beranda

Senin, 11 Juni 2012

Melihat Aktivitas Anak-anak di Panti Asuhan Permate, Batuaji

Menyisir Anak tak Mampu agar Sekolah

Hanya dengan modal keinginan kuat akhirnya berdiri sebuah panti asuhan. Ia menyisir anak-anak kurang mampu hingga Barelang agar mereka sekolah. Jerih keringat itu pun kini memperlihat hasil walau keadaan yang memperhatikan.

Rumah bernomor 10 di blok A Perum Buana Impian riuh. Anak-anak laki-laki dan perempuan bercanda sambil membuat kerajinan tangan di teras rumah. Yang perempuan membuat bros dan tirai dari sedotan, yang laki-laki membuat amplop tempat ampau.

 Anak di Panti Asuhan Permate, Batuaji itu mempersiapkan untuk menyambut Idul Fitri yang hanya tinggal sebulan lebih. Nanti bros dan ampau akan dipakai dan dibagikan untuk mereka pada hari sangat suci tersebut.

Ada sekitar 27 anak berasal dari keluarga tidak mampu dibina Suharmanto, operator PT Ciba Vision bersama istri, Indra Ru'yani, guru TK Asakinah. Panti ini berawal dari keinginan membantu anak-anak yang tidak sekolah. Suharmanto bersama teman-teman remaja masjid di Tembesi membuat Yayasan Panti Asuhan yang diberi nama Permate (persatuan  remaja masjid Tembesi). Namun kini, hanya berdua saja mereka mengurusi panti asuhan.

Awal berdiri tahun 2008, Suharmanto mendatangi satu per satu rumah di tempat pembuatan batu bata di Jembatan Barelang. Dari penyisiran itulah ditemukan banyak sekali anak-anak yang belum sekolah. Padahal usia mereka sudah 12 tahun. Namun akhirnya, Suharmanto hanya bisa membawa sebagian anak saja.

Ainur misalnya, bocah laki-laki yang kini berusia 9 tahun ini. Sempat tidak sekolah selama satu tahun karena ketidakmampuan orangtuanya  membiayai sekolah. Penghasilan kedua orangtuanya yang bekerja sebagai pembuat batu bata hanya Rp1,5 juta setelah dua bulan bekerja. Demi anaknya tetap sekolah, Ainur dititipkan di panti.

 Ibunda Ainur, Masruroh juga ikut membantu di panti. Ia memasak juga membersihkan rumah. Wanita berkerudung ini sudah harus ada di panti pukul 08.30 WIB karena harus memasak sarapan dan makan siang anak-anak-anak panti.

Ada juga Abdul Rohim alias Baim yang diantar ibunya. Bocah yang kini sudah berusia 3,5 tahun ini dititipkan karena ibunya tidak sanggup mengurus dua anak kembarnya. ''Waktu itu Baim masih berusia satu tahun. Baim kami rawat, sedangkan Abdul Rohman diambil teman kerja suaminya. Ibunya hanya bercerita kalau ia ditinggal pergi suaminya. Setelah menitipkan anaknya, ia pergi dan tidak kembali, dan 3 tahun kemudian dia datang lagi, '' kata Indra Ru'yani pada Batam Pos, Kamis (7/7).

Ainun (8) juga dititipkan ibunya, setelah bapaknya pergi tanpa kabar. Mereka berdua ditinggal begitu saja di tengah hutan Tanjung Kelinging Jembatan 4 selama 3 tahun. Sejak Ainum dititipkan di panti, ibunya  bekerja sebagai TKW di Hongkong.

Aminah, adalah satu-satunya anak tertua di panti. Ia baru saja menyelesaikan sekolahnya di SMA. Kini Aminah menjadi staf administrasi di SD IT Insan Harapan. Ia adalah anak yatim yang tinggal bersama neneknya. Karena neneknya tidak sanggup menyekolahkan hingga SMA, Aminahpun dititipkan di panti. Aminah adalah korban keluarga yang berantakan. Ibunya tidak perduli lagi dengan keberadaanya. Akibatnya, Aminah sangat membenci ibunya. Samapi sekarang Aminah tak ingin bertemu ibunya. Ia memilih tinggal di panti.

Seorang bocah laki-laki  mengenakan kaos kuning tiba-tiba mendekat. Ia mengenalkan namanya Hendrik. Tapi ketika ditanya nama orangtuanya, dia hanya menunduk sambil menggelengkan kepalanya. Hendrik sudah berumur 12 tahun namun belum bisa disekolahkan karena tidak ada satu pun dokumen yang dipunyai bocah ini. Hendrik memang dibawa oleh pengurus Masjid Agung Batam Center.

Ketika ditanya asalnya, Hendrik mengaku berasal dari Padang. Datang ke Batam dengan kakek. Tapi Hendrik tidak tahu lagi tempat tinggal kakeknya itu. '' Saya ngak tau lagi kakek dimana. Makanya saya jualan koran untuk beli nasi, '' kata bocah pemalu ini.
''Insya Allah tahun ini kami akan menyekolahkan Hendrik. Dengan mengikuti paket C dulu, ''kata Suharmanto.

Karena setiap tahun Suharmanto dan istri selalu kesulitan memasukkan sekolah anak-anak panti yang tidak memiliki dokumen seperti akte lahir, Pasangan suami istri ini mendirikan sekolah dasar Islam terpadu Insan Harapan. '' Baru satu lokal. Kami sewa gedung di Tembesi. Tahun ini baru menerima siswa.  Sekarang sudah 25 anak yang mendaftar. Anak-anak ini campuran dari keluarga tidak mampu dan mampu. Yang mampu kami bebankan biaya, '' tutur ibu dari dua anak ini.

Sambil berbincang, Batam Pos diajak melihat-lihat kamar anak-anak panti di lantai dua rumah tipe 45 ini. Ruangan di lantai dua itu disekat dengan triplek menjadi dua kamar. Kamar belakang menjadi kamar tidur anak-anak perempuan. Hanya ada sebuah tempat tidur dan beberapa kasur yang ditumpuk diatas tempat tidur. '' Di sinilah ke 12 anak perempuan tidur. Mereka harus tidur beramai-ramai di kamar yang sempit ini. Kadang pintu harus dibuka karena panas. Karena itu saya ingin segera bisa membuat kamar tidur di tanah samping. Supaya anak-anak ini bisa tidur dengan nyaman. Satu kamar lagi, bisa digunakan untuk belajar. Karena mereka belum punya tepat belajar. Biasanya di teras, tapi berisik dan sering diganggu adik-adiknya yang lebih kecil, '' kata wanita yang masih melanjutkan kuliah.

Rak kayu tanpa pintu berisi buku diletakkan di panjang lorong kamar. Sedangkan di ruang belakang di lantai atas juga ada rak kayu lain berisi baju-baju. Ruang kecil itu hanya beratap terpal saja. Tempat tidur anak-anal laki-laki hanya di ruang tamu.Karena itu mereka sering kesulitan ketika harus belajar dengan tenang. ''Akhirnya mereka mencari tempat sendiri-sendiri, mencari sudut-sudut sepi, '' kata Indra Ru'yani.

Namun keterbatasan itu tak membuat anak-anak panti tidak berprestasi. '' Rata-rata mereka masuk rangking 10 besar. Bahkan Silvi, Silsa juga Aminah meraih rangking 1, ada juga yang rangking 5. Hanya 2 orang saja yang tidak mendapatkan rangking. Yang membanggakan ada 2 orang anak yang bisa masuk SMK Negeri, '' kata wanita ini lagi.***

Mereka Diberi Motivasi

Menurut Suharmanto, anak-anak sudah terbiasa termotivasi. Karena setiap hari Minggu, kami berkumpul dan saling memberi semangat. Bahkan jadi ajang curhat. ''Saya selalu mengingatkan anak-anak bahwa orang besar juga ada yang berasal dari keluarga susah. Karena itu ayo berprestasilah, karena hanya itu yang bisa membanggakan orangtua dan mengubah keadaan menjadi lebih baik, '' kata pria asal Purworejo.

Satu hal lagi yang selalu diingatkan Suharmanto pada anak-anak,  bahwa lebih baik tangan di atas dibandingkan tangan di bawah. Maksudnya anak-anak harus mandiri untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Jangan hanya minta saja. Karena itu, anak-anak mulai diajari ketrampilan. Tak heran kalau, bros untuk kerudung itu bisa dibuat oleh bocah-bocah berusia 7 tahunan. Tirai dari sedotan juga amplop untuk ampau juga bisa dibuat bocah-bocah cilik ini. Bahkan mereka juga sudah diajari cara membuat dan berjualan burger. Ada juga yang belajar ke bengkel. ''Saya tanya satu per satu minta mereka. Lalu saya arahkan sesuai dengan keinginannya. Seperti yang dibengkel itu, dia ingin selesai sekolah buat bengkel. Karena itu saya titipkan di bengkel teman setiap hari libur untuk belajar,'' kata pria yang berencana membuta cucian motor di depan panti asuhan.

Kondisi keuangan yang pas-pas dan tidak adanya donatur tetap membuat Suharmanto dan istri selalu menggunakan uang gaji untuk menghidupi anak-anak panti asuhan. Biaya makan perhari Rp 250 ribu juga beras 180 kg per bulan, uang saku dan uang transport anak-anak sekolah , uang spp dan uang cicilan pinjaman bank sebesar Rp1,2 juta untuk membeli rumah yang dijadikan panti asuhan ini menambah beban pasangan suami isri ini. '' Kami tidak pernah memikirkan itu. Agar tidak menjadi stres. Kasihan anak-anak pasti melihat kami, mereka bisa ikutan stres. Jadi kami pasrahkn saja. Tapi kami yakin bahwa rezeki itu pasti ada, '' kata Indra Ru'yani.

Tidak ada uangpun pernah dialami keduanya. Biasanya kami menghutang bahan-bahan makanan dulu ke kedai, setelah ada uang dibayarkan. Jika hanya ada uang Rp100 ribu pun, tetap masak. Hanya lauknya saja yang disesuaikan dengan keuangan. Jika ada rezeki, belanja Rp300 ribu bisa untuk membeli ikan atau ayam. Urusan belanja diserahkan pada Mbah Opong. Wanita lanjut usia inilah yang mengurusi makanan anak-anak. Usianya 63 tahun, namun ia terlihat kuat diusianya. Setiap hari mbah Opong berbelanja ke pasar. Setelah itu ia masak. Pagi itu, mbah Opong baru saja pulang dari pasar. Hari ini ia akan masak sayur bening kacang panjang, kol, kentang dan wortel dan sarden.

Mbah Opong adalah bude dari Suharmanto. Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya di panti ini. Karena itu, wanita ini tidak minta digaji. Ia ingin merawat anak-anak panti asuhan. Ingin melihat Anis, Butet, Rike, Hendrik, Nuraini, Silsa, Reihan,Abi, Agin, Ainun dan lainnya menjadi orang sukses.

Keterbatasan dana juga membuat Suharmanto masih menunggak pembayaran SPP. Akibatnya rapor salah satu anak masih ditahan di sekolah. Namun ia yakin, akan ada rezeki untuk anak itu. (agn)

Tidak ada komentar: