beranda

Senin, 11 Juni 2012

Kisah Santi Hariyani, Istri Pria Berkebangsaan Swedia


Dicurigai karena Wajah Tidak Mirip Sama Anak

Di beberapa tempat, ia sering disangkakan sebagai pembantu rumah tangga. Bahkan diamankan petugas di Negeri Jiran karena dituduh melarikan anak menjadi suka duka istri bule.

Senyumnya semringah kala menerima telepon dari daddynya. Pipinya pun tersungging. Bibirnya melebar seakan meluapkan kegembiraan. ''Mom, daddy mau datang  sore nanti,'' ujar Isabella Eva Milton, yang duduk di sopa krem di ruang rumahnya komplek Orchid Park, Batam Kota kepada Santi Hariyani, ibunya, Selasa siang pekan kemarin.

Maklum, sudah hampir tiga bulan, Isabella Eva Milton tidak ketemu Johan Arthur Milton, daddynya. Daddy Bela ini bertugas di Oceaneering, perusahaan lepas pantai sebagai penyelam. Johan kini sedang bekerja di China.  Rencananya pesawat yang membawa daddynya akan mendarat di bandara Changi Singapura pukul 17.00.

Bella sudah tak sabar menjemput daddynya. Ia mendesak pada Santi Hariyani, maminya untuk berangkat ke Singapura besok pagi  pukul 09.00 WIB. Namun kegembiraan Bella tiba-tiba berubah menjadi kesedihan ketika diberitahu maminya, hotel langganan perusahaan daddynya di Singapura penuh. Artinya mereka batal menginap. Bella pun  menangis. 

Sambil memeluk Bella, Santi memberi penjelasan. Tak lama tangis bocah berusia 8 tahun ini terhenti.  Ia pun berubah ceria lagi. Dan kembali bermain. Di taman belakang rumah yang luas di perumahan Orchid Park Blok E no 84 ini, Bella bermain seorang diri. Tiba-tiba ia sudah masuk kembali ke dalam rumah menggendong seekor kucing belang. '' No, Bella, Cat is dirty, '' kata Santi melarang putrinya.

Bela adalah putri semata wayang Santi dan Johan. Gadis berwajah indo ini sudah duduk di kelas 2 Sekolah Global. ''Bella, anak yang mandiri dan tidak cengeng. Dia tidak pernah merengek minta bertemu dengan daddynya. Ia cari daddynya jika daddynya ada di rumah. Tapi saat daddynya bekerja, dia tidak akan cari, '' kata wanita kelahiran Madiun tahun 1976.

Santi pun bercerita semenjak melahirkan Bella, ia selalu dihadapkan pada kejadian-kejadian yang menggelikan. Santi mengaku sering disangka baby sitter yang sedang menjaga anak majikan. Ketika tinggal di Malaysia selama dua tahun itulah, Santi sering ditanyai. Sore hari ketika jalan-jalan membawa Bella dengan stroller, ibu-ibu di sana suka sekali mengira saya pembantu. ''Awak kerja sini, ke mana punya emak ?. Lalu saya jawab saja. ''Di rumah, bos lagi tidur,'' kata Santi.

Santi mengaku menjawab seperti itu karena sudah jengkel. Setiap kali jalan membawa Bella, pasti ada saja yang bertanya seperti itu. Yang paling menyebalkan ketika sedang antre check in bording pass di bandara  Internasional Kuala Lumpur. ''Saya yang sedang menggendong Bella dianggap pembantu rumah tangga oleh seorang wanita bule yang ada di barisan depan,'' tambahnya.


 Ketika petugas menanyakan apakah yang di belakang itu anaknya, wanita bule itu mengiyakan. Saat itu Santi tepat di belakang bule itu sambil menggendong Bella. Petugas pun percaya saja. Karena saya dan Bella tidak mirip. Bella berwajah bule, sedangkan saya tidak. Wanita bule itu berbohong agar tidak antre terlalu lama. Karena dia tahu wanita yang membawa anak lebih didahulukan masuk.

Ada lagi yang paling membuat Santi kesal. Ketika sedang jalan-jalan berdua dengan Bella di Kuala Lumpur City Center (KLCC). Seorang petugas Intel Malaysia menggiring Santi dan Bella ke dalam kantor. Mereka bertanya tempat tinggal dan identitas. '' Ini anak awak ? Saye mau cek, ini ada operation. Saya lihat baby puteh, awak tak ?, '' kata petugas Intel Malaysia itu.

''Mereka tak percaya kalau Bella anak saya. Mereka lihat Bella berwajah indo, sedangkan saya tidak. Mereka curiga saya membawa lari anak orang. Akhirnya setelah mereka lihat sendiri paspor, mereka percaya dan minta maaf, '' kata Santi.

Santi mengaku, orang Malaysia tak pernah percaya kalau orang Melayu bisa menikah dengan pria bule. Karena di Malaysia belum ada yang melakukan pernikahan seperti itu. Tak heran jika melihat orang berwajah melayu membawa anak bule disangka pembantu rumah tangga atau melarikan anak majikan.
''Orang baru ke awak? Kerje di mane, '' kata mereka setiap kali bertemu saya. Mereka tidak pernah melihat penampilan. Padahal kata Santi, dia sudah berpakaian terbaik dan berdandan. Tapi tetap saja di sangka pembantu rumah tangga.

Tantangan lain juga dihadapi Santi, sejak menikah dengan pria berkebangsaan Swedia, sebelas tahun lalu. Santi dan Bella sering ditinggal berdua. ''Selama satu tahun, suami saya hanya pulang tiga kali saja. Kali ini dia off  sampai 6 minggu. Ini libur terlama. Biasanya tiga hari saja, setelah itu sudah kembali bekerja, '' kata Santi.

Santi mengaku, karena terbiasa berjauhan. Setiap kali Johan libur agak lama, yang terjadi justru bertengkaran. Menikah dengan pria bule kata Santi, tak selalu menjanjikan kehidupan yang mewah. Buktinya, dia dan Johan sama-sama tidak memiliki harta apapun. Johan masih bekerja sebagai penyelam pencari barang-barang antik di Malaysia dan Santi, bartender di Napoli Pizza di Nagoya.

 Ketika menikah tahun 2000, keduanya tinggal di kamar kos yang disewa seharga Rp 300 ribu perbulan. '' Johan sering kok naik ojek, bahkan dia juga sering menawar ongkos ojek, '' kenang Santi.

''Waktu itu saya sempat sedih juga. Ketika harus bersusah payah sendirian membawa belanjaan, menggendong Bella sambil mencari taxi. Rasannya kok susah banget punya suami tapi seperti punya suami. Tapi kondisi seperti ini juga yang membuat saya mandiri dan terbiasa hidup sederhana dan tidak banyak menuntut, '' kata Santi.

Kata Santi, ketika Johan mengirim uang, dia selalu bilang bahwa uang itu digunakan sebaik mungkin.
''Kamu ingat kah, kalo kerja belum tentu dapat uang sebanyak itu. Bersyukur saja. Uang bukan jatuh dari pohon kelapa, bukan berarti dapat uang lalu dihamburkan, '' kata Johan. Memang kadang ada juga teman-teman yang menggoda. ''Enak lu San, suami kasih uang terus. Kenapa nggak shopping aja, '' kata Santi meniru omongan temannya.

 Tak terasa, dari penghasilan Johan itulah, akhirnya membeli rumah seluas 187 m2 ini terbeli. Kehidupan kami mulai berubah menjadi mapan. Dari kamar kos kini sudah punya rumah yang luas dan mobil. ''Pria bule berbeda dengan pria Indonesia. Saat muda mereka tidak punya apa-apa. Kondisinya terbalik dengan pria Indonesia yang saat muda sudah mapan. Sedangkan saat tua hartanya sudah mulai habis. Pria bule yang sudah tua makin kaya. Karena tenaga mereka masih dipakai, bahkan mereka masih dicari oleh perusahaan, '' kata Santi yang pernah bekerja sebagai operator di perusahaan Mukakuning selama 4 tahun.

Santi menyebut suaminya sudah seperti orang Asia. Johan tidak seperti pria bule umumnya. Dia tak minta harus memakai AC di dalam rumah, semua jenis makanan disukainya, kecuali tempe dan tahu. Bahkan kata Santi lagi, jika di rumah tidak ada makanan dan hanya tersedia mie instan, dia mau dibuatkan mie dengan telor.

Beban pekerjaan suami yang berat membuat Santi sangat pengertian ketika suaminya sedang di rumah. Santi selalu membiarkan suaminya melakukan apa saja yang disukai. ''Dia paling suka bertukang.  Contohnya meja yang ada jendela kapal dan meja di taman belakang itu hasil kreasinya, '' kata Santi sambil menunjuk sebuah meja berbahan kayu yang terletak di ruang kerja.

Johan, kata Santi juga suka mengotak-atik motor. Johan adalah anggota Motor Cross Batam (TAC). Setiap hari Minggu, komunitas TAC selalu jalan-jalan ke Nongsa. ''Jika libur, dia pasti ikutan,'' Santi menambahkan. Pokoknya di rumah ini tidak pernah sepi. Dia paling suka berteman. Karena itu pasti ada saja yang datang. Rumah ini juga sudah seperti tempat penitipan motor, juga bengkel, kata Santi sambil menunjuk satu unit motor milik teman Johan yang ditutupi terpal di depan teras. ***


Beradunya Kebiasaan Dua Negara

Awalnya, kata Santi ia terkaget-kaget ketika Johan memanggil almarhum orangtuanya dengan nama saja. Dan ia juga merasa tak sopan ketika harus memanggil nama saja pada ibunya Johan. Akhirnya, Santi meminta Johan mengikuti adab sopan santun di Indonesia. Yaitu memanggil yang lebih tua dengan bapak, ibu, mas atau abang. Johan pun mau menerima itu.

Yang paling lucu, ketika pulang ke Swedia. Johan yang terbiasa melepas sandal ketika masuk rumah, justru ditertawai. Bella juga pernah jadi tontonan ketika makan dengan tangan. Johan juga sudah mulai tidak patuh pada table manner. Tapi ia tetap tidak suka jika ada yang membuang sisa makanan di atas meja.

Memukul kepala, adalah kebiasaan yang langsung diubah Santi. Bagi Johan, memukul kepala adalah fun atau bercanda. Tapi saya katakan bahwa itu kebiasaan yang paling tidak sopan. Dan dia mau mengubahnya. Bella juga saya ajarkan mencium tangan ketika bertemu oarng yang lebih tua.

Dalam mendidik anak pun, Johan lebih membiarkan anaknya berkembang. Ia selalu mengajarkan Bella untuk mencoba semua hal baik itu yang berbahaya sekalipun. Tak heran kalau Bella sudah bisa menyelam, naik motor cross,  roller blade. '' Kami menyebut Bella dengan Jungle Girl. Karena dia sangat pemberani, '' kata Santi.

Terkadang, kata Santi, ia juga protes jika terlalu berbahaya. Johan memang ingin anak laki-laki. Tak heran jika oleh-oleh mainan yang dibawakan untuk Bella selalu mainan untuk anak laki-laki. Mulai dari helikopter, bola hingga pistol. ''Saya kadang ikut mengingatkan untuk membawakan boneka saja,'' ujarnya.

Johan juga tipe pria yang mau membantu pekerjaan rumah. Kata Santi, sewaktu belum punya pembantu rumah tangga, Johan mau menyapu dan mengepel lantai.  Untuk agama, Santi tak pernah memaksa. ''Alhamdullilah, Johan sudah masuk Islam. Tapi dia belum menjalankan semua ibadah, '' kata Santi.
Sedangkan Bella sudah mulai belajar agama Islam di sekolahnya. " Ia sudah bisa baca doa mau makan dan Al Fatihah, '' kata Santi. Mendengar omongannya maminya, Bella langsung mempraktekkan kepandaiannya itu. Dengan lancar, dibacanya surat Al Fatihah.

Santi berharap, Bella akan menjadi gadis yang sopan. Bagaimanapun dia tetap punya darah Jawa. ***



Tidak ada komentar: