Penari dan Pemain Musiknya Stanby dari Pagi sampai Sore
Ternyata Batam punya wisata kampung. Lokasinya ada di Kampung Jabi Batu besar Tempat ini difavoritkan wisman dari Korea. Apa sih yang bisa dilihat disana, hingga orang-orang Korea selalu datang dan datang lagi.
Masih mengenakan baju Melayu warna biru muda, Soleh (60) duduk di depan kedai yang ada di pinggir jalan Batu Besar bersama Dewa, cucunya. Siang itu Soleh menunggu wisatawan yang datang ke Kampung Jabi, Batu Besar. ''Saya harus siap sedia, karena turis sering datang tiba-tiba,''kata Soleh yang ditemui Batam Pos, Rabu (12/10) di panggung hiburan Kampung Jabi, Batu Besar.
Soleh adalah pimpinan panggung hiburan itu. Sejak tahun 1998, Soleh yang datang dari Dabo Singkep ditawari seorang pengusaha Batam untuk mengelola panggung hiburan untuk wisatawan di Batu Besar. Bersama dua temannya, Ali dan Awang, Soleh menjadi pengibur wisatawan dari Korea. Ia juga merekrut gadis-gadis Dabo Singkep menjadi penari. Bahkan Soleh juga yang mengajari mereka cara menari.
Soleh mengaku sudah tiga kali pindah tempat. ''Tadinya dibawah sana, pemiliknya beda. Kalau sekarang punya Abi, pemilik Golden Prawn,''kata Soleh di panggung wisata Kampung Jabi.
Mencari panggung wisata Kampung Jabi ini cukup mudah. Dengan mengatakan mencari rumah Abdul Kadir, salah satu pengacara Batam yang rumahnya berdekatan dengan panggung hiburan itu, warga yang ditemui langsung menunjukkan lokasinya.
''Masuk dari samping sekolah TK. Dari situ terus kedalam,''kata warga yang ditemui Batam Pos. Tapi tanpa sengaja saat bertanya di kedai yang terletak di depan pintu masuk dekat TK tadi, Batam Pos bertemu Soleh yang sedang menemani cucunya jajan.
Jalan masuk ke dalam kampung Jabi itu cukup luas dan bisa dimasuki mobil. Tapi, kata Soleh bus turis berhenti di tepi jalan raya Batu Besar. Mereka masuk dengan berjalan kaki. ''Kira-kira 1/2 jam baru sampai panggung. Ada yang lihat-lihat rumah penduduk, lihat ular dan tupai, beli suvenir yang dijual warga juga foto-foto,''kata Soleh yang piawai bermain biola.
Waktu 1/2 jam itulah yang digunakan Kinoi, Alia, Mega dan Tika dandan. Empat gadis berusia 19 tahun ini adalah penari asuhan Soleh. Mereka segera bermakeup dan membuat sanggul sendiri. Ketika tahu turis tiba di pintu masuk, mereka yang sudah mengenakan baju kurung warna kuning bergegas menyisir rambut membuat sanggul sederhana. Tak sampai sepuluh menit, mereka sudah siap di balik panggung.
Kinoi dan teman-teman sudah terbiasa mengenakan baju Melayu sejak pagi. ''Jam 7 pagi kami sudah harus siap dengan pakaian Melayu dan muka sudah dimakeup. Karena tamu suka datang tiba-tiba. Makanya kami harus siap sedia. Tapi kalau sudah jam 5 sore kami boleh ganti baju. Karena tamu tidak ada lagi,''kata Kinoi yang sudah 4 tahun menjadi penari bersama Alia, Mega dan Tika.
Panggung dengan bentuk rumah melayu ini ada di bagian dalam rumah kayu. Sebuah kursi berwarna kuning emas dengan bantalan berwarna merah diletakkan diatas panggung. Disinilah biasanya turis duduk untuk berfoto-foto atau menerima sirih dari penari. Tiga alat musik tradisional Melayu, gong, gendang sebelah, biola diletakkan berjajar ditengah panggung.
Didepan panggung, kursi-kursi kayu terpasang berderet seperti tempat duduk di bioskop. Dari tempat duduk inilah turis menyaksikan tari Persembahan yang ditampilkan Kinoi dan teman-teman. Tak hanya itu, turis juga bisa menari bersama salah satu gadis-gadis itu di atas panggung. Pilihan lagunya mulai dari lagu Raja Doli dan lagu Serampang 12. Soleh mengiringi lagu itu dengan biolanya, Ali duduk dengan tenang sambil memukul gong, dan Awang yang memakai gendang sebelah.
''Kadang baru saja kami menari, turis-turis itu sudah mau pulang,''kata Soleh lagi.
Memang, kata Soleh, wisatawan itu hanya diberi waktu 40 menit oleh pemandu wisatanya. Padahal banyak yang dilakukan wisatawan yang kebanyakan dari Korea itu. Mulai dari jalan-jalan melihat rumah-rumah penduduk, melihat binatang yang ada didalam kerangkeng, belanja suvenir juga minum kopi dan kelapa muda.
''Yang datang kesini cukup ramai. Rata-rata tiga rombongan. Seperti tadi pagi, turis dari Korea baru saja datang. Pokoknya tiap hari ada yang berkunjung kemari,''kata pria yang terpaksa berjauhan dengan istrinya yang ada di Dabo Singkep.
Setiap awal bulan, Soleh yang diberi tanggugjawab mengelola panggung hiburan ini menerima gaji. ''Dulu hanya Rp250 ribu. Sekarang sudah Rp 9 jutaan. Untuk penari, masing-masing dibayar gaji Rp880 ribu.
''Kami senang bisa menari. Makanya kami betah disini. Daripada di Dabo, hanya kerja jadi pelayan toko,''kata Kinoi yang diamini 3 teman-temannya. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar