beranda

Senin, 21 Maret 2011

Kirimkan Untuk Dua Orang Tercinta

...Nes, kl korannya terbit sy mnta tlng kirimkan k ibu & istri sy, trmkash bnyk atas bantuannya. SMS itu datang dari Budi Iskandar, Rabu lalu (2/3) ke ponsel saya. Ia minta koran yang memuatkan kisahnya di Cibia (sebutan untuk Pulau Pekajang) dikirim ke istrinya di Purwokerto dan ibunya di Palembang.
Budi berharap dengan datangnya selembar koran Batam Pos itu, bisa mengobati kerinduan mereka. Bahkan mereka bisa memahami pengabdian yang sedang dijalani Budi. Semoga mereka makin ikhlas, begitu harapan Budi.




Sebenarnya saya pun merasakan seperti yang dirasakan istri Budi. Karena Darno, (nama bapak saya) juga bertugas di pulau. Setiap tiga hari sekali menyeberang laut dari Dabo Singkep ke Daik Lingga. Dan kembali lagi setelah tiga hari kemudian ke Dabo Singkep. Sebagai tenaga Anesthesi (yang melakukan pembiusan sebelum operasi), bapak saya harus standby di dua rumah sakit (RS. Dabo Singkep dan RS Lapangan Daik).

Tidak peduli musim ombak, angin, hujan, tengah malam tetap harus berangkat menyeberang pulau.  Risikonya sudah diduga. Pernah suatu kali ombak tinggi nyaris menggulung speedboat yang ditumpangi bapak. Karena kebesaran dan pertolongan Allah lah, bapak dan tim dokter serta penumpang lain selamat sampai tujuan. Jika ingat kejadian itu, sebenarnya ingin sekali melarang bapak bertugas lagi. Ibu dan adik saya pun pasti berpendapat sama.

Tapi keinginan Bapak yang sangat besar untuk mengadi di sana membuat saya pasrah. Diusia 61 tahun, bapak yang telah pensiun dari Angkatan Laut masih ingin berkarya. Ilmu Anesthesi yang dipunyainya ingin selalu dibagikan ke perawat-perawat baru. Bahkan ia masih terus belajar dari berbagai literatur.
Pengabdian mereka yang bertugas di pulau-pulau inilah yang menjadikan saya selalu ingin menuliskan kisah-kisahnya agar menjadi inspirasi bagi yang lain. Minimal semangat yang mereka miliki dan rasa

Tidak ada komentar: