beranda

Sabtu, 23 April 2011

Terbiasa Lihat Potongan Kaki, Tangan, juga Rahim Utuh


*dr. Devi Serevina, SpPA, Ahli Patologi Anatomi RS Awal Bros

Profesi ini jarang diminati oleh kalangan dokter. Karena pekerjaannya ''njelimet'' (detail) dan sulit untuk meneliti jaringan potongan tubuh. Tapi dokter Devi Serevina ini justru menyukainya. Bahkan saat tesis empat bulan lalu, ia meraih lulusan terbaik dari 11 dokter.

Pasangan itu tengah duduk di dekat pintu masuk Resto Surabaya RS Awal Bros di Lantai 2, Kamis sore lalu.Si lelaki mengenakan jas putih dan si perempuan paki baju hamil berwarna hijau muda. Mereka adalah dr Devi dan suaminya, Robert Pardede.


  ''Maaf ruangan kerja saya masih kosong, peralatannya belum ada. Masih dipersiapkan. Makanya saya ajak bertemu di sini. Kita bisa pinjam alat di laboratorium ini untuk pemotretan. Karena alatnya kurang lebih sama,'' sambut dr Devi sambil mengajak Batam Pos ke ruang laboratorium di samping apotik.

Sore itu Devi terlihat segar walau tanpa kosmetik. Tutur katanya lembut. Satu persatu ia ceritakan perjalanan karirnya. Sejak kuliah hingga menyelesaikan tesisnya. Berulangkali ia mengatakan dukungan suaminya yang membuat dia bisa menyelesaikan semua pekerjaan.

Devi, dokter baru yang menyelesaikan tesisnya empat lalu di Universitas Indonesia. Ia mengambil spesialis Patologi Anatomi. Situs Wikipedia menyebut, patologi anatomi ini adalah spesialisasi medis yang berurusan dengan diagnosis penyakit berdasarkan pada pemeriksaan kasar, mikroskopik, dan molekuler atas organ, jaringan, dan sel. Di banyak negeri, dokter yang berpraktik patologi dilatih dalam patologi anatomi dan patologi klinik, diagnosis penyakit melalui analisis laboratorium pada cairan tubuh.

Nah, dua minggu lalu  Devi Serevina SpPA hijrah ke Batam. Dengan adanya dokter spesialis patologi anatomi ini membuat layanan kesehatan di RS Awal Bros makin lengkap. Karena  Devi, satu-satunya ahli patologi anatomi  yang ada di Batam. Dari hasil penelitian Devi inilah, diketahui jaringan yang dicurigai tumor ganas atau jinak.

''Selama ini harus dikirim ke Jakarta dan Pekanbaru. Butuh waktu tiga minggu untuk dapat hasilnya,'' kata dokter yang sedang mengandung anak keduanya.

Untuk jaringan tumor saja, kata Devi, sebenarnya hanya satu minggu jika dikerjakan di sini. Karena harus diperiksa di luar kota menjadi lama. Sama juga dengan hasil papsmear, sebenarnya sudah bisa dilihat 2-3 hari. Tapi karena dikirim ke Pekanbaru butuh waktu dua minggu.

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini memang terbiasa melihat potongan tubuh. Seperti tangan atau kaki yang diamputasi (di potong), rahim yang diangkat karena kanker serviks, benjolan daging (mirip bakso urat) pada payudara,  miom . ''Ada juga yang ukurannya selebar meja ini,'' kata Devi sambil menunjuk meja yang berdiameter 1/2 meter.

Dari organ tubuh yang sudah diberi formalin itulah, Devi mengambil sebagian jaringannya untuk diteliti. Alat-alat yang dibutuhkan Devi hampir mirip dengan peralatan di dapur. Karena ada celemek, pisau juga talenan kayu untuk memotong tulang. Yang berbeda hanya sarung tangan, gergaji, gunting dan pinset.

''Untuk tumor pada pasien HIV, saya harus lebih safety. Sarung tangan bisa sampai rangkap tiga. Lalu pakai kacamata, gunting juga sepatu boot. Setelah selesai mengambil jaringan, semua alat harus dicuci dengan bayclin, '' kata istri Robert Pardede, pengusaha ikan di Jakarta.

Dalam menjalani tugasnya,  Devi tidak sendirian. Ia bekerjasama dengan klinisi (dokter) dan ahli radiologi. Urut-urutannya, kata Devi, saat pasien datang diperiksa dokter, kemudian dokter  memprediksi ada sebuah tumor. Lalu dilakukan pemeriksaan oleh ahli radiologi dengan alat scan.

Setelah diketahui lokasi tumor kemudian organ diangkat melalui pembedahan. Dari organ yang sudah diangkat itulah, ahli Patologi bekerja. Dimulailah tugas Devi di laboratorium memeriksa semua jaringan.

Dan memastikan tumor itu berjenis ganas atau jinak. Hasil pemeriksaan Devi inilah yang menentukan keputusan akhir sebuah tindakan medis.''Ini menjadi tantangan. Karena hasil kerja saya menjadi penentu akhir sebuah tindakan medis. Dokter akan melanjutkan tindakan setelah mendapatkan hasil pemeriksaan. Biasanya keputusan mengamputasi
organ tubuh lain yang berdekatan karena tumornya ganas. Atau tidak perlu diamputasi, karena tumor jinak, '' jelas wanita yang sudah pernah membaca 1000 kasus penyakit dalam 3 bulan.

Dari sekian banyak kasus yang diteliti Devi, hanya kanker di kelenjar getah bening yang paling sulit dan butuh waktu. Karena banyak jenisnya, hingga sulit menentukan hasil dan diagnosanya.''Kalau sudah mentok karena kasus yang jarang ditemui. Biasanya saya buka buku. Apalagi di Batam ini tidak ada tempat bertanya. Tapi sewaktu di Jakarta, saya juga sering bertanya ke Asosiasi Patologi Dunia di Belanda via email. Asalkan menggunakan bahasa diagnosis berstandar WHO, pasti mudah dipahami dan akan mendapat jawaban,'' terang Devi.

Kesulitan apapun yang dihadapi Devi, tak pernah membuat ia tampak gelisah. ''Saya hanya berprinsip ngapain dipikirin, pasti besok ada penyelesaian. Karena itu, saya tetap bisa tidur dengan nyenyak, '' kata wanita wanita yang rajin minum vitamin untuk mata ini.

Dokter yang kini berusia 34 tahuh ini, memang sudah terbiasa dengan keadaan yang sibuk. Sejak kuliah mengambil spesialis Patologi di FKUI RSCM Jakarta, Devi harus membagi waktu. Pukul 07.00 WIB ia sudah harus berangkat dari rumahnya di Cipinang Bali. Dan kuliah hingga pukul 16.00 WIB.

Setelah itu pukul 19.00-21.00 WIB, ia buka praktek di rumah. Setelah selesai praktek, Devi menyempatkan mengerjakan tugas (PR) hingga pukul 24.00 WIB. Dan pukul 03.00 dinihari, ia bangun lagi dan mulai lagi meneliti jaringan dengan mikroskop miliknya sendiri. Pukul 05.30 Devi bangun lagi dan kemudian bersiap untuk berangkat kuliah.

Sebagai mahasiswa Patalogi, Devi  mau tak mau harus melengkapi semua perangkat kerjanya. Seperti mikroskop juga buku literatur. Untung saja, kata Devi, pihak kampus memberi keringanan pada mahasiswanya mencicil pembayaran mikoskop seharga Rp15 juta. Tapi tidak untuk buku literatur, semua mahasiswa wajib memilik membeli sendiri.
''Harganya rata-rata Rp 3 juta. Saya beli yang asli. Dulu sewaktu kuliah kedokteran umum, masih menfotokopi saja, '' kenangnya.

Tak heran jika buku Devi cukup banyak. Ketika pindah ke Batam, Devi membawa semua bukunya. Ada sekitar 200 kg beratnya.  Lebih berat dari baju yang dibawanya.  Buku itu akan menjadi hal terpenting dalam pekerjaannya ini. ***


Pertama Kali Merantau di Batam
'' Ini pertamakalinya saya merantau. Karena sejak kecil hingga besar tinggal di kota Jakarta, '' kata dr Devi, ahli Patologi Anatomi RS Awal Bros.

Bersama suami, Devi berangkat ke Batam. Sedangkan putri sulungnya, Deborah Jenifer Pardede (9) masih tinggal bersama neneknya di Jakarta.

Sejak kecil, gadis yang masih sekolah di SD Harapan Bunda Jakarta ini tidak tinggal bersama Devi. Ia tinggal dengan neneknya di Bekasi. Setiap Jumat sore, Devi pasti menjemput Deborah. Dan baru dipulang pada minggu sore.

''Anak saya bukan tipe anak yang merepotkan. Ia mengerti dan tidak mengganggu saat saya bekerja.

Paling-paling saya cuma bilang begini, ayo dek mami mau ngerjakan PR, ''kata Devi.
Terkadang, kata Devi lagi, putrinya suka bertanya PR di  saat ia bekerja. Ia terpaksa menghentikan pekerjaan dan menjawab pertanyaan anaknya dulu.

 Devi juga merasa beruntung memiliki suami yang sangat mendukung pekerjaannya. ''Ia tak pernah marah. Justru suka menemani kalau saya sedang bekerja di rumah. Biasanya dia nonton TV atau baca buku. Bahkan saat saya tesis kemarin, justru dia yang stres. Dia sering bilang kok bisa tidur nyenyak, padahal ada PR yang sulit, '' kata Devi sambil tertawa.

Karena itu di hasil tesis, saya cantumkan rasa terimakasih atas dukungan suami juga anak. Jika tidak ada mereka mungkin saya tidak bisa menyelesaikan tesis ini dengan baik dan tepat waktu. Dan saya tidak bisa mendapatkan titel dokter spesialis Patologi Anatomi. (agn)



Disenangi Pasien karena Suka Diajak Curhat
Kepindahan dr Devi ke Batam, membuat pasien-pasiennya kehilangan dokter yang enak diajak curhat.

Devi membuka praktek dokter umum di rumahnya di kawasan Cipinang Bali. Sedangkan pasiennya berdatangan dari kawasan Pondok Baambu, Kelapa Gading juga Cipinang Indah Melayu.''Ada seorang pasien berumur 80 tahun, datang dengan keluhan sakit pinggang. Dia tinggal di Pondok Bambu. Dan naik ojek bayar Rp 15 ribu. Jarak rumahnya lumayan jauh. Tapi dia datang karena saran dari temannya, '' kata Devi.

Tak hanya itu, kata Devi ada sekitar 20 pasien yang memohon agar ia tidak pindah. Mereka bingung harus kemana karena sudah cocok.  ''Saya memang selalu mengajak pasien saya bicara. Saya selalu ingatkan agar membagi cerita dan jangan disimpan jika ada keluhan apalagi kalau ada benjolan, ''kata  Devi.

Sebagai calon dokter spesialis Patologi, Devi juga menerima pemeriksaan papsmear di tempat

prakteknya di Jakarta. Hanya dengan Rp150 ribu, pasien sudah bisa mendapatkan hasilnya. ''Saya juga selalu mengingatkan pasien yang datang baik itu ibu rumah tangga maupun remaja agar melakukan pemeriksaan papsmear. Apalagi bagi mereka yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, '' kata  Devi.

Kebetulan, kata Devi, pasien yang datang banyak dengan keluhan keputihan. Ia coba sampaikan ini langsung, agar mereka tahu. (agn)

Tidak ada komentar: