Berangkat Tak Pakai Ongkos, Pulang Bawa Tabungan
Ismiyati (26) mulai membungkus mie dan bihun goreng yang baru saja diletakkan diatas kertas pembungkus. Setelah itu diambilnya sebungkus cabe hijau dan dimasukkan kedalam kantong asoy yang sudah terisi mie dan bihun goreng tadi. Setelah memberikan pesanan itu pada seorang pembeli. Is, (begitu ia biasa disapa) langsung meraih lagi mangkok plastik yang sudah berisi capcay. Diambil penutupnya, lalu mangkok itu ditutup rapat.
Begitulah sehari-hari Ismiyati melakukan tugasnya sebagai pembantu rumah tangga di Warung Kopi 88 di Legenda Malaka.Sejak subuh, Ia sudah mulai meracik kebutuhan jualan. Mulai dari membuat bumbu, membersihkan lele, sotong, udang, sayuran juga memasak. Setelah itu wanita asal Purworejo, Jawa Tengah ini mulai membereskan etalase tempat berjualan majikannya.Setelah beres, Ismiyati mulai bersiap-siap menunggu pembeli.
Kata Ismiyati, dia sudah ikut Cece, pemilik warung yang menjual aneka masakan Medan ini hampir 1 tahun. ''Bulan depan saya sudah habis kontrak, pas satu tahun saya disini,''kata wanita yang sudah punya 3 anak ini. Rencana Is, setelah kontraknya habis, dia memilih berhenti kerja dan pulang kampung.'' Saya mau nikah, kebetulan saudara menjodohkan saya,'' kata wanita yang sudah bercerai dengan suaminya.
Is, adalah satu dari sekian banyak pembantu rumah tangga yang direkrut dari daerah dan bekerja di Batam. Sama seperti yang lain, Is bisa sampai ke Batam, karena dibawa oleh penyalur tenaga kerja. Tanpa modal apapun, Is berangkat dari kampung halamannya di Purworejo. ''Waktu itu kami dikasih sangu (uang) Rp 50 ribu setiap orangnya. Waktu sampai di stasiun bus Jatinegara, kami dijemput,'' kata Is. Setelah beberapa hari di Jakarta, kami diberangkatkan dengan pesawat menuju Batam. Begitulah akhirnya Is sampai di pulau berbentuk Kalajengking ini.
Tak lama menunggu, Is pun langsung bekerja. Ia diambil cece, majikannya ini. ''Waktu diambil, majikan saya wajib bayar uang tebusan Rp 1.800.000. Lalu selama 3 bulan, saya tak terima gaji, karena semuanya diambil penyalur. Memang gaji saya sampai Rp 900.000/ bulan, karena sudah ditetapkan. Hitung-hitung bisa kumpulkan uang Rp 8.100.000. Selama 1 tahun. Karena semua kebutuhan sehari-hari mulai drai sabun, pasta gigi, sampo ditanggung majikan. Bahkan sakit sekalipun, saya tak mengeluarkan uang, karena dibiaya majikan juga.
Saat pulang nanti, saya juga nggak bingung, karena tiket sudah dibelikan penyalur.
Is memang beruntung disukai majikan. Hingga tak perlu berpindah-pindah majikan. ''Karena hitungan masa kerja kita bisa kembali ke awal kontrak. Artinya tidak terima gaji selama 3 bulan lagi. Walau sudah menjalani kerja 10 bulan sekalipun, kalau berpindah majikan. Hitungannya kembali ke awal kontrak,'' kata Is.
Sulitnya mencari pembantu, membuat para majikan mau memenuhi aturan itu. Bahkan harus membayar uang tebusan lagi, saat pembantu pertama telah habis masa kontraknya. Mencari pembantu tak akan terasa sulit jika mampu, Berbeda kondisinya kalau keuangan juga ngepas. Akhirnya harus aktif bertanya kesana- kemari mencari PRT. Memang gaji yang diberikan bisa jauh lebih rendah karena berkisar Rp 500 ribuan saja. Semua pekerjaan rumah dikerjakan PRT. Mulai dari mencuci, memasak, menyetrika bersih-bersih rumah juga jaga anak. Tapi proses pencarian PRT seperti itu tergolong susah-susah gampang. Karena bisa berbulan-bulan.
Ela, misalnya, gadis 17 tahun ini tak sengaja ditemukan oleh sebuah keluarga di Batam setelah dideportasi dari Malaysia. Ia mau saja ketika ditawari kerja. ''Saya waktu itu masih di Tanjungpinang, kebetulan ada teman yang nawarin kerja di Batam. Saya sih mau saja, karena saya juga kepengen merantau ke Batam,'' kata gadis asal Medan ini.
Sama halnya dengan Rani, gadis asal Palembang ini kerja sebagai PRT di sebuah keluarga dengan 2 anak. '' Saya digaji Rp450 ribu. Kadang saya juga dikasih tambahan uang Rp 50 ribu,''kata gadis yang masih berumur 16 tahun ini. Rani mengaku tak punya pilihan. Ia terpaksa memilih pekerjaan ini. ''Saya sih sebenarnya ingin kursus mejahit. tapi belum ada uang. Makanya saya kumpulkan dari bekerja, ''kata gadis piatu ini.
Rani juga ditemukan keluarga Edy tanpa sengaja. Rani yang baru saja datang dari Malaysia, langsung ditawari Ibu nya untuk bekerja di rumah keluarga Edy. ''Saya sih mau saja, asal dekat dengan ibu. Sudah lama tak ketemu ibu. sejak merantau ke Malaysia,''kata Rani saat itu.
Berbeda dengan Titin, wanita asal Cianjur, Jawa Barat ini bekerja pada sebuah keluarga setelah problem keluarga yag menimpanya. ''Saya lari dari suami, karena saya takut. Dia mulai suka marah-marah dan merusak perabot. Ssaya takut nanti saya yang dilukai. Makanya saya kabur saja menumpang dirumah teman. Kebetulan ada yang nawarin kerja di Batam. Saya fikir ini jalan terbaik menjauhi dia,'' kata Titin yang menikah siri selama 1 tahun. Titin mengaku dia digaji sebesar Rp 500 ribu. Sesekali majikannya itu suka memberi uang tambahan.
***
Tukang Gosok Cuci Juga Laris
Dirumah tipe 21 itu, Syarifah Khodijah menyewa rumah bersama keponakannya. Rumah dengan dua kamar itu dibayar berdua dengan keponakannya. Wanita yang kini berusia 70 tahun ini, masih kuat menerima kerjaan menyetrika dan mencuci pakaian. Upahnya untuk setrika saja Syarifah menerima Rp 200 ribu. Sedangkan untuk cuci-setrika Rp 400 rb. Sulitnya mendapatkan pembantu membuat jasa Syarifah banyak digunakan. Tapi diusianya yang kian senja, ia hanya mampu menerima order di empat tempat saja. Ia mulai bekerja pada pukul 07.00 WIB dan berhenti pukul 17.00 WIB.
Seperti pagi Selasa lalu, Syarifah sudah ada di sebuah rumah di kawasan Hang Lekir. Ia tampak memilah-milah pakaian yang ada di dalam dua keranjang. Segera, ia menata kain alas setrika dan memasang kabel. Ia pu mulai menyetrika. Hampir dua jam juga ia menghabiskan dua keranjang baju. ''Saya tak pernah merasa capek. Padahal yanng disetrika banyak seperti ini,''kata wanita dengan satu anak ini.
Pekerjaan ini sudah lama dilakoninya. ''Sejak gadis, saya sudah kerja jadi PRT. Saya bawa anak kesini merantau ke Batam. Dari Rengat, kami pergi bedua saja. Waktu itu anak saya masih SMA. Sekarang dia kerja jualan kue. Kami harus merantau karena tidak ada lagi yang bisa diharapkan di kampung halaman. Suami saya juga sudah lama meninggal. Sejak anak saja SD,'' kata wanita berkulit hitam ini.
Syarifah memang terbiasa bekerja keras. Walau tubuhnya kurus dan umurnya juga cukup tua, ia sanggup berjalan jauh. Karena setiap kali mendatangi rumah yang menggunakan jasanya, ia hanya berjalan kaki. Dari Legenda Malaka, Legenda Bali sampai Hang Lekir. ''Sebenarnya saya sanggup jalan kaki sampai Taman Mediterania, tapi ibu itu tak tega. Jadi dia tak jadi mencuci dengan saya,'' kata Syarifah.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar