Masih Gemulai di Usia Senja
Disaat yang lain pergi ke alun-alun Engku Putri di Batam Center Batam merayakan Tahun Baru. Wati dan Tiwi justru sedang dirias. Dua gadis belia ini bahkan sudah mengenakan kebaya melayu. Di rumah Nur Cahaya, pimpinan grup joget Dangkong di Tanjung Uma itu mereka berkumpul. Wati dan Tiwi dipanggil
untuk meramaikan acara pernikahan di Bukit Timun, Tanjung Uma.
Jarum jam menunjukkan pukul 19.00 WIB. Nur Cahaya, wanita berusia 50 tahun ini baru selesai
didandani. Rambutnya sudah disanggul. Bibirnya juga sudah dipoles lipstik merah. Ia adalah penari
tua joget Dangkong.
Kini, Mak Latah, begitu ia biasa dipanggil hanya bernyanyi. Ia bisa menyanyikan 10 lagu Melayu 'nonstop' mengiringi joget Dangkong. Dulu, ia primadona. Jogetnya disukai penonton. Namun dengan bertambahnya umur, posisinya diganti yang muda-muda.Wati, Tiwi , Juli, Dewi dan Rosma meneruskannya. ''Sudah menjadi tradisi, yang muda jadi penari, yang tua main musik dan menyanyi,'' kata wanita yang sanggup menari tanpa henti ini.
Peralatan sudah ada, pemain musik dan penari juga sudah lengkap. Merekapun bergegas menuju mobil carteran. Mobil carry yang sudah sejak tadi menunggu di depan pasar Tanjung Uma. Tambur, kerincing, rebana juga gong dibawa masing-masing oleh pemainya. Mobil pun bergerak menuju Bukit Timun.
Tepat pukul 20.00 WIB, joget Dangkong pimpinang Nur Cahaya ini tampil di acara pernikahan. Mak Latah langsung menyanyi Dendang Sayang juga Sekapur Sirih. Disusul lagu Cek Siti, dan lagu lainnya. Terakhir Mak Latah menyanyikan lagu Gelang Sipatugelang.
Selama tiga jam itulah Wati dan teman-teman berjoget Dangkong. Diiringi musik yang dimainkan Kumar (tambor), Lama (kerincing), Husen (rebana), Han (gong) dan pak Toyok yang sudah berusia 60 tahun (biola). Nur memang belum punya peralatan musik sendiri, ia masih menyewa.
Tepat pukul 23.00 WIB, Joget Dangkong pun usai. Sebelum pulang, uang sebesar Rp 1 juta diterima Nur. Uang itu kemudian dibagi-bagikan setelah disisihkan untuk membayar sewa alat musik. Rata-rata lima puluh ribu diterima para pemain. ''Kami senang saja, walau tak dapat uang banyak. Menari saja sudah membuat kami puas. Rasanya tak mau berhenti kalau sudah dengar musiknya,'' kata Dewi.
Rasa memiliki yang begitu kuat terhadap kesenian ini berhasil ditanamkan Nur Cahaya. Ia berhasil mengajak anak-anak muda Tanjung Uma untuk melestarikan budaya asli Melayu. Nur berjuang sendiri mengenalkan budaya ini pada anak-anaknya juga remaja di daerah tersebut.
''Saya tidak mengajak. Melainkan saya mencontohkan. Mereka biasanya melihat dulu. Biarkan mereka tergerak sendiri untuk menari,''kata wanita yang tiga anaknya menurunkan talentanya. ***
Cari Saweran di Pulau
Cate, setokok dan pulau-pulau di kawasan Jembatan Barelang adalah langganan manggung grup Joget Dangkong Nur Cahaya. Biasanya tiga hari, Nur ada di Pulau. Semua biaya ditanggung pemilik acara, mulai dari sewa pompong, makan, sewa tempat tinggal juga biaya tampil.
Hari pertama, adalah hari wajib bagi Nur dan grup jogetnya. Karena ia sudah dibayar sejumlah uang untuk tampil selama 3 jam. Sedangkan di hari kedua dan ketiga, adalah hari mencari saweran (uang tambahan). ''Biasanya pemilik acara membolehkan kami mencari saweran dari penonton,''kata Nur lagi. Tidak seperti penampilan di hari pertama. Mereka hanya duduk di depan panggung, Wati dan enam penari lain menunggu penonton. Jika sudah dibayar, penonton berhak memilih salah satu dari mereka. ''Yang dipilih, mereka yang lincah,''kata Nur. Wati mengaku pernah menerima sawuran Rp 100 ribu selama dua hari itu. Tapi kadang ia hanya terima Rp 10 ribu saja.
Nur mengaku sangat bersemangat setiap kali tampil di pulau. Ia melihat penonton di sana sangat senang dengan hiburan ini. ''Bahkan mereka kerap protes jika penarinya tak pintar menari,'' kata Ibu dari 8 anak ini.
Ia rela berangkat pagi hari dari rumah menggunakan pompong menyeberang lautan. Ombak pun tak dihiraukan lagi.
Sepuluh tahun juga ia menekuni joget Dangkong. Talenta ini diturunkan oleh ibunya. Keasyikannya
pada tarian ini membuat Nur putus sekolah. Ia tak sempat menuntaskan sekolah dasar. Ibunya kerapkali marah. Namun akhirnya ibunya menyerah dan membiarkan Nur terjun menekuni dunia tarian ini. Dari hasil menari, Nur bisa membeli 12 hektar tanah di Guntung Riau.
Sejak merantau di Batam, Nur tak setenar di Moro. Agar keahliannya tak hilang. Nur berupaya mengenal joget Dangkong. Caranya, dia ajarkan joget Dangkong ke anak-anak di Tanjung Uma tanpa dibayar. Hasilnya, kini ada Wati, Tiwi, Juli. Nur ternyata tak hanya piawai joget Dangkong, dia juga mahir menari Cha-cha juga ago-ago. Walau usianya lanjut, tubuhnya masih gemulai. Ia bahkan bisa menggoyang bahunya dan meliu-liukkan pinggangnya.
Keinginan Nur hingga kini, adalah joget ini makin dikenal dan disukai anak-anak muda. Ia paling senang ketika dipanggil mengisi acara. Ia ingin mengajak semua penarinya. Namun karena keterbatasan pakaian, yang diajak tampil sejumlah pakaian yang ada. ''Kadang kami pengen ikut, tapi karena baju hanya 5 sedangkan kami bertujuh, makanya kami tak jadi ikut,''cerita Wati juga yang bekerja di DC Mall.
Wati yang sudah mendalami joget Dangkong selama 1 tahun mengaku akan terus menari. Ia merasakan tarian ini aman dari godaan tangan-tangan jahil. Karena yang senang tarian ini kebanyakan orangtua dan ibu-ibu. Jadi lebih aman saja. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar