beranda

Sabtu, 23 April 2011

Dukungan Itu yang Kami Butuhkan

Terkait perayaan Hari Kartini, saya isi feature edisi minggu ini dengan seorang wanita. Beliau bekerja dibalik layar namun sangat menentukan tindakan medis selanjutnya Sebagai dokter spesialis Patologi Anatomi, dr Devi memeriksa suatu jaringan yang diduga kanker atau tumor. Pekerjaan ini sungguh sulit. Dibutuhkan ketelitian luar biasa. Jika salah menentukan diagnosa, maka salah juga tindakan yang dilakukan dokter lain. Akibatnya pasien yang dirugikan. 


Bekerja dengan tanggungjawab yang besar seperti itu membuat Devi tak pernah stres. Ia tetap bekerja dengan tenang. Bahkan ia bisa tidur dengan nyenyak. Bagi dr Devi, dengan membagi waktu yang pas, semua akan selesai dengan baik. Dia membuktikan sendiri, bagaimana ia bisa menyelesaikan kuliahnya, buka praktek dokter umum di rumah dan mengerjakan tugas sebagai istri dan ibu. Memang butuh dukungan. Sebagai istri dan ibu dari seorang putri, dr. Devi merasakan pentingnya support. Suaminya tak pernah melarang dirinya sekolah lagi mengambil spesialis Patologi. Bahkan suaminya rela menemani bekerja.
Dr Devi adalah satu contoh dari sekian banyak wanita yang berkarir di Indonesia. Walau sudah berkeluarga tidak membuat karirnya berhenti. Ia tetap bisa berkarya.
Saya jadi ingat Ibu Kartini. Dulu, sewaktu menikah Raden Ajeng Kartini juga baru dapat mewujudkan cita-citanya mendirikan sekolah perempuan. Sewaktu masih gadis, RA Kartini hanya diberi kesempatan sekolah hingga umur 12 tahun. Setelah itu Kartini lebih banyak dipingit di rumah. Hingga di usia 25 tahun, Kartini baru menikah dan dapat mewujudkan semua cita-cita. Ia sangat ingin menjadikan wanita Jawa yang cerdas, berwawasan agar bisa menjadi ibu bangsa yang bermartabat. Ia tak mau wanita hanya di rumah, lalu menikah diusia muda dan menjadi madu bagi seorang pria.
Kini perjuangan Kartini untuk mewujudkan emansipasi wanita memang terwujud. Sudah berapa banyak wanita berkarir diberbagai bidang. Semuanya karena dukungan keluarga. Baik itu orangtua yang memberi kebebasan putrinya memilih karir yang diminati. Suami yang mendukung pekerjaan istri hingga tidak ada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), anak-anak yang memahami pekerjaan orangtua, dan bisa mandiri kala ibunya bekerja. Dan lingkungan yang mendukung semuanya. Terimaksih Ibu Kartini, berkat pemikiranmu kami bisa berkarya. *** 

Tidak ada komentar: