beranda

Senin, 11 Juni 2012

Melihat Para Lansia di Negeri Singa

Di Usia 72 Tahun, Poh Masih Produktif

Singapura sangat ramah dan peduli lansia. Mereka tetap boleh bekerja untuk hidup. Tujuan hanya untuk membahagiakannya, juga memberikan pendidikan kepada generasi muda.
Sejak pukul 07.00 Waktu Singapura, Poh Ah Sai sudah mulai bekerja. Hari itu, Senin (11/7), Poh Ah Sai mendapat giliran membersihkan kamar di lantai 3 Hotel Grand Central. Mengenakan stelan celana kain hitam dan kemeja putih, yang menjadi baju seragam cleaning service, pria yang kini berusia 72 tahun ini mendorong troli yang sarat dengan kain sprai, handuk, tisu juga sampah. Poh Ah Sai sudah bekerja selama 20 tahun di hotel di kawasan Orchard Road ini tetap terlihat sigap. Tiap kamar ia memakan waktu setengah jam untuk memberikan. Waktu itu bisa tambah lama, jika kamar yang harus dibersihkan itu dalam kondisi sangant kotor dan berantakan.
'' Saya senang bisa tetap bekerja. Walau umur saya sudah banyak,'' kata pria yang sudah memiliki rumah sendiri kepada Batam Pos beberapa pekan lalu.

Poh Ah Sai tidak sendiri, teman sekerjanya, Susan Loi juga menikmati hari tuanya dengan bekerja dan bekerja sepanjang hari. Wanita yang tidak menikah ini sudah berumur 58 tahun. Ia sudah memiliki rumah dari hasil kerjanya. Setiap bulan Susan bisa menyisihkan uang dari gajinya yang hanya 1000 dolar Singapura.

Susan sudah bekerja di hotel bintang tiga itu hampir 18 tahun. Ia mengaku tidak punya waktu untuk mencari pasangan. Tak heran, jika Susan tidak berniat menikah dan memiliki anak. Setiap hari ia harus bekerja sejak pukul 07.00 dan pulang ke rumah pukul 19.00. ''Biasanya pulang kerja tidur. Kadang-kadang saja jalan-jalan. Kalau sudah capek, pulang dan tidur saja,'' kata wanita bertubuh subur ini.

Sambil ngobrol, Susan terus menyelesaikan pekerjaannya. Keringat sebesar biji jagung terlihat di keningnya. Ia lalu mengambil vakum cleaner membersihkan karpet yang penuh dengan nasi. ''Oi..kotor sekali. Banyak anak lah,'' keluh Susan sambil membersihkan kamar yang ditempati sebuah keluarga dengan 4 anak yang masih kecil.

Selesai membersihkan lantai, Susan bergegas ke toilet. Diambilnya handuk yang sudah terpakai dan digantinya dengan handuk yang masih bersih. Ia lalu membersihkan meja dan mengatur barang-barang yang berserakan di atasnya. Lalu dilap, dan dibersihkan televisi berukuran 21 inch itu. Baju-baju yang berserakan di dalam toilet juga dirapikan. Selesai sudah satu pekerjaan Susan di kamar bernomor 315 itu. Hari itu ia harus membersihkan kamar di lantai 5. Total ada sekitar 400 kamar yang ada di hotel berlantai 9 ini yang harus dibersihkan Susan Loi juga Poh Ah Sai.

Tak hanya Susan dan Poh Ah Sai yang masih bekerja sebagai cleaning service di hotel saat usia lanjut. Rekan-rekan seumurannya juga terlihat bekerja menjadi cleaning service di Pelabuhan Internasional Harbour Front, Bandara Changi, di stasiun-stasiun MRT (Mass Rapid Transit), pusat perbelanjaan (mall), pujasera hingga trotoar jalan-jalan utama.

Selain sektor kebersihan, di negeri yang pada abad 14 dikenal dengan nama Temasek ini para lansia itu juga banyak yang berjualan es krim dan es potong. Mereka dapat dicari di pusat-pusat keramaian seperti: Orchard, Chinatown, Bugis, Tampines, dll. Bahkan seorang lansia penjual es potong di depan konter Gucci di Orcard Road menderita parkinson (penyakit degeneratif syaraf yang ditandai dengan tangan yang terus gemetar). Namun pria tua itu tetap dapat memotong es krim berukuran balok besar menjadi ukuran yang lebih kecil. Dan ia juga bisa memasukkan es krim itu ke dalam  gelas plastik berukuran kecil.

Tangannya yang terus gemetar itu juga bisa meletakkan wafer dan roti tawar di antara es krim. Namun antrean pembeli menjadi panjang, karena pria tua itu tidak bisa melakukannya dengan cepat.

Di pujasera Harbour Front juga banyak pekerja orang tua. Mereka bertugas membersihkan meja dan mengambil piring kotor. Dua orang wanita sangat tua dan seorang pria yang tak kalah uzur. Yang wanita, jalan tertatih-tatih dengan tubuhnya yang sudah bungkuk. Mengambil piring kotor dari satu meja ke meja yang lain. Yang pria, walau belum terlalu bungkuk, namun tubuhnya terlihat sangat kurus. ''Finish,'' tanya orangtua itu kepada pelanggan yang masih duduk di meja itu.

Berbeda dengan Kim Ching. Ia lebih beruntung dapat bekerja di kantor. Karena ia seorang pensiunan polisi. Kim yang kini berusia 69 tahun dapat bekerja sebagai petugas yang melakukan tes ketika mengambil surat izin mengemudi. Kim, juga bisa menikmati hari tuanya di rumahnya yang ada di kawasan Boon Lay.

Sebagai catatan dari sekitar 5 juta penduduk Singapura saat ini, lebih kurang 7 persennya adalah penduduk yang berusia 65 tahun ke atas. Dengan adanya peluang lapangan kerja, bagi mereka pasti cukup melegakan. Jika tidak ada kesempatan itu, mereka harus bersaing dengan yang muda-muda.

Peluang kerja ini diatur dalam dekrit yang dikeluarkan oleh Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew. Dalam Dekrtit itu dijelaskan larangan kepada orangtua untuk tidak menghibahkan harta bendanya kepada siapapun sebelum mereka meninggal. Aturan ini dibuat setelah Mr Lee melihat sendiri seorang anak menyia-yiakan orangtuanya dan membiarkan orangtuanya tinggal di jalan.

Kemudian, agar para lansia itu tetap dihormati dan dihargai hingga akhir hayatnya, maka dia buat dekrit lagi. Yaitu memberi pekerjaan kepada para lansia. Agar para lansia ini tidak tergantung kepada anak menantunya dan mempunyai penghasilan sendiri dan mereka sangat bangga bisa memberi angpao kepada cucu-cucunya dari hasil keringat mereka sendiri selama 1 th bekerja. Yaitu dengan cara, semua toilet di Changi Airport, mall, restaurant, petugas cleaning service adalah para lansia.

Jadi selain para lansia itu juga bahagia karena di usia tua mereka masih bisa bekerja, juga mereka bisa bersosialisasi dan sehat karena banyak bergerak. Kenapa mereka tidak diberi pekerjaan di kantor? Karena lansia itu bukan orang yang berpendidikan tinggi dan sebagian besar adalah mantan ibu rumah tangga 100 persen.

Dan juga memberikan pendidikan sosial yang sangat bagus buat anak-anak dan remaja di sana. Bahwa pekerjaan membersihkan toilet, meja makan di resto itu bukan pekerjaan hina, sehingga anak-anak dari kecil diajarkan untuk tahu menghargai orang yang lebih tua.


Kebijakan Singapura yang menyediakan secara khusus lapangan kerja bagi para lansia ini sekaligus untuk mengatasi persaingan di negeri yang dirintis Sir Thomas Stamford Raffles ini. Para lansia harus bisa bertahan hidup di negara dengan standar kehidupan termahal ke-5 di Asia dan ke-14 di dunia. Jika tidak disediakan mata pencaharian khusus bagi mereka tentunya bersaing dengan penduduk yang masih muda tidak akan mudah. ***


300 Dolar Dipotong untuk Pensiun

Wanita itu sudah terlihat tuanya. Badan yang bungkuk dan rambut uban menanda ia sudah berusia di atas setengah abad. Susan (58) yang mengenakan baju putih bergaris-garis itu, petugas kebersihan di Hotel Grand Centrel.

Di usia senja Susan mengaku ingin tetap bekerja walau harus mengorbankan dirinya. Ia sudah berniat tidak akan pernah menikah. Karena dia merasa sudah sangat tua. Ia juga tidak punya waktu untuk mencari pasangan. Hari-harinya diisi dengan bekerja. ''Money..money...always money....,'' kata wanita terkenal ramah dengan para turis yang menginap.

Susan adalah salah satu contoh wanita Singapura. Ia merasa sangat penting mengisi hari-harinya dengan bekerja. Karena dari bekerja, ia bisa hidup. Uang pensiun juga didapat dari bekerja. ''Kalau tak kerja, saya tak dapat uang pensiun. Karena setiap bulannya uang saya dipotong 300 dolar Singapura. Jadi uang pensiun itu bukan dari perusahaan tempat bekerja, tapi uang saya yang dititipkan di perusahaan. Kalau sakit, hotel yang tanggung, '' kata Susan yang senang bercanda ini.

Jadi bagi Susan, bekerja akan lebih aman dibandingkan diam di rumah. Walaupu ia sudah tua, tapi bukan halangan untuk bekerja. Ia bahkan merasa capek kalau tidak bekerja. Mungkin karena sudah terbiasa bekerja. (agn)





Tidak ada komentar: