahru. Saya diminta menjadi konsultan marketing. Saya perkirakan dua bulan sudah selesai membuat program pengembangan marketing hotel di sana, '' kata Gunawan lagi.
Setelah kontrak selesai, Gunawan akan bekerjasama dengan Batam Pos Entrepreneur School (BPES) melatih anak muda Batam untuk berbisnis. ''Mudah-mudahan akan bisa menjadi inspirasi bagi remaja Batam untuk mulai memiliki usaha sendiri. Ini akan menjadi awal pengembangan diri dan usaha saya di kota Batam, '' kata Gunawan di depan Lisya Anggraini, GM BPES. ***
Sejak Kecil Sudah Ketat
dengan Urusan Disiplin
Sejak kecil, Gunawan memang dididik dalam keluarga yang sangat disiplin. Ayahnya sampai memasukkan Gunawan ke SMAN 2 Hang Kesturi di Medan. ''Sekolah itu paling ketat untuk urusan kedisiplinan,'' kata Gunawan yang duduk di kelas IPS.
SD hingga SMP, Gunawan wajib les Bahasa Inggris, Mandarin juga pelajaran umum lainnya. Orangtuanya memang sangat memperhatikan pendidikan Gunawan juga adik-adiknya. Ia sudah dipersiapkan untuk sekolah ke luar negeri.
Berasal dari keluarga berada karena orangtuanya adalah pemilik toko kaca paling besar di Medan. Gunawan terbiasa dengan kondisi serba ada. Ia bisa melakukan apa saja karena uang tak pernah jadi masalah. Apapun kegiatan yang disukai Gunawan, selalu didukung orangtuanya. Di Singapura, Gunawan, pernah menjajal berbagai kegiatan. Ia pernah ikut kursus singkat menjadi pilot.
Walau kini sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Gunawan masih menerima uang kiriman dari orangtua. ''Katanya uang itu untuk saya simpan. Suatu saat akan saya perlukan. Selagi belum selesai kuliah, mereka masih bertanggungjawab, '' kata pria yang sedang melanjutkan S1 Bisnis Manajemen.
Di rumah, Gunawan juga diajarkan kedisiplinan. Apalagi saat makan bersama keluarga. Ia sangat paham etikanya.Ini dibuktikan kala Gunawan memperlakukan di meja makan ketika makan seafood di Kampung Melayu. Ia menawarkan nasi pada Lisa Anggraini, General Manajer BPES, orang yang paling tua di meja itu. Selanjutnya ia menawarkan nasi pada teman-teman dari BPES yang ikut pada jamuan makan siang itu.
Di saat makan, Gunawan tak pernah lupa menawarkan kepiting saos yang kebetulan berada dekat tempat duduknya. Diletakkannya sepiring kepiting saos ke tengah meja dan meminggirkan tisu yang ada di tengah meja. Diakui Gunawan, ia sangat menyukai seafood Batam. '' Saya sering kangen makan seafood di Batam. Rasanya enak sekali. Belum ada yang bisa menyaingi seafoodnya. Dulu saya sering makan seafood. Waktu itu masih tinggal di Nagoya bersama kakek. Tapi sejak kakek pindah , saya tidak pernah main ke sini, '' kata Gunawan yang pernah tinggal di Nagoya.
Pelajaran kedisiplinan itu, bagi Gunawan sangat bermanfaat bagi dirinya. Dalam urusan bisnis, kedisiplinan sangat diperlukan. Untungnya, Gunawan sudah sangat terbiasa. Ia bisa membagi waktunya yang padat antara kuliah, bertemu klien juga meeting dengan teman-teman di Indievor EO. Makanya, Gunawan bisa sangat jengkel ketika salah satu kliennya tidak tepat janji. Karena kegiatan berikutnya akan terganggu.
''Karena itu, setiap kali janji, saya sudah memperhitungkan waktunya. Saat rapat, saya pasti sudah ada sepuluh menit sebelumnya. Dalam bisnis, inilah yang penting, '' kata pria yang sangat percaya promosi dari mulut ke mulut. (agn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar