Sholat
Dzuhur di Masjid Nabawi, Madinah baru saja selesai. Sebentar saja,
pelataran masjid yang dihiasi payung raksasa itu dipenuhi orang-orang
yang keluar dari masjid terindah di Madinah ini.
Hampir semua pintu
gerbang disesaki jamaah yang hendak kembali ke hotelnya masing-masing.
Saat-saat seperti inilah dimanfaatkan pedagang-pedagang menggelar
dagangannya. Jadilah pasar dadakan disekitaran gedung-gedung hotel
berbintang. Suara menjadi sangat riuh, karena pedagang laki-laki saling
berteriak menawarkan dagangannya. "Haji..haji..5 real, 10 real,"kata
seorang laki-laki yang mengenakan sorban di kepalanya sambil memegang
satu set taplak meja bersulam benang emas.
Panggilan haji memang
selalu diberikan pada orang-orang yang datang berumroh ke Madinah dan
Mekah. Baik itu pedagang, petugas hotel, pramugari Batavia Air juga
memanggil sebutan haji atau bu hajah saat menawarkan air minum.
Umroh
adalah Pedagang perempuan berkulit keling memilih duduk di sepanjang
jalan menjajakan kerudung, cincin, kaos kaki. Yang laki-laki, berhidung
mancung dan berkulit putih ada yang menjajakan baju-baju gamis, baju
koko, peci, jam tangan, taplak meja, tasbih. Mereka ini adalah pedagang
kaki lima yang selalu siap setiap saat dikejar-kejar petugas penertiban.
Tak heran kalau mereka hanya menggelar dagangannya di atas selembar
kain atau gerobak.
Ketika petugas penertiban datang, mereka tinggal
mendorong gerobak, atau membungkus barang dagangannya dan lari sekencang
mungkin. Terkadang saking terburu-buru, barang dagangannya tumpah ke
jalan. Mereka memilih menyelamatkan barang dagangan dan tidak memikirkan
lagi barang dagangannya yang masih dipegang pembeli. Lucunya lagi,
pembeli ikut kejar-kejaran. Tapi untuk mengejar penjual yang lari tadi.
Di Mekah juga sama kondisinya.
Disepanjang jalan menuju Masjidi Haram,
pedagang bercadar hitam menjual dagangannya di sepanjang trotoar. Siang
itu setelah bubaran sholat fardu zuhur, tiga orang pria Arab yang
menggenakan gamis putih memilih-milih T-Shirt. Tiba-tiba petugas
penertiban datang. Pedagang perempuan asal Afrika itu segera lari dengan
menggendong buntalan kain besar. Lima temannya yang lain juga lari
sekuat tenaga. Tiga pria pembeli tadi akhirnya ikut-ikutan lari sambil
memegang selembar T-shirt. Akhirnya transaksi berlanjut setelah pembeli
berhasil mengejar pedagang yang lari terengah-engah.
"Mulan Jamila,
Luna Maya, syahrini, ayo tenggok kedalam, " kata seorang penjaga toko
aksesoris di kawasan hotel berbintang di Madinah pada tiga orang jamaah
umroh dari Batam.
Yang ditawari hanya tersenyum-senyum saja.
"Ternyata orang Arab tau artis Indonesia,"celetuk Anggi, ibu rumah
tangga dengan satu putra berusia 3 tahun ini pada temannya.
Begitulah
cara penjaga toko menarik pembeli dari Indonesia. Selain itu mereka
juga bisa berbahasa Indonesia. Tawar menawar jadi lebih mudah. Beda
dengan pedagang kaki lima yang sulit diajak komunikasi. Mereka hanya
mengerti bahasa tubuh saja. Jari lima untuk harga 5 real, jari 10
untuk 10 real. "Halal...halal,"kata seorang pedagang sajadah setelah ia
menerima uang dari pembeli. Hanya itulah ucapan yang keluar dari mulut
para pedagang selama proses jual beli.
Pedagang Al quran juga ada
disekitaran pintu gerbang masjid Nabawi, Madinah. Bedanya, mereka ada
hanya saat sholat fardu tiba. Al quran yang dijajakan diatas gerobak
kayu itu dijual dengan harga 20 real. Al quran itu biasanya dibeli untuk
diinfaqkan ke masjid Nabawi. Anggi misalnya, memborong 4 Al quran untuk
diinfaqkan, 3 Al quran infaq pribadinya, yang satu lagi titipan seorang
temannya di Batam. Sebelum Al quran itu diberikan pada pembeli, penjual
memberi stempel bertuliskan arab pada Al quran itu.
Di dalam
masjid, Al quran yang diinfaqkan diletakkan begitu saja didalam rak-rak
yang sudah ada. Ada ratusan Al quran di atur sangat rapi di rak juga
di atas air conditioner yang ada ditiap tiang-tiang masjid.
Al quran ini biasanya dibaca oleh jamaah masjid yang menunggu waktunya sholat tiba atau yang memang beritikaf.
Ada yang selalu tak terduga
Beragam
cerita ketika bertamu ke rumah Allah ini, ada yang lucu namun ada juga
yang membuat jantung berdegub kencang. Karena melihat sesuatu yang
menakjubkan. Orang-orang yang sudah meninggal sering terlihat diantara
ribuan orang di Mekah. Biasanya setelah dihajikan oleh salah satu
anggota keluarga. Tata yang baru saja pulang dari umroh minggu lalu
mengalami hal itu. Selesai menjalani tawaf, sai dan tahalul untuk
menghajikan ayahnya, ia melihat ayahnya berdiri tak jauh dari
kerumunan jamaah umroh. Tapi kemudian menghilang.
Pengalaman lucu
dialami Nurhaya, ia mengaku kehilangan sandal hingga berkali-kali saat
sholat di masjidil Haram. Tapi ia dapat ganti sandal dari pemberian
orang lain lebih banyak dari yang hilang. "Ini sandalnya saya bawa
pulang semua ke Tanjungpinang,"kata penjual kue ketika di dalam pesawat
menuju Batam.
Jika suatu keinginan muncul ketika di dalam masjid,
maka bisa menjadi sebuah kenyataan. Akbaril contohnya, ia ingin
bersedekah di Masjidil Haram tapi tak menemukan kotak amal.
Ia kemudian
dipertemukan dengan seorang pria yang juga seorang supir taxi di dalam
masjid. Yang bercerita tentang masalahnya. Ia butuh uang untuk biaya
operasi istrinya. Akbaril yang tidak mengenal pria asing itu, spontan
memberikan uang 300 real yang tadinya ingin diinfaqkan. Pria itupun
mengucapkan syukur dan pergi. Saat itulah Akbaril merinding ketika ia
lihat pria itu menghilang setelah melewati tiang. Karena tidak percaya,
Akbaril mengejar pria itu, dan tidak menemukannya lagi.
Pelataran Masjidpun Jadi Tempat Menginap
Pelataran
masjid Nabawi tak pernah sepi. Selalu saja ada yang tidur-tiduran. Atau
sekadar ngobrol, makan dan minum bersama. Mereka inilah jamaah umroh
dari Srilangka. Pelataran masjid inilah menjadi tempat menginap. Untuk
mandi, BAK juga BAB, mereka menggunakan toilet masjid. Tidur tanpa alas
dan dilalui orang banyak tidak menjadi masalah. Mereka sepertinya tidak
risih. Anak-anak yang mereka bawa juga dibiarkan bermain. Yang bayi
hanya diberi alas sekadarnya.
Untuk makan, mereka membeli di
sekitaran hotel. Sedangkan untuk minum, tidak perlu beli, karena air
zam-zam banyak tersedia disekitaran masjid. Ada yang hanya memencet
kran saja. Atau mengambil dari galon besar yang ada di dalam masjid.
Tinggal pilih dingin atau tidak. Gelas plastik juga disediakan.
Wanita-wanita Srilangka ini terlihat menonjol karena selalu mengenakan
gamis bermotif bunga dengan warna-warna menyolok. Berbeda dengan jamaah
Iran yang menggenakan Inkarbaloq, atau kain lebar yang ditutupkan ke
seluruh tubuh. Ada yang berwarna hitam namun ada juga yang bermotif.
Inkarbaloq ini sepertinya juga berfungsi sebagai perangkat sholat
seperti mukenah.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar