beranda

Selasa, 05 Juni 2012

Fatmawati Rangkuti, Istri Alm Kepala Dinas Kehutanan Langkat


Jual Kue sampai Mandikan Jenazah

Kala Allah memanggil suami tercinta, kehidupannya berubah total. Fatmawati tak lagi naik dan turun mobil dinas. Kini mantan istri kepala Dinas Kehutanan Langkat ini pun mengisi hidupnya dengan memandikan mayat dan jual kue.
Aroma wangi kue mulai terasa di halaman rumah Komplek Tiban Raya Blok M No 16, Kamis (25/8) siang. Dari dalam ruang tamu bau adonan kue yang dibakar di oven itu semakin terasa. Bahkan sangat terasa saat berada di dapur yang berukuran 3 x 2 meter. Di ruang masak tersebut terlihat seorang perempuan setengah abad meratakan adonan dengan kayu penggilingan.

Ia lalu mencetak dan menekannya di atas adonan yang sudah pipih tadi. Hasil adonannya berbentuk bulan sabit. Siang itu, Fatwawati, nama ibu itu dibantu Maya, putrinya yang baru saja tiba dari Aceh, membuat kue salju, pesanan tetangganya. Di sampingnya terdapat sebuah oven berukuran kecil di atas kompor berisi adonan kue salju.

Sedang di meja ruang tamu tertata aneka jenis kue kering di dalam toples. Ada nastar keju, kastengels, sagu keju, bangkit susu, bola-bola coklat, kue salju, kue emping, chesstick. Fatmawati juga membuka setoples manisan kolang-kaling dan manisan pepaya. ''Kalau bukan pesanan, saya tidak sempat buat, '' kata Fatmawati, Kamis (25/8) lalu kepada Batam Pos, Kamis (25/8) lalu di rumahnya.

''Beginilah kegiatan saya kalau mau lebaran. Selesai sholat subuh saya mulai membuat kue. Istirahat pas sholat. Nanti kalau ada panggilan memandikan jenazah, saya tinggal dulu. Adonannya saya masukkan ke wadah tertutup. Paling lama dua jam saya sudah kembali ke rumah dan bisa melanjutkan membuat kue tadi, '' kata wanita berusia 50 tahun itu menambahkan.

Fatmawati mengaku sangat suka memandikan jenazah. '' Saya hobi memandikan jenazah, apalagi saya tahu ilmunya, saya ingin semua orang tahu caranya. Karena itu saya tidak berharap imbalan. Jika diberi, saya kembalikan lagi ke ahli warisnya. Tidak pernah saya bawa kerumah untuk makan, '' kata wanita yang pernah kuliah di IAIN ini.

Dirumah kontrakan yang sangat sederhana itu, Fatmawati mengerjakan sendiri semua pesanan kue. Dengan satu oven berukuran kecil dan anaknya yang bungsu, membantu mengemas dalam toples, membuat faktur juga mengantar pesanan. ''Kalau kue salju itu, pagi sampai siang saya buat. Nanti menjelang maghrib, saya beri gula dan dikemas dalam toples. Saya masih menyempatkan membaca Al Quran 2 lembar setiap selesai sholat lima waktu. Alhamdulliah mau kedua kalinya khatam Quran dalam bulan puasa ini, '' kata Fatmawati yang didampingi Zulkifli, adik kandung nomor 11.

Zulkifli, yang juga pemilik rumah makan Salero Bandaro ini sering berkunjung ke rumah kakaknya. ''Dia suka main ke sini. Kalau ada lampu atau bagian rumah yang rusak, adik saya inilah yang membantu memnggantinya. Di Batam, kami berempat bersaudara. Yang paling tua kakak no 4, dia pensiunan Kantor Pajak, yang no 12 H. Zulkarnain. Kalau lebaran kami ngumpul di rumah kakak no 4. Karena dia yang paling tua, '' kata Fatmawati lagi.

Menurut Fatmawati, hiduplah seperti batang ubi. Kala ditaruh tetap hidup. Begitulah filosofi hidup yang diyakini istri dari almarhum Ir Hasan Ritonga, mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Ia pun menanamkan prinsip hidup itu pada keenam anaknya.

''Alhmadulilah, anak-anak menjadi mandiri. Mereka bahkan bisa mencari penghasilan sendiri di sela-sela kuliah. Seperti Maya, anak kelima saya ini jualan buku di kampusnya di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), perguruan tinggi negeri di Banda Aceh. Dia menjual buku murah dengan keuntungan Rp8000/buku. Si bungsu Putri, juga mulai belajar mengelola uang. Dia kan sering dapat sedekah, biasanya dikasih saat mengantarkan pesanan kue. Sebagian uangnya untuk bayar LKS (lembar kegiatan siswa),'' cerita Fatmawati.

Fatmawati pun mengingat saat-saat terakhir ketika sang suami meninggalkan dirinya bersama 6 anak. Delapan tahun lalu sekitar tahun 2003, seusai operasi usus buntu (yang dalam bahasa medisnya disebut Appendicitis), suaminya langsung dirawat di ruang ICU. Esok harinya, suaminya sudah meninggal dunia. ''Suami saya pernah sakit jantung. Jadi ini penyebabnya,'' katanya sambil matanya berkaca-kaca.

Sejak itulah, Fatmawati harus tetap menghidupi anak-anaknya. Yang sulung, kata Fatmawati masih semester tiga, ada yang semester dua, SMA, SMP, SD juga si bungsu yang masih berumur 4 tahun. Satu per satu harta peninggalan suami dijual. Angkot menjadi harta pertama yang dijual untuk keperluan kuliah anaknya di Bandung juga di Sibolga. Kemudian menyusul kebun sawit. Kata Fatmawati, ia butuh uang Rp1 juta untuk mengirim biaya kuliah setiap bulannya.

''Anak-anak khawatir terjadi sesuatu dengan saya. Karena saya sendirian di rumah. Mereka takut saya jatuh atau kenapa-kenapa. Apalagi sejak ditinggal suami, saya stres, khawatir kalo anak-anak tidak bisa kuliah lagi karena minim biaya. Makanya saya diajak tinggal di Batam. Kebetulan dua anak perempuan saya bekerja di Batam, '' cerita wanita yang sering dipanggil menjadi MC.

Fatmawati pun mulai membuat kue, menjual baju, yang semuanya untuk menghasilkan uang dan mengisi hari-harinya. ''Saya berusaha menghasilkan uang dengan cara di rumah. Hobi lama membuat kue mulai saya lakukan. Melihat-lihat resep di toko buku atau mencicipi kue tetangga menjadi cara Fatmawati belajar membuat kue, '' katanya.

Rahmawati pun aktif di pengajian. Ia pun kerap diminta menjadi penceramah agama. Dari perkumpulan ibu-ibu pengajian ini juga Fatmawati menawarkan baju juga tas. ''Biasanya mereka yang datang ke rumah. Kalau ke mana-mana saya sendirian saja, pakai motor. Dulu waktu masih ada bapak, ke mana-mana diantar supir. Pokoknya kaki ini ngak jejak tanah,'' kata Fatmawati mengistilahkan sepatunya bersih dari kotoran.

''Prinsipnya saya harus menamatkan anak yang pertama dulu. Nanti yang sudah selesai kuliah itu, akan bekerja dan dia yang akan membantu membiayai adiknya. Begitu seterusnya. Sampai yang bungsu ini. Sekarang giliran Novi, anak saya yang nomor 3. Setiap bulan dia kasih saya uang Rp 3-4 juta untuk bantu biaya sekolah 3 adiknya, bayar listrik, air dan kontrakkan rumah,'' kata Fatmawati yang juga bergantung pada uang pensiun suaminya yang nilainya sebesar Rp1 juta.

Kini tiga dari enam anaknya sudah bertitel dan bekerja. Dicki, anak sulungnya sudah menjadi sarjana hukum dan bekerja di Aceh. Novi, putri keduanya, Sarjana Ekonomi sekarang bekerja di Nippon Steel di Tanjunguncang Batam. Serta putri ketiganya sarjana Psikolog, dan sekarang di Sabang ikut suaminya, putra keempatnya masih kuliah jurusan perbankan di Politeknik Universitas Sumatera Utara, Maya, putri kelimanya sedang menyelesaikan skripsi di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan si bungsu, Putri Olga sudah duduk di kelas 3 SMP. ***



Saya akan Perjuangkan Anak-anak Ini

''Waktu itu saya bilang di depan jenazah suami, kalau saya tidak akan menikah lagi dan saya akan perjuangkan anak-anak ini,'' kata Fatmawati mengenang saat-saat terakhir melihat suaminya.
Fatmawati mengaku masa-masa itu adalah paling berat yang harus dihadapi. Namun ia bisa melampauinya. Dia hanya menanamkan pengertian pada anak-anak bahwa belajarlah yang baik. Pahami pelajaran, bukan hafal. ''Alhamdullilah, anak-anak saya cum laude. Bahkan menerima beasiswa. Memang mereka belajar harus ditemani, jika tidak di temani biasanya main, '' kata Fatmawati lagi.

Mereka bahkan sangat hafal nasihat Fatmawati ketika akan menghadapi ujian.  Yaitu berdoa, jangan terburu-buru keluar lokal dan terakhir teliti ulang soalnya. Si bungsu bahkan pernah menasihati kakaknya melalui handpone. ''Waktu itu kakaknya di Medan mohon doa karena akan ujian melalui sms. Saya sedang ke pasar, hape saya tinggal di rumah. Dan si bungsu lah yang menjawab. Kakaknya mengira saya yang membalas. Saya sampai tertawa geli mengingatnya, '' kata wanita sambil tertawa. (agn)






Tidak ada komentar: