beranda

Senin, 11 Juni 2012

Melihat Rumah Asuh DSWA di Tanjunguma

Sering Dipanggil Manggung, 50 Judul Drama Diteaterkan  

Di rumah asuh itu teater Insan Kamil yang paling laris dipanggil manggung. Hingga saat ini sudah 50 judul drama diteaterkan oleh anak-anak panti.

Cahyono Saputra, bocah berusia 10 tahun itu asyik membaca buku bersama adiknya Bagus Saputra (9) dan teman-teman sesama anak panti di salah satu ruangan di rumah asuh DSWA di Tanjunguma, Senin (2/8). Keduanya terlihat bersih dan sehat. Berbeda 6 tahun lalu ketika kedua bocah ini dibawa dari rumahnya di kampung nelayan baru di dekat pintu 4 Kawasan Industri Mukakuning.

 ''Dulu anak-anak ini kotor sekali, suka pipis dan buang air besar sembarangan. Yang paling lucu, kalau jalan suka di tengah jalan,'' kata Samani Hasyim, pengasuh di Rumah Asuh DSUA.

Kedua bocah ini memang memiliki orangtua yang masih hidup. Tapi ibunya mengalami kelainan jiwa. Sedangkan bapaknya suka memukuli anak-anaknya. Akibatnya, tiga anak laki-lakinya tidak terurus dan mengalami trauma fisik. Mereka sering tidak mandi, jika lapar mereka naik pohon nangka dan memakan nangka yang masih muda.

Kaki kanan Cahyono pun terlihat cacat, ada luka memanjang yang  sudah mengering. Yang terlihat hanya jempolnya saja. Empat kuku lainnya menjadi satu. Cahyono dan Bagus sangat beruntung karena mereka segera dibawa ke rumah asuh. Sedangkan adik bungsunya, Aziz masih tinggal bersama orangtuanya.

Informasi dari Angelina, guru sukarela yang selalu mengajar anak-anak di Kampung Nelayan Baru, kondisi Aziz (7) makin memprihatinkan. Dia tetap tidak pernah mandi. Tapi sekarang dia mulai ikut-ikutan merokok. ''Dia suka gabung dengan pemancing. Maklum lah, karena keseringan melihat pemancing itu merokok juga minum-minuman keras, dia jadi ikut-ikutan. Bisa juga karena ditawari atau diajari,'' kata Angelina beberapa waktu lalu pada Batam Pos.

Mendengar kondisi Aziz seperti itu, Samani Hasyim, ingin mengambil Aziz agar diasuh bersama dua abangnya. Dia ingin menjadikan Aziz, hidup dengan kondisi yang normal seperti abangnya. Bahkan bisa berprestasi seperti anak-anak panti lainnya.

Rumah asuh ini adalah salah satu program Lembaga Amil Zakat Dompet Sosial Ulil Albab (DSUA), selain pondok pesantren (ponpes) Amani yang berlokasi di Tiban. Di ponpes itu dididik anak-anak dari keluarga kurang mampu menjadi Tahfidz Quran (penghafal Quran).

''Total ada sekitar 200 anak yang diasuh di sini. Dari angkatan I hingga angkatan IV. Setelah tamat SMU dan bekerja, anak-anak kami kembalikan ke keluarganya. Tapi jika ada yang ingin tetap tinggal di sini, karena tidak memiliki orangtua lagi, kami tetap terima,'' kata Samani yang didampingi Waryo Burhanudin, Ketua Yayasan DSUA.

Rumah asuh ini, kata Waryo, sudah multi fungsi. Karena tidak hanya mengasuh anak-anak yatim piatu atau anak-anak dari keluarga kurang mampu juga anak jalanan, melainkan juga ada sanggar teater Insan Kamil. Anak-anak panti diajari tari, kompang, drama dan syair. ''Grup teater Insan Kamil ini paling laris dipanggil tampil di Batam. Sudah 50 judul drama dimainkan anak-anak. Bahkan cerpen karya alm Nurul F Huda yang judulnya Kopiah Ajaib sudah dimainkan anak-anak dalam bentuk teater,'' kata pria bertubuh subur ini.

Di rumah asuh ini juga ada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Pendidikan Quran (TPQ). Kata Samani, ketika didirikan tahun 2008, anak-anak yang belajar di sini gratis. ''Tapi akhirnya kami terapkan subsidi silang,'' tambahnya.

Dari 200 anak yang diasuh paling banyak dari Tanjungpiayu, Nongsa, Batuaji, juga Batu Besar. Anak-anak pulau hanya Belakang Padang dan Pulau Panjang. Bahkan korban Tsunami Aceh juga diasuh di tempat ini. Seperti M Kepen (12) dan adiknya M Adan (10), dua bocah laki-laki ini dititipkan ibunya yang sekarang bekerja sebagai TKI di Malaysia. Sedangkan bapaknya sudah meninggal, rumahnya di Aceh hancur terkena Tsunami.

Warsih Sri Rezeki (8), siswa kelas I Madrasah Ibtidaiyah ini juga sudah menganggap rumah asuh ini  adalah rumahnya. Bahkan Samani, pengasuhnya itu dianggapnya ayahnya saja. Ia terus bermanja-manja duduk dipangkuan Samani. ''Pak hari ini kita buka puasa di mana?'' tanya Warsih sambil bergelayut manja. ''Nanti kita buka di hotel baru di Penuin, '' jawab Samani sambil membagi pangkuannya untuk anak laki-lakinya.

Gadis cilik ini tak pernah tau ibu apalagi ayahnya. Karena sesaat setelah dilahirkan di jalan, ia langsung diselamatkan warga. Ibu Warsih mengalami gangguan jiwa, ia ditinggal suaminya ketika hamil. Suaminya pergi karena tak sanggup tinggal bersama perempuan yang hilang ingatan. Setelah ditinggal suaminya, ibu Warsih hidup di jalan. Hingga akhirnya hamil dan melahirkan di jalanan. ''Dia sempat dirawat empat bulan oleh warga dan diserahkan ke kami. Waktu datang, kakinya sudah luka terkena kena air panas seperti ini, '' kata Samani sambil menunjuk luka itu, namun Warsih cepat-cepat menarik kakinya dan menyembunyikan di dalam rok panjangnya.

Siang itu, anak-anak terlihat asyik membaca buku di lantai 2 rumah asuh berbentuk rumah panggung ini. Sebagian ada yang tertidur di lantai beralaskan karpet plastik. ''Di sini ada Taman baca. Berbagai koleksi bukunya dibeli dari uang denda. Anak-anak yang tidak ikut didik subuh (kegiatan setelah sholat Subuh seperti pidato, MC, hafalan juga ceramah) wajib bayar denda,'' terang Samani.

Samani mengaku sering juga dihadapkan dengan anak-anak yang sulit diatur. Biasanya, kata Samani, ia akan memulangkan anak tersebut kembali ke orangtuanya. ***


Tanpa Uang Jajan
Tetap Berprestasi

Dari 27 anak yang masih sekolah, kata Samani, tidak pernah dibiasakan membawa uang jajan. Semua bekal sudah disediakan oleh tukang masak. Mulai dari nasi sampai dengan kue. Sebelum berangkat sekolah sudah sarapan. Dua puluh anak di antaranya masih duduk di bangku sekolah dasar, yang SMP hanya 1 anak, SMU 5 anak, dan TK juga 1 anak saja.

Mereka ini, tambah Samani selalu dilibatkan pada berbagai kegiatan. ''Alhamdulilah sudah banyak prestasinya. Mulai dari Juara Umum Parade Anak Nusantara 2010, Juara Cerdas Cermat tingkat TPA, Juara Azan, Juara Nasyid, juara tari,'' kata Samani yang harus berhenti menjadi marketing Zakat setelah terkena Diabetes. (agn)


Tidak ada komentar: