beranda

Senin, 11 Juni 2012

Anak-anak Pekerja di Batam

Untuk Bantu-bantu Mamak Beli Ikan

Tak semua anak bisa menikmati masa kecil yang riang. Banyak anak yang harus bekerja sejak kecil, mulai dari bekerja di jalanan atau jadi pelayan warung.

Hari masih pagi, di depan pintu pagar sekolah di kawasan Legenda Malaka, Nia duduk melepas lelah. Kebetulan di depan pintu pagar itu sudah disemen dan pepohonan rindang, Nia langsung duduk selonjoran. Di seberang jalan, karung kumalnya dibiarkan teronggok di samping tempat sampah. Karung itu masih kempes, belum ada satupun barang bekas yang didapat gadis berusia 11 tahun ini.

Tak sampai lima belas menit, Nia sudah berpindah tempat. Ia sudah berbaring tidur di samping karungnya. Di tempat itu ada sebuah tembok setinggi setengah meter dan memanjang dua meteran. Nia seperti lelap dalam tertidur walau tubuhnya terkena sinar matahari.

Nia sebenar baru saja tinggal di Batam. Kurang beberapa bulan lalu dia  tiba dari kampungnya di Nusa Tenggara Barat (NTB). Sejak kecil Nia terpisah dari orangtuanya. Ia diasuh tantenya NTB. Dan saat kelas V SD, Nia diantar ke Batam berkumpul dengan orangtuanya. Saat ini Nia tinggal di ruli Kampung Air Batam Kota.

Nah, Rabu sore lalu (16/6) di perumahan Legenda Malaka, Nia bersama temannya Nopan merapikan karung yang berisi penuh botol-botol plastik. Karung mereka letakkan di atas kereta sorong. Sebelum pulang, ia masih menyisir jalan-jalan di depan perumahan Hang Lekir. Sebotol bekas air mineral didapatnya lagi dari bak sampah. Wajahnya riang. Giginya yang putih terlihat jelas. Sesekali ia menyeka keringat yang keluar dari balik kerudungnya yang sudah tak lagi berwarna merah muda.

Dari sebereng komplek, suara Azan Magrib pun berkumandang dari masjid Quba. Nia pun lalu mendorong kereta sorongnya beriringan dengan Nopan. Mereka berjalan meyusuri jalan depan SMPN 12 terus masuk perumahan Oma. Ruli Kampung Air memang pas di belakang perumahan itu.  Nia dan Novan tinggal bertetangga. Novan, masih sekolah dasar kelas VI di salah satu pesantren di daerah Punggur. Sedangkan Nia tidak lagi sekolah. '' Tahun ini Nia mau sekolah lagi, '' katanya sambil malu-malu Batam Pos, Rabu sore.

Novan mengaku memulung setelah pulang sekolah. ''Untuk bantu-bantu mamak beli ikan dan sayur. Karena bapak tak kerja. Sepertinya saya dengar kemarin, bapak baru akan kerja, '' kata bocah berkulit kuning  langsat ini. Sama halnya dengan Nia, dia juga melakukan pekerjaan memulung untuk membantu mamaknya. ''Saya tak tau harga botol-botol ini, mamak yang jual. Saya hanya mencari botol-botol saja,'' kata gadis berperawakan kurus itu.

Nia mengaku, barang-barang yang didapatkan itu dikumpulkan di rumahnya. Mamaknya yang menjualkan semuanya. Agar dapat banyak, Nia sudah mulai keluar rumah sejak pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Makanya,  saat ia terlelah Nia pun tertidur karena masih mengantuk dan capek.

Tak hanya Nia dan Nopan yang bekerja, saat usianya masih belia. Ada juga Boy. Bocah berumur 11 tahun ini tak lagi melanjutkan sekolah di kampungnya. Ia memilih ikut omnya berjualan nasi di warung tenda. Sudah empat bulan ini Boy, membantu pria yang dipanggilnya om ini melayani pembeli. Boy. Tugasnya menyiapkan minuman dan air kobokan untuk pembeli.

Sesekali ia mengangkat teko plastik besar berisi air. Kemudian ia menuangkan air minum dari panci ke dalam teko lain dengan dua gelas plastik. Boy sepertinya sudah terlatih bekerja. Ia tahu cara kerja yang cepat dan praktis. Buktinya, ia tak mengambil air dengan satu gelas. Ia melakukannya dengan dua gelas sekaligus. Hasilnya, teko itu pun cepat terisi air.

Warung tenda di pinggir jalan depan ruko Puri Legenda Malaka ini menjadi tempat Boy bekerja. ''Tak ada biaya lagi. Makanya saya tak sekolah, '' kata Boy. Kedua orangtuanya hanya bekerja di ladang. Boy masih memiliki 2 adik. Boy adalah anak kedua dari empat bersaudara. Boy mengaku setiap bulannya mengirimkan uang sebesar Rp300 ribu ke Batu Sangkar, Sumatera Barat tempat orangtua dan adiknya berada.

'' Tambo nasi ciek, '' kata omnya membuyarkan lamunan Boy. Boy langsung bergegas mengambil nasi dan diletakkan di atas piring. Dengan sigap ia meletakkan sepiring nasi putih itu ke hadapan pembeli.  Boy kembali duduk. Tak lama Boy kembali dikagetkan dengan perintah mengambilkan kain lap karena segelas air tumpah di atas meja.

Ia pun segera mengambil kain lap dan membersihkan air yang tumpah tadi. Tak ada rasa lelah, Boy selalu tampak siap ketika omnya memerintahkan sesuatu. Bahkan tanpa disuruh pun, Boy langsung mengangkat piring-piring kotor di atas meja dan membawa ke belakang. Ia juga langsung mengganti air kobokan yang sudah kotor dengan air yang masih bersih.

Begitulah Boy, bocah laki-laki yang harus bekerja di usia dini. Ia sudah bekerja sejak siang hingga malam hari. Boy hidup terpisah dengan ayah ibunya hanya karena ingin membantu orangtuanya itu. Ketika ditanya adakah rasa rindu dengan orangtuanya, Boy hanya tersenyum malu. Boy mengaku tak ingin sekolah lagi. Ia merasa sudah sangat cukup pernah sekolah hingga kelas V Sekolah Dasar.

Ada juga Doni. Ia pun putus sekolah sejak kelas 4 SD. Ia terpaksa berhenti sekolah untuk membantu ibunya berjualan koran. Dua tahun sudah, ayahnya pergi tanpa kabar berita meninggalkan Doni, ibunya juga dua adikya. Ibunya, Rosnah harus berjuang menghidupi dia dan Dodi (kelas 3 SD) dan Restu (kelas2 SD). Ayahnya juga meninggalkan hutang sebesar Rp 20 juta. ''Beban hidup yang berat sempat membuat saya gelap mata. Saya pernah menceburkan diri ke laut. Saya ingin mati. Tapi tetangga menyelamatkan saya dan mengingatkan nasib tiga anak saya. Saya pun sadar. Kemudian saya bangkit,'' kenang wanita berkulit hitam ini.

Doni tinggal bersama ibu dan adiknya di salah satu rumah panggung di Tanjunguma. Setiap hari Doni berkeliling di kawasan Jodoh juga lampu merah di Penuin. Ia menjual koran untuk membantu ibunya. Rata-rata Doni bisa membawa uang Rp 20 ribu perhari. ''Uang itulah yang dipakai untuk kebutuhan rumah, katanya bantu mamak beli ikan, '' kata Rosnah.

Beberapa minggu ini, kata Rosnah, ia juga berjualan koran. Karena ia masih harus membayarkan hutang ke renternir yang bunganya 20 persen. Uang pinjaman itu sudah ia gunakan untuk membeli 2 unit play stasion seken yang harganya Rp3 juta. Dari penyewaan play stasion itulah, Rosnah berharap perekonomiannya sedikit membaik. Namun tiga bulan lalu, play stasion itu dicuri orang saat ia tidur.
''Sampai sekarang saya belum bisa membelinya lagi. Padahal dari play stasion itu, saya berharap dapat menjamin sekolah kedua adikknya. Tapi sekarang saya ragu. Setiap hari adikknya ini selalu bergantian memakai sepatu ketika ke sekolah. Saat yang satu datang, maka abangnya bisa berangkat sekolah, '' kata Rosnah lagi.

Rosnah berharap Doni juga bisa sekolah lagi. Ia ingin anaknya bisa melanjutkan sekolah dan tidak ada yang putus sekolah. '' Sering saya larang adiknya ikut berjualan koran. Kasihan pasti sudah capek dari sekolah. Dulu mereka saya tugaskan menjaga penyewaan play stasion. Kini, mereka menjaga warung kecil-kecilan di rumah,'' kata wanita asli kelahiran Tanjunguma. ***



Anak-anak Ini  Rentan
Mengalami Masalah Prilaku

Dari laporan International Labour Organization, ada lebih dari 3 juta anak di Indonesia yang menjadi pekerja. Mereka tersebar pada beberapa sektor pekerjaan.

Jumlah kemiskinan yang makin meningkat, membuat keluarga yang tak mampu membiayai kebutuhan keluarga juga, termasuk anak-anak mereka makin bertambah. Akibatnya, anak-anak tersebut, tidak lagi meneruskan pendidikannya dan malahan terpaksa bekerja demi menyokong perekonomian keluarga atau pun untuk kebutuhannya sendiri.

Menurut Psikolog RS Awal Bros, Wiwit MPsi, Psi, anak-anak yang memiliki pekerjaan merupakan hal yang baik jika pekerjaan itu sesuai dengan usia dan kemampuan mereka, tidak menyita waktu anak untuk belajar, tidak menimbulkan resiko, serta mendapatkan bimbingan dari orang tua.

Namun bagi anak-anak yang bekerja sendirian, tanpa bimbingan orang tua, mereka akan kehilangan sumber dukungan dan informasi mengenai aturan dan perilaku yang baik untuk dilakukan. Menurut Wiwit, anak-anak seperti ini rentan mengalami masalah dalam perilaku. Misalnya mulai merokok dan perilakunya tidak teratur. Anak-anak yang bekerja di jalan juga rentan mengalami pemberian label yang negatif, misalnya anak yang bekerja di jalanan adalah anak yang nakal, kotor, dan lain-lain.

Anak-anak yang bekerja biasanya menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan anak-anak lain yang sekolah. Untuk membantu anak-anak agar mereka memiliki kemampuan beradaptasi dengan tantangan kehidupannya, hal yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah memberikan bimbingan kepada anak.

Kata Wiwit, pantau apa yang anak kerjakan secara konsisten dan diskusikan dengan hangat mengenai apa yang mereka kerjakan serta masalah yang mereka hadapi. Komunitas atau masyarakat juga bisa membantu anak-anak tersebut dengan memberikan kesempatan anak-anak untuk kembali belajar.
Misalnya dengan memberikan beasiswa kepada anak-anak berprestasi yang kurang mampu, memberikan dukungan sosial dengan pelatihan keterampilan bagi anak-anak tersebut (contohnya keterampilan sosial, memecahkan masalah, membuat karya seni), mendirikan rumah pintar yang bisa dikunjungi mereka untuk belajar, membuat sekolah gratis bagi anak-anak yang kurang mampu, dan lain-lain.

''Di sana anak-anak selain bisa belajar ilmu pengetahuan, juga bisa belajar bersosialisasi dengan teman-temannya. Dukungan yang menyeluruh dari orang tua dan masyarakat mudah-mudahan bisa membantu anak-anak Indonesia yang kurang beruntung, '' kata Wiwit lagi. (agn)



Tidak ada komentar: