beranda

Senin, 11 Juni 2012

Melihat Pondok Pesantren Tahfizul Quran Amani di Tiban 3

Umur 12 Tahun Sudah Hafal 25 Juz

Di daerah asal mereka putus sekolah. Tapi di Batam, mereka disekolahkan bahkan menjadi tahfidz Quran (penghafal Quran).
Suara azan sholat Ashar terdengar sangat jelas di komplek Batam Nirwana Residen Tiban 5. Anak-anak umur belasan tahun berpakaian jubah putih keluar satu persatu dari rumah di blok  E2 no 1 itu. Semuanya berjalan menuju masjid yang terletak di bagian belakang rumah tipe 36 ini. Ke 27 anak laki-laki itu adalah santri yang tinggal di pondok pesantren Tahfizul Quran Amani.

Mereka dididik secara khusus sebagai tahfidz Quran. Anak-anak dari keluarga duafa ini sudah belajar selama dua tahun. Rata-rata mereka sudah bisa menghafal 20 juz. Bahkan ada yang sudah menghafal hingga 25 juz.

Ridwan, namanya. dia adalah satu-satunya santri yang mampu menghafal juz terbanyak. Pada Musabaqah Tilawatil Quran 2010 lalu, Ridwan mengharumkan nama Batam dengan meraih juara 2 se-Kota Batam.

Dua tahun lalu, Ridwan hanyalah bocah putus sekolah di Tembilahan, Riau. Orangtuanya yang hanya seorang petani tak mampu membiaya sekolah anaknya ini. Tapi kini, Ridwan sudah sekolah lagi bahkan sudah duduk di bangku kelas 2 SMA.

Yang satu ini juga membanggakan. Walau bukan menjadi juara dalam sebuah pertandingan, namun RiZky mampu membuat warga kampung di Sungai Solok, Kampar, Riau menjadi peduli pendidikan agama untuk anak-anaknya.

''Bulan puasa tahun lalu, kami dari pihak pondok pesantren membiaya Rizky mudik. Di kampungnya, Rizky diminta warga menjadi imam shalat Tarawih. Melihat kepiawaian Rizky dalam menghafal Quran, seluruh jamaah yang juga warga kampung itu terharu lalu minta agar anak-anaknya bisa belajar di pondok pesantren,''  kata Ustad Jefri, pimpinan pondok pesantren Tahfizul Quran Amani kepada Batam Pos di pondok Pesantren Tahfizul Quran Amani di Tiban 3, Selasa siang lalu.


''Dari 10 anak yang berminat, kami seleksi hanya 3 orang. Dan Ali, Zulfikar juga Moh Ridwan yang kami pilih, mereka benar-benar dari keluarga duafa. Karena memang orientasi kita adalah membantu pendidikan keluarga tidak mampu dan menjadikan santri yang hafal Quran (tahfidz Quran),'' tambahnya.

Rizky, Ali, Zulfikar juga Moh Ridwan adalah anak-anak dari pekerja pengupas kelapa. Sehari-hari orangtua mereka hanya menerima upah Rp5000 untuk 100 kelapa yang telah terkupas. Minimnya  penghasilan keluarga inilah membuat Rizky, Ali, Zulfikar, Moh Ridwan dan teman-temannya yang lain tidak bisa sekolah. Beruntunglah, pihak pondok pesantren Tahfizul Quran Amani memilih mereka untuk dididik.



Di pondok pesantren, Rizky dan teman-temannya dilatih hidup sederhana. Makan dua kali dalam sehari sudah biasa diterima Rizky. Bahkan tidur di masjidpun harus dijalani Rizky bersama temannya. ''Sebenarnya ini juga karena kondisi pondok pesantrennya. Rumah yang dijadikan tempat tinggal tidak cukup untuk tidur 27 anak dan 3 pengajar. Makanya anak-anak diarahkan tidur di masjid. Rumah ini hanya tempat ganti baju, mandi juga belajar,'' kata Ustad Jefri yang diamini Ustad Idrus, pembimbing senior.

Menurut Ustad Jefri, pembatasan makan pada anak-anak santri dilakukan karena dana yang diberikan Lembaga Amil Zakat Dompet Sosial Ulil Albab (DSUA) selaku pemilik program ini tidak lagi cukup untuk 27 anak. ''Setiap harinya DSUA memberi uang belanja sebesar Rp50 ribu dan uang membeli beras Rp300 ribu untuk 2 minggu,'' ujarnya.

Jefri menambahkan, biasanya anak-anak bisa makan siang dan malam dengan menu sayur dan tempe. Sarapan tidak ada, dan digabung sekalian makan siang. Saat puasa seperti ini paling sulit mengaturnya. ''Anak-anak banyak permintaan, ada yang minta es batu juga lainnya untuk berbuka puasa. Akibatnya uang tadi tidak cukup. Dan terpaksa saat sahur hanya makan nasi dan kecap saja,'' papar Jefri.

Menurut Jefri, pondok pesantren ini juga tidak begitu dikenal. Makanya, anak-anak jarang menikmati buka puasa bersama di luar. ''Tahun lalu, ada tiga instansi yang mengundang kami buka bersama. Sedangkan puasa kali ini, alhamdulilah baru satu yang berkenan mengundang kami,'' kata ustad yang sangat dekat dengan santri-santrinya.

Walau kondisi biaya operasional minim, namun tidak menyurutkan semangat ustad Jefri untuk menghasilkan hafiz Quran. Apalagi melihat semangat anak-anak belajar juga tinggi. Sejak subuh, santri-santri sudah mulai belajar. Kegiatan terus berlanjut hingga pukul 11 siang. Setelah istirahat makan sebentar, dilanjutkan lagi hingga ashar. Usai shalat Ashar, anak-anak harus menunjukkan hafalannya. Jika tidak hafal, maka hukuman akan diterima santri. ''Biasanya kepalanya dibotaki atau jari tangannya dipukul dengan rotan. Tapi ini tidak sakit, karena daerah dekat kuku tangan tidak membuat rasa sakit,'' kata Ustad Idrus.

Setelah Magrib hingga Isya, menerima pelajaran tartil Quran juga teknik berceramah agama. Setelah shalat Isya, setiap santri wajib menghafal setengah lembar. Hasil hafalan itu akan diuji pada subuh. Begitu seterusnya yang dilakukan santri setiap hari dari pagi hingga pagi lagi.

Di pondok pesantren Tahfizul Quran Amani ini, santrinya dari berbagai daerah. Yang terjauh dari Lombok. Dia adalah Supriansah, kini sudah berumur (18). Ketika datang Supriansah masih berumur 14 tahun. Yang paling dekat yaitu pulau Setokok, ada Darul (13) yang dititipkan orangtuanya karena tidak mampu menyekolahkan anaknya. Sedangkan Rofiq (10) dari Tiban Kampung.

Mereka hanya bisa pulang ke kampung halaman jika dibiayai pihak pondok. Orangtua merekapun tidak akan mampu membiaya kepulangan anaknya. Karena itu, para santri ini harus kuat berjauhan dengan orangtuanya.

Untuk biaya pendidikan formal, pihak pondok juga bergantung pada DSUA. Karena minimnya dana, maka para santri harus mau berjalan kaki ke sekolah. Seperti 5 orang santri yang duduk di bangku SMU Iskandar Muda di Sekupang. Mereka harus berjalan kaki sejauh 2 km dari rumah hingga sekolah. Demikian juga 7 santri yang masih SD. Mereka belajar home schooling di Tiban 3. Tiga belas santri yang duduk di bangku MTS ikut paket B seminggu 3 kali di Tanjung Riau. Semua biaya ditanggung DSUA, namun untuk transportasi tidak ada. Karena itu, anak-anak terpaksa jalan kaki.***


Satu-satunya Hafiz yang Bersetifikat

Santri tahfidz dari pondok pesantren Tahfizul Quran Amani ini saja yang memiliki sertifikat. Menurut Ustad Jefri, pimpinan pondok pesantren Tahfizul Quran Amani. Di Indonesia belum ada yang memberikan sertifikat. Hanya di pondok pesantren ini saja. Tim pengujinya saja adalah Hamdani dan HM Dirham dari Departemen Agama, penguji internal H Zainal serta penguji undangan Ustadz Bahtiar.
Bahkan Ria Saptarika, yang saat itu menjabat sebagai wakil walikota Batam juga didaulat untuk menguji dua orang santri.Ujian Tahfidz Quran santri Ponpes Amani Batam ini sudah dilakukan pada 2 Januari 2011 lalu. Dengan menguji 17 orang santri. Ujian seperti ini akan terus kita lakukan secara rutin setiap tahunnya. Untuk melihat penambahan jumlah juz yang dihapal tiap santri," jelas Pimpinan DSUA, Waryo.

Saat itu, tiap santri diuji sesuai dengan kelompok kemampuannya masing-masing. Ada yang hapal 1 juz, 4 juz, 5 juz, 12 juz, dan 30 juz. (agn)

Tidak ada komentar: