beranda

Senin, 11 Juni 2012

Supriyatin, Delapan Belas Tahun Jadi PRT di Singapura


Siapkan Buat Buku Resep Tiga Bahasa

Sebuah buku sedang disiapkan. Berisi tentang resep-resep masakan hasil karyanya selama menjadi pembantu rumah tangga di Singapura.

Pagi-pagi sekali, Supriyatin sudah bangun. Bergegas ia turun dari lantai tiga menuju dapur di lantai satu rumah majikannya di kawasan Jurong West, Singapura. Seperti hari-hari biasanya, Supriyatin harus masak bubur untuk sarapan majikannya. Setelah itu ia mulai membuat masakan untuk makan siang. Pagi itu, Supriyatin masak Looh Bebek. Masakan Cina itu bukan permintaan majikannya, melainkan ia sendiri yang berinisiatif membuatnya. Satu ekor bebek dimasak dengan kuah hitam dicampur dengan ramuan Cina.

Urusan masak-memasak, memang menjadi tanggungjawa Atin, begitu ia biasa dipanggil. Tapi, belanja diserahkan pada majikan perempuannya. ''Saya hanya bilang, Mami hari ini ke Bugis Street (artinya ramuan Cina habis), atau Mi ke Jurong West (stok sayuran habis) atau Mi ke Boonly (ayamnya habis),'' kata wanita kelahiran Magetan 42 tahun lalu.

Atin juga sering diminta masak dengan porsi besar. Lim Xix Yan dan Tan Swee Lan, majikannya itu selalu mengajak teman-temannya makan bersama di rumah. Jumlahnya bisa mencapai 200 orang. Bahkan Atin pernah memasak sambal terasi sampai 10 kg. Saudara-saudara majikannya yang kebanyakan tinggal di Malaysia senang sekali membawa sambal untuk oleh-oleh. ''Saya bisa masak semua sendirian. Asalkan jangan dirusuhin (diganggu),''kata wanita yang hanya tamatan sekolah dasar.

Setelah tugas masak selesai, Atin masih harus membersihkan rumah, mencuci pakaian juga mencuci mobil majikannya. ''Biasanya jam 4 sore baru bisa cuci mobil. Ada tiga mobil yang harus saya cuci,''tutur ibu dari 2 orang putri ini.
Begitulah Atin menjalani hari-harinya sebagai pembantu rumah. Tak terasa sudah 18 tahun ia menjadi PRT di Singapura.

Saat itu ia meninggalkan putri bungsunya, Dwi Marganingsih yang baru beberapa bulan lahir. ''Saya lupa tepatnya umur anak saya itu. Tapi waktu itu dia baru saja lahir. Saya titipkan pada orangtua di Magetan. Kini umur Dwi sudah 18 tahun. Sekarang kelas III SMEA. Yang sulung, Eka Sugiarti 24 tahun. Dia sudah menikah. Dan tinggal dengan bapaknya. Karena perceraian membuat saya nekat jadi TKI,''kata Supriyatin yang berangkat ke Singapura tahun 1998.

Tujuh tahun pertama, Atin bekerja pada seorang majikan keturunan Tionghoa-Malaysia. Dengan gaji pertama 280 Dolar Singapura. Kini, Atin sudah bekerja dengan majikannya yang kedua. Tak terasa sudah tahun kesebelas, Atin bekerja pada keluarga Lim Yix Yan dan Tan Swee Lan. Pasangan suami istri ini memiliki tiga orang anak yang sudah berumur 21,23 dan 24 tahun. Lim Yix Yan yang merupakan keturunan Tionghoa-Indonesia ini adalah seorang pengusaha jasa transportasi Ric-Tat Travel & Coach Services Pte Ltd.

Dengan gaji 500 Dolar Singapura, Atin harus bekerja mulai pagi hingga malam hari. ''Tapi papi dan mami saya (sebutan untuk majikannya) ini very-very understand. Dia tidak pernah usil atau melarang apapun yang saya lakukan. Mau pakai celana pendek, masak sambil dengar lagu kesukaan saya the cloud Dr. Pokoknya tape tidak pernah mati. Bahkan laptop saya hidup terus. Nih saya bisa online fb 24 jam,''kata Supriyatin.

Atin juga merasa bersyukur memiliki majikan yang tidak pelit dan memberi kebebasan libur  di hari minggu. ''Karena banyak juga teman-teman sesama pembantu rumah tangga di Singapura yang menerima perlakuan tidak adil. Ada yang tidak dikasih makan. Pintu lemari makanan saja di gembok. Ada juga yang dikurung, ngobrol dengan tetangga saja tidak boleh. Tapi alhamdullilah mami dan papi ini orangnya baik. Saya sudah serasa di rumah sendiri. Anak-anaknya saja saya ajari setelah makan cuci piring sendiri,''kata Atin yang aktif di Himpunan Penata Laksana Rumah Tangga Indonesia di Singapura (HPLRTI).

Karena kebebasan itulah, Atin bisa mengikuti berbagai kursus komputer, bahasa Inggris juga memasak di Sekolah Indonesia Singapura (SIS). Bahkan dua bulan ini Atin sedang megikuti sekolah entrepreneur.

''Saya memang dapat jatah libur setiap hari minggu. Makanya kalau hari minggu saya sudah bangun jam 4 subuh. Setelah menyiapkan masakan dan bersih-bersih rumah, saya berangkat sekolah jam 9 pagi dan pulang jam 5 sore. Selain sekolah, saya juga ikut kegiatan di HPLRTI. Biasanya menari, memasak, juga belajar ketrampilan. Seperti sekarang lagi latihan tari kecak untuk tampil di acara penutupan lomba volly antar PRT di Singapura,''kata wanita yang aktif sebagai seksi kesenian di HPLRTI.

Dengan majikannya ini, hak-hak Atin terpenuhi. Setiap dua tahun sekali gajinya naik. Selain itu jatah cuti setiap dua tahun juga ada. ''Kalau tidak mau pulang kampung, uang tiketnya bisa diambil. Lumayan kan 350 dolar Singapura,''kata Atin yang sudah 4 tahun tidak pulang ke Magetan.

Karena rumah majikannya juga dijadikan kantor, Atin bertanggungjawab menyiapkan makanan 3 karyawan. Total 9 orang yang harus disiapkan makanannya. Dalam sehari, Atin masak sampai tiga kali. Saat tahun baru Cina, kesibukan Atin bertambah. ''Saya pernah masak bebek dan ayam masing-masing 8 ekor. Semuanya untuk tamu. Pernah juga masak 24 jenis makanan.''kata Atin yang sangat menikmati tugasnya itu.

Saat Tahun Baru Cina itu juga, majikan selalu membelikan satu stel pakaian. ''Kami memang sudah sangat dekat. Bahkan bahasa pun tidak ada masalah. Kadang pakai bahasa Indonesia, kadang bahasa Inggris tapi juga pakai bahasa Mandarin. Pokoknya semua saya saja,''kata Atin yang kini sudah mulai mahir berbahasa Inggris.

Selama delapan belas tahun ditugasi memasak, membuat Atin mahir memasak. Bahkan ia sudah menciptakan beberapa resep masakan. ''Saya sedang menyiapkan buku masakan. Resep-resep masakan itu adalah masakan yang sudah pernah saya buat sendiri. Judulnya Bina Cooking Book. Saya akan buat dalam tiga bahasa. Inggris, bahasa Indonesia dan Mandarin. Makanya butuh waktu. Saya ingin bagi pengalaman saja dengan teman-teman,''kata Atin.***


Pemilik Usaha Peternakan Ayama 5000 ekor 

Hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun telah menjadi sebuah peternakan ayam di desanya
Magetan. ''Jumlahnya sekitar 5000 ekor. Saya rekrut karyawan 3 orang untuk mengurus peternakan itu,''kata Atin.

Selain peternakan ayam, Atin juga punya mimpi membuat catering dan rumah makan. ''Saya sempat sharing sama Bpk Fahmi orang KBRI, katanya kalau saya mau buka catering atau rumah makan mau dikasih pinjamam 500 juta dari KUR BNI. Tapi saya bilang terima kasih saya mau cari modal dengan hasil keringatku sendiri biar tidak terbebani,''kata Supriyatin yang sudah menyiapkan dirinya dengan mengikuti sekolah entrepreneur di Sekolah Indonesia Singapura (SIS) setiap hari Minggu. (agn)














Tidak ada komentar: