beranda

Sabtu, 02 April 2011

Rosnah, Pemulung di Ruko Kwarta Karsa Nagoya


Bertahan Hidup Demi Suami
yang Tak Kuasa untuk Duduk

Hanya tenaga yang dipunyai. Ia harus lakukan pekerjaan ini. Walau badan ini serasa tak kuat lagi.

Siang itu panas sangat terik. Rosnah tetap berjalan menyusuri emperan ruko di Kwarta Karsa Nagoya. Daerah yang dikenal sebagai pasar seken aneka barang dari Singapura. Ia membawa karung putih yang sudah penuh berisi kardus dan botol plastik bekas minuman air mineral.
  
Ia berhenti sejenak pas di depan toko penjual telur puyuh. Wanita berkulit kuning langsat itu lalu memilih-milah kertas dan botol. Juga membuang label di botol minuman. Dan, lantas dimasukkan ke dalam karung putih yang lain. Setelah itu Rosnah mengambil tas yang tergantung di dinding.

Diambilnya sebotol minuman yang sudah dibawanya dari rumah. Di tas itu, selembar kaos bersih dilipat rapi. Baju ganti itu digunakan Rosnah ketika selesai bekerja. ''Kalau kerja pakai kaos lengan panjang. Sudah mau pulang ganti baju. Tak mungkin lah pakai baju kotor macam gini,'' kata Rosnah kepada Batam Pos, Senin (28/3) siang.


Setelah selesai, Rosnah kembali berjalan mengelilingi daerah itu lagi. Saat karungnya penuh, Rosnah kembali ke toko telur puyuh tadi. Begitu seterusnya, hingga pukul 15.00 WIB. Sebelum pulang, Rosnah menjual barang-barang yang dikumpulkan tadi ke Ajo, pengumpul barang bekas yang ada di kawasan itu. Kertas-kertas karton yang sudah kotor karena terpijak-pijak itu dihargai Rp500 per kilogram. Sedangkan botol plastik lebih mahal sedikit, karena Ajo membelinya dengan harga Rp1500 per kilogram.

''Di sini jarang dapat kaleng bekas. Kalau besi, biasanya kita beli dulu ke orang yang punya besi. Setelah itu dijual lagi ke penampung barang bekas. Saya tidak tahu harganya, karena saya tidak pernah beli,'' kata  wanita asal Tembilahan ini.

Ia harus berjuang mencari penghasilan demi anak-anak dan suaminya yang hanya bisa terbaring sakit di rumah. Sejak kedatangannya ke Batam tahun 2008, Rosnah sudah bekerja keras sendirian. Ia tak punya pilihan. Ia harus mencari uang untuk menghidupi keluarga. Suaminya tidak bisa lagi bekerja. Selama itu Jaja hanya berbaring dan makan di tempat tidur. Untuk duduk saja, ia tak kuasa.

Untuk kembai ke kampung, juga tidak mungkin. Di sana tidak ada yang bisa membantu. Menurut Rosnah, di Batam masih ada saudara. Walau harus jadi pemulung, tetap bisa mendapatkan uang. Karena itu, Rosnah tak tinggal diam. Ia ambil karung bekas beras dan pergi ke pasar. Empat tahun lalu, untuk pertama kalinya Rosnah yang tidak pernah bekerja, memberanikan diri keluar rumah mencari penghasilan. Yang terfikir oleh Rosnah hanyalah memulung. Pekerjaan ini tidak butuh modal, hanya tenaga dan keberanian saja.

''Pertama kali mulung, saya takut sekali. Lihat mobil lalu lalang sebanyak ini. Di kampung tidak ada seperti ini. Mau mulai keliling saya ragu, takut kesasar. Tapi saya kuatkan tekad, akhirnya bisa saja jalani sampai sekarang,'' kata ibu dari empat anak ini.

Sejak hari itu, Rosnah mulai menjadi pemulung. Pagi-pagi sekali, Rosnah sudah harus bangun. Ia menyiapkan semua kebutuhan suami dan anak-anaknya. Mulai dari memasak, mencuci, membersihkan rumah dan merawat suami.

Setelah Salat Subuh, Rosnah mulai memasak bubur untuk suaminya. Diambilnya segenggam beras lalu dimasukkan kedalam panci dan dicucinya dengan air. Kemudian dimasukkannya hati ayam yang sudah dicincang kedalam beras yang sudah mulai menjadi bubur.

Setelah matang, bubur itu dituangkan di mangkok dan diletakkan di samping tubuh suaminya. Ia biasa meletakkan semua makanan untuk suaminya seperti itu. Kemudian ia mulai memasak untuk anak-anaknya. Sayuran dan lauk yang dimasak itu, dibeli Rosnah sepulang dari memulung kemarin. Setiap hari, Rosnah bisa mendapatkan uang 30 ribu. Uang itu dibagi-bagi, selain untuk belanja kebutuhan rumah tangga juga membelikan rokok untuk suaminya.

''Suami saya perokok. Padahal sudah sakit begitu merokoknya tidak berhenti. Badannya saja sudah kurus kering, tinggal kulit membalut tulang saja. Tapi kebiasaannya merokok tak pernah tinggal, '' kata wanita berusia 40 tahun ini.

Rosnah juga menyempatkan membersihkan tubuh suaminya dengan kain lap basah. Dan mengganti kasa yang menutup luka di pinggul suaminya.

Senin siang lalu saat berkunjung di kawasan Kampung Agas RT 03/RW 04, rumah Rosnah sepi. Pintu depan dibiarkan terbuka. Kasur tipis dijemur di depan rumah. Rosnah sudah tidak terlihat lagi. Ia sudah berangkat memulung bersama salah satu anaknya. Sedangkan dua anaknya bermain di rumah temannya. Dari ruang tamu, terlihat rumah itu tertata rapi. Pakaian-pakaian tersusun didalam meja tv. Dibalik pembatas ruang tamu, Jaja terlihat terbaring seorang diri.

 Di sampingnya sebuah mangkok berisi rujak mangga baru dimakan setengah. Tanpa baju, Jaja terbaring hanya ditutupi kain sarung. Suami Rosnah ini, memang tidak bisa apa-apa lagi. Bahkan saat banjir yang menggenang Tanjunguma beberapa waktu lalu, Jaja terendam air. '' Kami baru saja membuatkan tempat tidur ini. Dulu hanya terbaring saja dilantai dengan kasur,''  kata Rusli, kakak ipar Rosnah yang mengantarkan ke rumah Rosnah.

Menurut Rusli, Rosnah memang wanita kuat. Sebelum berangkat ia harus menyelesaikan pekerjaan di rumah terlebih dulu. Setelah itu pukul 11.00 WIB ia berangkat memulung. Pukul 15.00 WIB, ia baru kembali ke rumah. Sampai di rumah, Rosnah masih harus membereskan rumah, menyetrika pakaian dan membuatkan bubur dan susu untuk suaminya. Juga mengganti kain kasa penutup luka di  tubuh suaminya. ''Kadang saya tak sempat mandi. Kalau sudah capek sekali saya langsung tertidur di depan tv,'' kata wanita bertubuh subur ini.

Rosnah mengaku tubuhnya selalu capek dan sakit. Kakinya seringkali sakit. Ia sering menyuruh Indra, putra bungsunya yang berumur 7 tahun  untuk menginjak-injak tubuhnya. ''Lumayan meringankan capek, karena rasanya seperti dipijat. Selain itu saya juga minum jamu gendong empat kali dalam seminggu. Kalau tidak minum saya tidak bisa kerja. Tubuh tidak kuat jalan, badan rasanya berat sekali,'' kata Rosnah lagi.
Rosnah memiliki empat anak. Putri sulungnya bernama Linda sudah berumur 28 tahun. Sudah menikah, dan sekarang tinggal bersama suaminya di Guntung, Riau.

Sedangkan Jupri putra keduanya, tidak sekolah lagi. Ia pernah belajar sampai kelas dua SD di Guntung. Sejak pindah ke Batam, Jupri yang kini berumur 14 tahun tidak melanjukan sekolah. Ia membantu Rosnah menjadi pemulung. Dari hasil kerjanya,  Jupri bisa dapat uang 5000 - 10.000 rupiah perhari. ''Uang itu diberikan pada saya juga bapaknya. Katanya untuk bantu mamak beli sayur juga beli rokok bapak,'' kata Rosnah.

Memang kata Rosnah lagi, anaknya ini pernah mengeluh tentang pekerjaan ini. ''Ngapalah kerja macam ini terus mak, '' cerita Rosnah sambil matanya berkaca-kaca. Ia sendiri tak kuasa menjawab pertanyaan anaknya ini.

Mulyadi (11), anak ketiga Rosnah tidak ikut bekerja, dia hanya di rumah saja. Tugasnya menjaga bapak dan adiknya.  '' Kadang dia yang bantu menyuapkan bubur ke mulut ayahnya,'' kata wanita yang berkulit putih ini.

Si bungsu Indra, sudah berumur 7 tahun. Tahun ini, kata Rosnah, dia minta sekolah. '' Mudah-mudahan ada rezeki, saya bisa menyekolahkan Indra di SD Negeri 006 atau 003. Setiap kali lihat temannya sekolah, dia
merengek minta di sekolahkan. Dia kan tidak tahu penghasilan saya yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari,'' kata Rosnah.

Baru-baru ini Indra baru saja dikhitan. Kata Rosnah, kebetulan ada yang menggelar sunatan massal gratis. Sudah lama, dia minta disunat, tapi karena keadaan, permintaan dia belum saya turuti. Dia senang sekali akhirnya disunat seperti teman-temannya,'' tambah Rosnah.***

Perhatian Saudara Membuat Saya Kuat

Ketika tiba di Batam, Rosnah, suami dan anak-anaknya masih menumpang di rumah Rusli, abang iparnya. Kini, mereka sudah menempati rumah panggung sangat sederhana yang dibuat oleh saudara-saudaranya.
Rumah dengan dua ruangan itu hanya berukuran 5x5 meter. Anak-anak tidur di ruang tamu.  Sering juga, Rosnah tidur bersama anak-anaknya di ruang tamu. Dengan menggelar kasur, mereka tidur bersama-sama.
Sambil menonton televisi pemberian orang.

Jaja, suami Rosnah yang sakit hingga kini pun terus dipantau oleh saudara-saudaranya. Berkat,  Rusli, abang ipar Rosnah ini juga, Jaja dibantu pengobatannya oleh Vera, pemilik klinik Budhayana di Winsor. ''Jika obat habis, kami bisa ambil ke sana. Biasanya obat untuk luka di pinggang belakangnya. Suami saya juga pernah dibawa ke rumah sakit. Tapi akhirnya kami pilih dirawat di rumah saja, '' kata Rosnah.
Vera, juga memberi bantuan beras 5- 10 kg untuk membuat bubur juga telur untuk suami saya. Bantuan inilah yang meringankan beban Rosnah.

Namun ia masih risau dengan kondisi suaminya yang tidak juga pulih. Suaminya makin kurus. Dan tidak mampu apa-apa lagi. Diobati juga sudah, namun penyakitnya tidak kunjung sembuh. ''Kami sudah pasrah saja. Karena kami pun tidak ada daya untuk membantunya. Saat kondisinya makin parah, kami hanya bisa berkumpul, di rumah Rosnah, '' kata  Rusli yang memiliki toko sembako di pasar Tanjunguma.  (agn)





Tidak ada komentar: